Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2018

LEGENDA DANAU DI ATAS DANAU DI BAWAH

Legenda Danau Atas dan Danau Bawah

Oleh: Ariyanto.RM
Para Sahabat mungkin pernah mendengar nama Danau di Atas dan Danau Di Bawah, yaitu dua buah danau yang berdekatan (kembar) yang terletak di Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Sumatera Barat. Kini kedua Danau ini menjadi salah satu objek wisata di Sumatera Barat. Danau ini sangat unik. Bila kita dari Padang menuju Alahan Panjang kita akan diantara kedua danau tersebut. Bila kita melihat ke sebelah Kanan kita akan melihat Danau Di Atas dan sebelah kiri kita adalah Danau di Bawah. Tentu akan bisa terlihat lebih jelas dan akan bisa menikmati kalau kita naik ke atas, yang merupakan pusat objek wisatanya. Sangking uniknya Penulis akhirnya bertanya-tanya dan menyampaikan ke kaguman kepada orang-orang, masyarakat sekitar. Di sinilah muncul cerita-cerita yang menurut penulis menarik untuk diceritakan. Jadi Danau Di Atas dan Danau di Bawah mempunyai sebuah legenda. Dari cerita yang penulis dengar akhirnya penulis menyusun sebagai berikut:

Di zaman dahulu kala ada seorang niniak (Orang yang Sudah Tua) yang bernama Niniak Gadang Bahan yang kerjanya adalah Maarik kayu (membuat papan/tonggak). Niniak ini sangat unik, badannya besar tinggi dan bahannya sebesar Nyiru. Bahan yang dimaksud di sini adalah beliungnya/kampak (alat untuk menebang kayu dan membuat papan). Nyiru adalah tempat menempis beras yang lebarnya kira-kira 50cmx80cm. Setiap berangkat ke hutan niniak ini tidak lupa membawa beliungnya. Niniak ini makannya hanya sekali seminggu, tapi sekali makan 1 gantang (6 kaleng susu indomil). Untuk mendapatkan kayu/papan yang bagus dia harus naik gunung/hutan. Setelah beberapa hari dalam hutan dia akan pulang dengan membawa beberapa helai papan/tonggak yang telah jadi dan membawa ke pasar untuk di jual. Dari hasil penjualan papan/tonggak inilah dia menghidupkan keluarganya.

Pada suatu hari ketika niniak ini berangkat ke hutan, di tengah hutan tempat dia bisa lewat tertutup. Niniak ini kaget, kenapa ada makhluk yang menghambat jalannya. Makhluk ini sangat besar sehingga menutup pemandangannya. Niniak berusaha untuk mengusirnya tapi makhluk ini tidak bergeming, malah balik menyerang. Ternyata makhluk ini adalah seekor ular naga yang besar. Tidak bisa disangkal lagi darah pituah niniak moyang langsung mengalir ke seluruh tubuh niniak, katanya: “Lawan tidak di cari, kalau bertemu pantang mengelak”. Terjadilah perkelahian antara naga dan niniak gadang bahan. Naga melakukan penyerangan, Niniak Gadang Bahan tidak tinggal diam. Seluruh kemampuan yang dimiliki oleh niniak gadang Bahan di keluarkan. Beliung yang berada di tangan Niniak gadang Bahan bereaksi, dan memang Niniak Gadang Bahan sangat ahli memainkannya, tentu jurus-jurus silat yang sudah mendarah mendaging oleh Niniak Gadang Bahan tak lupa dikeluarkan. Akhirnya Naga betekuk lutut dan menyerah. Naga kehabisan darah karena sabetan beliaung Niniak Gadang Bahan. Kepala Naga Nyaris putus, darah mengalir dengan deras. Angku Niniak Gadang Bahan menarik naga itu dan melempar dengan sekuat tenaga dan sampai ke sebuah lembah.

Setelah berlangsung beberapa lama Angku Niniak Gadang Bahan mendatangi lembah tempat naga dilemparkan. Ternyata Niniak Gadang Bahan kaget, naga tersebut ternyata tidak mati, dia malah melambangkan badannya dengan posisi membentuk angka delapan, darah dari kepala ular tetap mengalir sehingga memerahkan daerah tersebut. Sehingga daerah ini menjadi tempat kunjungan yang manarik bagi Angku, dan juga orang-orang yang ada di sekitar itu. Tapi apa yang terjadi, lama-lama badan ular ini mulai tertimbun oleh tanah, dan diantara dua lingkaran ular itu tergenanglah air yang membentuk dua danau kecil. Lama kelamaan danau ini terus semakin besar, sehingga terbentuklah dua bawah Danau yang besar dan indah.

