Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2018

CIGAK BARUAK JAMAN DULU

Cigak Baruak Jaman Dulu

Ada transportasi lama bernama “cigak baruak” mirip dengan isoh padati menggunakan sapi sebagai mesin penggerak, dan memakai katayo atau tali yang disambungkan pada pundak sapi, yang juga disetalikan dengan kayu penopang, namun sudah diberi gerobak dan beroda kayu. Gerobak pedati inilah yang disebut “cigak baruak” . Cigak baruak ini fungsinya juga untuk mengangkut barang keseharian, ada juga gerobak untuk membawa kayu panjang-panjang yang modelnya masih sama. Namun dalam pengangkutan kayu ini kondisi papan tepian gerobak dibuat lebih rendah dan sedikit panjang, serta diberi bumper di tepi bawah agar dapat memuat roda lebih besar dan diberi tonggak kayu di bagian tengah. Tonggak ini menjorok ke bawah sebagai penyangga. Jika laju gerobak mulai bergerak cepat ketika jalan menurun dapat diberatkan kebelakang dan begitu sebaliknya, jadi fungsi sebenarnya tonggak kayu tersebut adalah sebagai pengatur agar memudahkan membawa kayu-kayu yang panjang pula.

HIKAYAT SULTAN MAHMUD ATAU KYAI JEJERUK DARI MINANGKABAU

Hikayat Sultan Mahmud atau Kyai Jejeruk Dari Minangkabau

Syahdan, Sultan Mahmud beserta para bala tentaranya terombang ambing di tengah Samudera. Semakin lama ombak semakin besar menerjang kapal Sultan dan pengikutnya. Kapal pecah setelah membentur karang, seluruh barang bawaan terhanyut oleh gelombang yang datang. Tinggal Sultan Mahmud dan pengawal setianya yang bertumpu di kayu sisa pecahan kapalnya.

Potongan kayu sisa pecahan kapal yang dibuat pegangan berdua dengan sang patih akhirnya menepi di sebuah pantai dekat perbukitan. Tak berapa lama didera kebingungan ada seorang pencari ikan yang melintas. Dipundak lelaki tersebut ada kepis (wadah ikan dari bambu anyam). Lalu kepada lelaki itu Sultan Mahmud bertanya.

"Ini adalah kawasan bukit Bonang. Di atas sana ada seorang lelaki yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang..." belum selesai lelaki pencari ikan itu bicara Sultan Mahmud menyela. "Kisanak antarkan aku ke Sunan Bonang sekarang juga," pintanya tergesa.

Lalu Sultan Mahmud diantar oleh lelaki itu ke sebuah gubug di puncak bukit. Ada ragu di dalam hatinya melihat gubug yang tak layak untuk seorang yang terkenal macam Sunan Bonang. Lama tercenung melihat gubug itu namun ketika hendak bertanya kepada pencari ikan yang mengantarnya, ternyata lelaki itu telah pergi.

Saat keraguan itu semakin mendera hatinya, Sultan berniat kembali ke pantai mencari lelaki pencari ikan yang tadi mengantarnya. Untuk mengucapkan terimakasih dan memastikan apakah gubug tersebut adalah rumah tinggal Sunan Bonang. Ketika hendak berbalik tiba-tiba sebuah suara muncul dari dalam rumah. "Sultan Mahmud, jika kau hendak mencari kebenaran akulah Sunan Bonang. Namun jika engkau hendak mencari kemewahan kembalilah ke Minangkabau di kerajaanmu!". Sultan Mahmud terhenyak mendengar suara itu.

Lebih heran lagi, ketika sultan Mahmud masuk ke dalam gubug yang dianggap tak layak tersebut. Saat kaki kanannya masuk ke dalam rumah dadanya bergetar hebat. Seperti ada kegelisahan yang entah dia sendiri tak mampu menggambarkannya. Getaran hebat itu menuntunnya pada sebuah kedamaian yang tak pernah dirasakannya selama ini. Tiba-tiba air matanya meleleh, mengucur begitu deras. Merasakan bahwa dialah orang paling sombong di dunia ini. Sebuah titik kesadaran yang tiba-tiba saja merasuk ke sanubarinya. Entah datang dari mana.

Lelaki bersahaja keluar dari dalam rumah. Membawa kepis lalu disodorkan kepada sang Sultan. Sultan Mahmud hanya berfikir, bukankah kepis itu milik pencari ikan yang tadi mengantarnya ke gubug ini? "Benar Sultan. Ini adalah milik pencari ikan yang tadi mengantarmu. Akulah pencari ikan itu. Kini bukalah kepis ini, bukankah ini yang kau risaukan selama ini," ucap Sunan Bonang.

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, segera Sultan Mahmud membuka kepis yang disodorkan Sunan Bonang. Benar, ternyata kitab-kitab yang dibawanya dari Minangkabau. tadi telah dianggap hilang oleh Sultan ketika kapal pecah dihantam ombak. Hati Sultan Mahmud semakin yakin bahwa Sunan Bonanglah orang yang dia cari selama ini. Goncangan dadanya semakin kencang antara bahagia dan terharu bertemu sang Guru.

Hatinya menjerit bahagia. Meluruhkan syukur dan pengakuan kemaha besaran Allah, Tuhannya. Semakin deras air matanya mengucur membasahkan kegelisahan. Kegalauan