Menurut cerita yang diterima itupulalah terbentuk dua nama daerah. Pertama adalah Lembah Gumanti, yang berasal dari kata “lembah nago nan mati” yaitu sekarang menjadi nama Kecamatan dari tempat kedua Danau ini. Kemudian ada juga yang mengartikan “Lembah Nago nan Sakti”. Yang kedua adalah sebuah daerah yang bernama “Aia Sirah” (Air Merah). Di daerah ini terkenal dengan airnya yang merah. Konon ceritanya penyebab dari air di daerah itu merah adalah darah yang terus keluar dari kepala naga, karena sampai sekarang Naga tersebut masih hidup dan masih mengeluarkan darah, ceritanya. Selanjutnya daerah itu diberi nama Aia Sirah (Air Merah). Ditambah lagi ceritanya antara Angku Niniak Gadang Bahan dan Naga pernah terjadi dialog, sebuah perjanjian. Kata naga satu kali setahun harus ada yang menjadi tumbal, tapi saya tidak akan mengambil dari anak cucumu. Dan ini menjadi kebenaran oleh penduduk setempat, bila dalam satu waktu tertentu bila ada yang tenggelam di Danau ini, mereka kembali mengangkat legenda ini. Dan memang yang merasa anak cucu keturunan Angku Gadang Bahan merasa yakin bila mengharungi danau ini.
Terlepas dari benar atau salah cerita ini, yang jelas orang-orang tua yang tinggal di wilayah Danau Di Atas dan Danau Dibawah sangat memahami cerita ini. Makanya cerita seperti ini dikelompokkan ke dalam Legenda, Yaitu cerita/dongeng terciptanya/penamaan sebuah negeri.

HUBUNGAN NATAL MANDAILING DAN MINANGKABAU

Hubungan Natal Mandailing Dan Minangkabau
Oleh=Sidi Abdullah
Kerajaan Natal
Berdirilah Kerajaan besar di bibir pantai Pulau Sumatera yang dipimpin oleh Raja Tuanku Besar Datuk Imam. Beliau adalah seorang pangeran dari Kerajaan yang bernama Ujung Gading yang sekarang adalah Kabupaten Pasaman propinsi Sumatera Barat. Pengembaraan Datuk Imam meninggalkan Kerajaan pimpinannya dengan maksud mencari dan menemukan daerah baru telah berhasil mendirikan sebuah Kerajaan besar dengan wilayah yang cukup luas di pesisir Barat Sumatera yang diberi nama “Ranah Nan Data”. Kelak nama ini akan berubah menjadi “Ranah Nata”, dan karena kedatangan para saudagar-saudagar asing akhirnya berganti menjadi Natal. Pengembaraan ini adalah tawaran dari pangeran Indra Sutan, seorang pangeran muda dari Kerajaan Pagaruyung (di Sumatera Barat) yang juga tengah mencari daerah baru untuk dijadikan Kerajaan.

Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam telah menjadi sahabat karib dalam pengembaraan dan pencarian mereka akan daerah baru tersebut hingga akhirnya mereka menemukan dataran luas yang cocok untuk dijadikan sebuah wilayah kerajaan. Setelah menemukan dan mulai mendirikan sebuah perkampungan, Pangeran Indra Sutan terus menyusuri wilayah sekitarnya ke arah hulu sungai hingga wilayah Kerajaan menjadi bertambah luas. Kemudian Pangeran Indra Sutan berniat untuk mendirikan lagi sebuah kerajaan baru di wilayah hulu Kerajaan Natal yang diberi nama Kerajaan Lingga Bayu. Sejak mendirikan dan memimpin Kerajaan Lingga Bayu, Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam membagi wilayah yang telah mereka kuasai itu menjadi dua bagian untuk dipimpin oleh masing-masing mereka sebagai Raja-nya.

Luas wilayah kekuasaan Kerajaan Natal pada mulanya meliputi 304.010 ha. Di sebelah timur berbatasan dengan Muara Sipongi, Hutanopan (Kotanopan) dan Panyabungan. Sebelah barat berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pasaman (Sumatera Barat). Dan sebelah utara berbatasan dengan Sibolga (sekarang Kotamadya Sibolga).

Setelah Kerajaan Ranah Nata di ‘mekarkan’ menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Natal dan Kerajaan Lingga Bayu, dan juga karena kehadiran Belanda yang terus menciutkan wilayah kerajaan Natal. Disebutkan bahwa wilayah Kerajaan Natal bersepadan di sebelah timur dengan Muaro (muara) Sungai Batang Natal hingga ke Muaro Selayan (sekarang di Kelurahan Tapus, dan sekarang telah menjadi bagian dari wilayah kecamatan Lingga Bayu), sebelah utara berbatasan dengan Batang Panggautan (sebuah desa yg masih termasuk dalam kecamatan Natal sekarang ini, berjarak sekitar tiga kilometer dari Natal), sebelah selatan berbatasan dengan Batang Sinunukan (sekarang di Kecamatan Sinunukan), sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia di pinggir pantai barat Sumatera yang termasuk dalam propinsi Sumatera Utara.

Tuanku Besar Datuk Imam menetap dan memimpin Kerajaan Natal hingga akhir hayatnya. Ia mangkat di Natal. Belasan keturunannya meneruskan serta memimpin Kerajaan Natal hingga pada tahun 1947 saat terbentuknya Dewan Negeri yang menghapuskan daerah “Swatantra” atau daerah-daerah yang mengatur dirinya sendiri.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Natal yang telah menjadi pusat perdagangan di pesisir barat Sumatera Utara yang telah disinggahi oleh saudagar-saudagar dari Cina, Arab, Portugis, India, kolonial Belanda, Aceh, Makasar, Jawa dan sebagainya. Perdagangan itu pada umumnya dilakukan dengan sistim barter (tukar-menukar). Hasil bumi penduduk ditukar dengan barang impor yang dibawa para saudagar seperti besi, kain, candu dan lainnya.
Antara Raja-Raja di Kerajaan Natal dengan pihak Kolonial sering berakhir dengan bentrokan besar, sikap pemerintah kolonial yang tidak selalu bersahabat menjadi penyabab utama, yang pada akhirnya Raja terguling ataupun diasingkan ke daerah lain dan tidak dapat lagi kembali ke Kerajaannya, bahkan juga banyak yang tewas dalam pembuangannya.

Pada tahun 1841, pemerintah kolonial Belanda menciptakan Residensi Tapanuli Selatan dengan ibukotanya Sibolga. Ketika itu belum ditetapkan apakah Natal termasuk dalam Residensi Tapanuli Selatan atau Residensi Padang. Pada tahun 1843 barulah diputuskan bahwa Natal masuk dalam Residensi Tapanuli Selatan oleh Gubernur Hindia Belanda yang berkedudukan di Padang, Sumatera Barat.

Dalam posisinya sebagai pusat jalur perdagangan, adat budaya Kerajaan Natal sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh adat budaya asing. Hal itu dapat terlihat dari beberapa jenis tarian Natal yang dipengaruhi oleh budaya Minang, Melayu dan Mandailing. Pakaian penarinya pun mendapat pengaruh dari budaya Cina, dan Portugis. Namun dalam prinsip keyakinan, masyarakat Natal mayoritas memeluk Islam.

Nama 13 Raja-Raja yang memerintah Kerajaan Natal:
Tuanku Besar Datuk Imam; Tuanku Besar Datuk Imam mempunyai empat orang saudara perempuan. Dua orang di antaranya bernama Puti Ratiah dan Puti Rani (Puti artinya adalah putri, panggilan untuk putri keluarga bangsawan).
Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo; adalah putra dari Puti Ratiah yang diangkat menjadi Tuanku Besar (Raja) Natal ke-2 menggantikan pamannya, Tuanku Besar Datuk Imam. Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo menikah dengan Puti Baruaci, cucu kemenakan dari Tuanku Besar Datuk Bandaro, Raja ke-2 dari Kerajaan Lingga Bayu, yang juga kemenakan Tuanku Besar Rajo Putih. Di masa pemerintahan Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo, pusat kerajaan Natal dipindahkan ke Kampung Bukit yang letaknya jauh dari pantai.
Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo; adalah saudara Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo.
Tuanku Besar Tama Musi, bergelar Tuanku Nan Kusuik; adalah saudara sepupu dari Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo.
Tuanku Besar Sutan Sailan; Puti Rani mempunyai putri bernama Puti Tuo, Puti Tuo mempunyai tiga orang anak, Puti Tune, Puti Rumbuk dan Sutan Sailan, Puti Tune mempunyai putri bernama Puti Nan Kalam.
Tuanku Besar Sutan Gembok; adalah anak dari Puti Nan Kalam atau cucu Puti Tune. Jadi Tuanku Besar Sutan Gembok adalah keturunan ke-5 dari Tuanku Besar Datuk Imam. Karena Tuanku Besar Sutan Gembok lebih tertarik pada masalah keagamaan, ia menduduki tahta Kerajaan hanya selama enam bulan untuk kemudian diserahkan kepada adiknya.
Tuanku Besar Si Intan; adalah adik dari Tuanku Besar Sutan Gembok. Pada masa pemerintahan Tuanku Si Intan inilah perahu-perahu layar bangsa Portugis mulai singgah di Pelabuhan Natal untuk mencari lada dan emas. Tuanku Besar Si Intan mempunyai dua orang isteri, yaitu Putri Nai Mangatas dan Uci Siti. Putri Nai Mangatas berasal dari kerajaan Pidoli Lombang, sebuah kerajaan di daerah Mandailing. Setelah kawin, namanya diganti menjadi Puti Junjung. Ia melahirkan seorang putra bernama Sutan Mohammad Natal. Sedangkan Uci Siti berasal dari Jambua Aceh. Jambua adalah kelompok masyarakat atau suku tertentu di luar kerabat Diraja yang menempati salah satu kampung di Natal. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang Datuk. Misalnya, Jambua Aceh untuk kelompok suku Aceh dipimpin oleh Datuk Aceh. Jambua Rao dipimpin oleh Datuk Rao. Pada 22 Mei 1823, Tuanku Besar Si Intan mangkat.
Setelah mangkatnya Tuanku Besar Si Intan, putranya Sutan Mohammad Natal ketika itu masih kecil sehingga belum dapat menjalankan pemerintahan. Oleh sebab itu ibunya, Puti Junjung diangkat sebagai wali yang memegang tampuk kekuasaan memerintah Kerajaan Natal. Kemudian Puti Junjung menikah lagi dengan Sutan Salim. Sutan Salim selalu menyusahkan Belanda, sehingga ia tidak disukai pemerintah Belanda. Sutan Salim ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Sutan Salim tidak pernah kembali ke Natal, ia meninggal dalam pembuangan.
Tuanku Besar Sutan Mohammad Natal; adalah putra dari Tuanku Besar Si Intan, pada masa pemerintahan Sutan Mohammad Natal, daerah kekuasaannya diciutkan oleh Belanda yang mulai menancapkan kekuasaannya di wilayah Sumatera, termasuk Minangkabau. Karena Sutan Mohammad Natal sering bentrok dengan Belanda, ia bernasib sama dengan ayah tirinya, dibuang ke Sibolga. Sejak itu, tamatlah riwayat Tuanku-Tuanku Besar di Natal yang bebas dari pengaruh Belanda. Kemudian Belanda membagi kerajaan Natal menjadi tiga daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang Kuria yang diangkat oleh Belanda, ditempatkan di Nata, Singkuang dan Batahan. Kepala kuria yang pertama di Natal bernama Datuk Mohammad Saleh. Ia adalah Datuk suku Minangkabau atau Datuk Jambua Minangkabau.
Tuanku Besar Rajo Hidayat; adalah putra Puti Junjung dengan Sutan Sailan.
Tuanku Besar Mohammad Saleh.
Tuanku Besar Sutan Marah Ahmad; diangkat pemerintah Belanda berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda yang waktu itu berkedudukan di Padang. Pada masa itu daerah kerajaan Natal semakin diciutkan oleh Belanda.
Tuanku Besar Sutan Sridewa; adalah suami Puti Siti Zahara yang masih kemenakan Tuanku Besar Sutan Marah Ahmad. Tuanku Besar Sutan Sridewa adalah Raja Natal yang terakhir di zaman kolonial hingga terbentuklah Dewan Negeri yang menghapuskan daerah Swatantra.
Dari garis keturunan Tuanku Besar Si Intan, kelak lahir dua putra Indonesia yang menjadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bernama Sutan Sjahrir dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Sutan Kabidun, putra Tuanku Besar Si Intan dengan Puti Uci Siti pada waktu perang Padri (1821 – 1837), menikah dengan Puti Loni yang berasal dari Kerajaan kecil Batu Mundam yang berkedudukan di dekat perbatasan Sibolga. Puti Loni adalah putri Raja Pagaran Batu di Batu Mundam. Ketika Tuanku Besar Si Intan masih hidup, Sutan Kabidun memerintah daerah Tabayong sampai ke Batu Mundam. Dari perkawinannya dengan Puti Loni, Sutan Kabidun memperoleh empat anak bernama: Marah Palangai, Marah Darek, Puti Johar Maligan, dan Puti Malelo (Puti Lelo).

Puti Johar Maligan menikah dengan Sutan Sulaiman, mereka memperoleh seorang putri yang bernama Puti Siti Rabi’ah. Puti Siti rabi’ah menikah dengan Mangarajo Sutan yang waktu itu bekerja sebagai Kepala Jaksa di Medan. Mereka dikaruniai tujuh anak. Salah seorang anaknya diberi nama Sutan Sjahrir yang kelak menjadi Perdana Menteri indonesia pertama.

Puti Malelo (Lelo) adalah putri bungsu Sutan Kabidun yang menikah dengan Sutan Mohammad Zahab, saudara sepupunya sendiri. Puti Lelo dan Sutan Mohammad dikaruniai beberapa orang putra dan putri. Salah seorang cucu mereka diberi nama Sutan Takdir Alisjahbana yang dikenal sebagai tokoh Sumpah Pemuda, tokoh Pujangga Baru, Novelis dan Ahli Filsafat.***

Kamis, 19 Juli 2018

BUKTI MINANGKABAU

BUKTI MINANGKABAU

Minangkabau adalah salah satu daerah yang banyak menyimpan berbagai banyak pertanyaan sampai saat ini. Mulai dari penamaan daerah itu sendiri sampai daerah-daerah sekitarnya dikaitkan dengan kejadian serupa. Bagaimana kejadian itu sebenarnya ? Apakah masih ada bukti ontentik dari kejadian yang bersejarah itu sampai hari ini ? Daerah mana yang sebenarnya yang Minangkabau itu sendiri ? Serta kapan kejadian itu dan dimana bermulanya ?

Semua deretan pertanyaan tersebut tidak banyak diketahui oleh sebagian orang, bahkan pemuda/pemudi yang tinggal disana tidak begitu mengetahui tentang semua hal itu secara jelas. Maka jangan salahkan jika asal muasal terciptanya daerah kita dengan sejenap perjuangan dan bekerjasama mengusir orang-orang yang berniat mengusai daerah tercinta kita. Lalu mereka dengan seenaknya mengubah cerita ini dan itu, padahal tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya karena kita tidak pernah mengetahui semua semua tersebut. Jangan pernah melupakan siapa kita ? Dan bagaimana jayanya niniak mamak kita pada zaman dahulu, hingga kecerdasan dan kecerdikan orang Minangkabau terdengar sampai diluar negeri sekalipun. Tanyakan semua pertanyaan itu pada diri anda semua, jika benar anda-anda semua orang-orang Minangkabau ? Jika anda terlahir dan menjunjung tinggi “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, adat mamakai, agama dijunjung tinggi.” Begitulah orang Minangkabau itu, adat dan warisan kebudayaan sangat dijunjung tinggi dan tidak terlepas dengan agama Islam itu sendiri.
Sekitar tahun 1400 yang lalu, maka daerah Minangkabau ini belum dikenal dengan nama Minangkabau. Akan tetapi daerah kepulauan Sumatra ini lebih dikenal orang dengan nama Kepulauan Andalas. Pada saat itu sudah berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pagaruyung. Pada suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit di Pulau Jawa akan datang dengan maksud untuk memperluas daerah kekuasaannya di Kepulauan Andalas tepatnya daerah Minangkabau sekarang. Maka pihak orang-orang Jawa itu datang ke tanah Minang sekarang disambut hangat dan kepala dingin oleh orang-orang sekitar.
Mereka datang dari tanah sebelah dan mengatakan dengan tegas kepada masyarakat setempat tentang maksud dan tujuan kedatangannya, namun pihak yang di tuokan sarantiang dan didahulukan salangka, atau kapai tampek batanyo, kapulang tampak babarito, datang menemui Dt. Nan Tuo pada saat itu. Dt. Nan Tuo adalah sebagai tempat bertanya dalam setiap permasalahan yang terjadi pada saat itu. Maka sang Dt. Nan Tuo mengatakan kepada orang-orang Jawa tersebut jika memang ingin mengusai daerah Minang ini, maka ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan. Yaitu ada beberapa hal yang akan dipertanyakan kepada orang-orang Minang, jika pertanyaan itu tidak terjawab maka secara otomatis daerah Minang ini menjadi daerah kawasan Kerajaan Majapahit, jika benar mereka harus angkat kaki dari tanah Minang ini.
Kedatangan ke-2, rombongan orang-orang Jawa itu ke tanah Minang dengan membawa dua ekor Itik Angsa, dari kedua Itik Angsa tersebut mana yang jantan dan mana yang betina. Maka sebelum semua itu dijawab, maka dikumpulkan semua niniak mamak pada suatu tempat yang bernama Balai Sidasun. Balai Sidasun adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan orang-orang dan terletak di Jorong Kelarasan Tanjung. Maka mereka bermusyawarah memecahkan permasalahan tersebut. Namun, semua orang tidak tahu bagaimana cara membedakan mana Itik Angsa yang jantan dan Itik Angsa  yang betini. Maka Dt. Nan Tuo-lah yang dapat menjawab semua itu, jika ingin tahu mana itik Angsa yang jantan dan yang betina sangatlah mudah.
Maka keesokan hari waktu orang-orang Jawa itu membawa sepasang Itik Angsa dan bertanya kepada orang Minang. Maka orang Minang memberi makan terlebih dahulu kepada kedua Itik Angsa itu. Setelah kedua itik-itik makan, tidak lama setelah itu itu dijawablah dengan lantang oleh orang Minang. Itik Angsa yang makan terus adalah Itik Angsa betini dan Itik Angsa yang sesekali makan adalah Itik Angsa jantan. Maka, tertebaklah satu buah pertanyaan dari orang-orang Jawa tersebut. Dalam hal ini, “Jika pihak orang-orang Jawa itu menang maka dia berhak menduduki daerah minang ini, akan tetapi jika kalah dia harus pulang ke tanahnya dan memberikan kapalnya beserta isinya.” Seperti itulah kesepakatan terakhir kedua belah pihak antara orang Jawa dan orang Sumatra.
Hari berikutnya orang-orang Jawa itu datang kembali dengan rombongannya, membawa sebatang kayu sama besar kedua ujungnya. Maka, mana yang pangkal dan mana yang ujung. Maka kembali orang Minang ini ke rumah Dt. Nan Tuo, maka disampaikanlah hal tersebut. Dengan kecerdikan Dt. Nan Tuo ini lagi-lagi dia tahu jawabannya. Maka saat sampai pada hari penebakkan itu, maka orang Minang dengan mudah menjawabnya. Dengan cara memasukan kayu tersebut ke dalam air, maka bagian mana yang lebih dulu tenggelam adalah bagian pangka dan yang terangkat itu adalah bagian ujung. Sebenarnya ada dua cara yang disampaikan oleh Dt. Nan Tuo kepada juru bicara tersebut, yang kedua dengan cara mengikat sama panjang kedua kayu itu dan digantung, maka bagian maka yang yang terangkat itulah bagian ujung dan yang jatuh ke bawah adalah bagian pangkal. Karena bagian pangka lebih berat daripada yang ujung.
Maka sekali lagi orang Jawa kalah mutlak lagi dengan pertanyaan yang dilontarkannya kepada pihak Minang. Ada juga sebagian cerita yang mengatakan bahwa ada satu pertanyaan lagi yang dilontarkan kepada masyarakat Minangkabau yaitu menebak ikan didalam air, mana yang jantan dan mana yang betina. Maka dengan bantuan Dt. Nan Tuo yang sangat tinggi ilmu dan pengetahuannya maka dia dapat menyampaikan pesan dan cara menebak pertanyaan yang diberikan orang Jawa itu. Maka pihak pembicara Minang menjawabnya dengan lantang dan jelas. Jika ingin tahu mana ikan yang jantan dan ikan yang betina, awalnya sang juru bicara memperhatikan itu terlebih dahulu. Maka setelah ikan-ikan itu saling berkejar-kejaran dan bermain didalam air. Maka pihak Minang menjawab, ikan yang malenggok atau mendekati ikan satunya itulah yang jantan. Sedangkan ikan yang didatanginya adalah ikan yang betina. Maka sekali lagi pihak atau orang Minang benar menjawab pertanyaan yang diberikan tanah seberang tersebut.
Beberapa kali pihak orang Jawa itu kehilangan cara untuk mengusai tanah Minang itu. Maka mereka tidak lagi mengadu kecerdikan selainkan dengan beradu siapa yang paling tinggi, apakah orang Jawa ataupun orang Sumatra. Maka pihak Minang dan pihak tanah seberang datang ke tanah Minang untuk mengadu siapa manusia paling tinggi, apakah dari tanah Jawa atau tanah Minang ini. Maka, setelah berunding dengan pihak niniak mamak. Maka mereka miminta waktu tiga bulan, karena mereka yakin tidak ada orang yang lebih tinggi dari orang yang dibawa orang Jawa tersebut di tanah Minang ini. Dan juga sampai saat ini keturunan orang Minang tingginya hanya rata-rata. Maka pihak orang Jawa ini menyanggupi usulan atau permintaan dari orang Minang ini. Karena mereka yakin menang untuk kali ini, dan juga peluang untuk menang untuk hal ini ada pada pihak mereka.
Maka lagi-lagi Dt. Nan Tuo berpikir keras untuk dapat menandingi ketinggian orang Jawa tersebut. Akhirnya dia dapat ide, yaitu dengan meletakkan pariuk tanah (tempat memasak nasi) diletakkan diatas anak batang gabuang tiga buah dan lama kelamaan batang gabuang itu semakin tinggi dan tinggi. Maka tibalah hari yang sudah ditunggu-tunggu, orang Jawa itu sudah membawa orang paling tinggi mereka datang ke tanah Minang. Maka mereka menunjuk orang tinggi mereka, akan tetapi saat mereka menanyakan orang tinggi di tanah Minang. Maka berkatalah orang Minag bahwa orang tingginya masih tidur di dalam rumha. Namun mereka tidak percaya dengan hal tersebut dan ingin dia dibangunkan. Namun perwakilan orang Minang memperlihatkan sebuah jemuran celana orang tinggi mereka yang masih dijemur dan terkejutlah semua pihak Jawa itu dengan ukurannya yang sangat besar. Namun mereka masih tidak percaya dengan hal itu dan ingin meihat orangnya. Maka orang Minang manunjuak dari jauh orang tingginya, maka terlihatlah seperti orang yang sedang berdiri dengan kepala hitam padahal hanya pariuk nasi. Maka kali ini mereka tidak berani berkata banyak karena orang tinggi mereka masih dapat dikalahkan oleh orang Minang. Maka mereka kembali dengan rasa tidak puas ke tanah seberang dan tetap berambisi untuk mengusai daerah Minang ini.
Disana mereka berpikir dan berunding bagaimana caranya lagi untuk mengusai tanah Minang tersebut. Akhirnya mereka mendapatkan ide yaitu dengan adu kerbau. Kali ini mereka yakin 100% menang karena kerbau mereka jauh lebih besar daripada kerbau-kerbau orang Minang yang mereka lihat. Maka mereka datang dengan niat untuk mengadu kerbau di tanah Minang. Maka, kali ini Dt. Nan Tuo berpikir keras, di tempat biasa dia duduk yaitu di Bukit Kayu Sabatang (sampai saat ini masih ada batu berbentuk tempat duduk beliau). Beliau memandang ke arah nagari Minang, tiba-tiba saja datang ide cemerlangnya. Maka diperintahkanlah salah seorang dari Minang untuk mencari seekor anak kerbau yang masih kuat menyusui dan pisahkan dia selama satu minggu dari induknya serta jangan dikasih apapun sampai pertandingan itu di mulai.
Maka dicarilah seekor anak kerbau yang diperintahkan Dt. Nan Tuo tersebut. Setelah itu dibuatlah sebuah besi berbentuk tanduk atau Taji dengan istilah Minang (menurut sebagian orang). Maka besi Taji itu di asah sampai tajam dengan batu kiliran taji di tempat pemandian (masih ada sampai sekarang di tempat pemandian Minangkabau dan sudah diperjelas letaknya) dan juga konon katanya ada batu berbentuk lesung atau lasuang yang ceritanya juga memiliki sejarah. Dulunya rakyat Minang ini kaum wanitanya itu tidak seperti sekarang yang bebas tanpa aturan yang mengikat akan tetapi pada masa itu orang-orang wanita atau padusi tidak boleh asal keluar rumah. Jika mereka mandi mengunakan bunga tujuh ragam sebagai penganti sampoh pada zaman sekarang ini. Maka digunakanlah Batu Lasuang itu untuk manunbuak atau menumbuk bunga-bunga tersebut diatas batu tersebut. Alat yang mereka gunakan pada saat itu disebut dengan Pakasai (istilah Minang), sedangkan cara mengunakannya disebut dengan Bakasai (istilah Minang),
Maka setelah Taji atau tanduk yang terbuat dari besi itu sudah tajam dan sampai pada saat hari dimana kerbau itu akan diadu. Maka dipasanglah Taji tersebut ke kepala anak kerbau itu. Adu kerbau itu akan dilangsungkan di Sawah Padang (sampai saat ini masih ada di pinggiran jalan ke Sungayang) banyaklah orang-orang berduyun-duyun untuk menyaksikan pertarungan adu kerbau itu. Pada saat anak kerbau itu dilepaskan, maka secara tiba-tiba anak kerbau itu menyangka kerbau yang besar itu adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung mencari punting susu kerbau besar itu dan kebiasaan anak kerbau yang sedang mengusuh mengadu kepalanya setiap menyusu dengan perut induknya. Maka secara tidak langsung besi Taji atau Minang yang dipasang ditanduk anak kerbau tadi merobek-robek perut induknya. Maka luka yang semakin membesar itu membuat kerbau besar tadi merasa kesakitan dan mencoba berlari kesana-kemari. Karena merasa kesakitan kerbau itu berlari ke arah bawah yang pada saat itu orang-orang berdatangan untuk menyaksikan adu kerbau itu seperti balai, makanya sampai saat ini sawah itu diberi nama Sawah Balai. Kerbau besar itu terus ke arah bawah berlari maka daerah itu diberi nama dengan sebutan Sawah Siambek, karena disana orang-orang menghalangi kerbau besar itu untuk berlari. Bergeser ke atasnya juga diberi nama Sawah Sepatu, karena di sawah itu banyak tertinggal sepadu orang-orang karena kejadian itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kerbau besar itu berlari mengunakan sepatu, yang diberi oleh orang Jawa itu. Mungkin sepatu yang dipakai kerbau itu terlepas disana dan juga ada yang berpendapat bahwa kerbau yang besar itu dipaga dengan ruyuang-ruyuang (bekas sisa dari pohon Enau yang sangat keras) mungkin itu sebabkan dinamakan Paga Ruyung atau Pagaruyung pada saat sekarang ini.
Kerbau yang besar itu masih tidak mampu dihentikan oleh orang-orang, maka kerbau besar itu tiba-tiba merasa bagak atau berani karena sakitnya semakin perih untuk melawan orang-orang yang ingin menangkapnya. Maka tempat itu dinamakan Polak Bagak tempat yang dilalui kerbau itu, bergeser lagi semakin kerbau itu berlari paruik panjangnya semakin keluar dan tertinggal, daerah itu disebut dengan Koto Panjang. Semakin kerbau itu berlari semua isi perutnya semakin tertinggal, maka daerah itu sekarang disebut dengan Simpuruik.
Akhirnya kerbau besar itu jatuh juga sendiri karena semakin parah dan luka yang sebagian isi perutnya sudah tercecer dijalan. Makanya tempat kerbau itu dikuliti dan jangek-nya diambil disebut dengan Sijangek. Maka pada saat itu terdengarnya terikan “Manang kabau...manang kabau..manang kabau.” Itulah nama Minangkabau yang kita kenal sekarang berasal dari sana, dan sudah di yakini sebagai asal muasal penamaan daerah ini sampai saat ini menjadi Minangkabau. Walaupun ada pendapat lain yang mengatakan dari besi yang dipasang ditanduk anak kerbau itu. Serta ada juga yang mengatakan dari banyaknya kerbau di ranah Minang, itu setiap berjalan malenggok yang disebut dengan istilah Minang maenang. Meanang itu seperti bergelombang dan juga tanah Minang ini seperti bergelombang dengan perbukitan, makanya disebut dengan meanang. Lama-kelamaan menjadi Minangkabau. Namun ada juga yang mengatakan bahwa dari banyaknya kerbau-kerbau di nagari Minangkabau ini pada masa dulu. Sedangkan ada juga yang berpendapat dari banyaknya pohon Pinang pada masa dulu yang konon katanya penyembutan huruf “P” dan “M” menjadi kurang fasih. Namun pihak pemerintah setempat sampai saat ini lebih percaya dengan kejadian adu kerbau tersebut karena ada bukti-bukti yang bisa dijadikanb referensi sampai saat ini. Karena pada saat itu belum dikenal dengan buku-buku untuk bisa menulis pada masa sekarang ini hanya cerita dari mulut ke mulut.
Setelah kejadian itu orang-orang Jawa itu mengaku kalah dengan kekalahan adu kerbau tersebut. Agar mereka dapat menyampaikan kekalahan dari tanah Minang ini, maka dibawalah tanduk kerbau besar itu setengahnya dan setengahnya lagi disimpan di Minangkabau sebagai bukti kejadian tersebut. Kira-kira panjang tanduk kerbau besar itu sekitar tiga meter (namun sampai saat ini tanduk itu masih ada di simpang pemandian Minangkabau di rumah gadang Dt. Mojo Basa. Karena tanduk itu sudah terlalu lama tanduk itu sekarang panjangnya sekitar 1,25 meter. Tanduk itu sudah seperti kayu yang keras pada saat ini).
Sebelum orang Jawa itu kembali ke tanah seberang, maka orang Minang menyuruh orang-orang Jawa ini untuk memakai kain dipinggang yang disebut dengan Bakodek (istilah orang Jawa) dan ikat kepala sampai saat ini menjadi tradisi dan kalau bersalaman menyurut atau mundur ke belakang seperti tanda kekalahannya pada orang Minangkabau. Sampai saat ini informasi tentang tanduk besi atau Taji yang dipasangkan di anak kerbau itu tidak ada beritanya dan tidak tahu seorangpun dimana keberadaan tanduk atau Taji tersebut. Serta siapa pemilik anak kerbau itu dan siapa pemilik dan membesarkan anak kerbau itu tidak dapat diketahui lagi dan hanya tanduk kerbau besar itulah yang dapat menjadi saksi kejayaan masyarakat Minangkabau dalam mengalahkan orang-orang Jawa tersebut.
Daerah Minangkabau ini tidak begitu diketahui orang yang mereka tahu hanyalah alam Minangkabau ini. Padahal ada kisah atau kejadian bersejarah dan terletak pada daerah Minangkabau ini. Daerah  Minangkabau ini dibagi menjadi tiga jorong yaitu Jorong satu (Minang Jaya), Jorong dua (Badinah Murni), dan Jorong tiga (Singkaian). Dan juga Dt. Nan Tuo itu dikuburkan di Kuburan Panjang di Sadio dan ada juga yang mengatakan di Bukit Kayu Sebatang. Karena tidak terlalu diketahui orang secara pasti dan juga tidak ditemukan lagi Datuak itu. Tempat kuburannya hanyalah rumah atau dangau (pondok kecil di bukit).
Maka jika anda berkunjung ke daerah ini jangan lewatkan Nagari  Minangkabau ini dan juga bukti peninggalan sejarah di rumah Gadang tersebut. Jangan hanya mendengarkan cerita-cerita yang tidak jelas karena hanya dapat merusak pemahaman kita tentang suatu hal. Akan lebih baik kita dapat mendengar langsung ceritanya dari orang-orang tuo atau niniak mamak kita yang masih hidup dan bukti tanduk kerbau itu disana dari mereka.

Referensi dialog langsung :
1.      Alfani Hamdi, S.Sos. I.Ma (Wali Nagari Minangkabau)
2.      Dt. Mojo Basa (pemelihara tanduk kerbau dari suku Chaniago)
3.      Zulfahri (Ayah dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)
4.      Afrida (Ibu dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)

Gambar: Bukti Tanduk Kerbau kira-kira 1400 tahun yang lalu.


Gambar: Rumah Gadang Dt. Mojo Basa di Minangkabau.


Gambar: Kantor Wali Nagari Minangkabau.

Gambar: Tempat Adu Kerbau di Sawah Padang.

                     
Irsal Husnur
Sumber=irsalhusnur10.blogspot.co.id



Selasa, 17 Juli 2018

MUARO TIKU

Muaro Tiku
Tiku Pariaman adalah satu dalam konteks budaya, namun terpisah karena kepentingan administrasi dan birokrasi.Tiku di “hadiah”kan kepada Kabupaten Agam sehingga Agam yang tadinya identik dengan pegunungan dapat bangga karena memiliki kota pelabutah cantik ini), sangat menyesalkan kurangnya perhatian Pemda agam terhadap pembinaan objek-objek wisata di Tiku. Berbeda sekali dengan objek wisata di kabupaten Agam yang kebetulan berada di daerah perbukitan, seperti Danau Maninjau, dan daerah sekitar Bukittinggi. Tiku seperti hadiah berharga yang tersia-siakan. Kadang saya berandai-andai, kalau memang begitu keadaannya, sebaiknya Tiku kembali saja ke Pangkuan Pariaman dan bergabung dengan kota Pariaman, menjadi Kota Tiku Pariaman sebagaimana masa kejayaan abad 15 dahulu..;).

Disamping alam dan pantainya, Tiku juga kaya akan kuliner dan sejarah. Tiku adalah Nagari Tua dan Kuno, umurnya bahkan lebih tua dari Padang, Bengkulu bahkan Batavia. Pada era pra-Pagaruyung, Tiku sudah dikenal jauh oleh pedangan Arab, Gujarat dan Mesir, bersama-sama dengan Pariaman dan Barus. Pada era Pagaruyung, Tiku menjadi pintu gerbang Alam Minangkabau dan juga tersebut sebagai kota perlawanan terhadap Rajo Sipatokah (Pelaut Portugis) yang ingin menguasai Tiku. Meskipun sisa-sisa kejayaan itu tidak Nampak lagi, namun Tiku sangat-sangat layak menjadi salah satu Primadona wisata diSumbar dan Nasional.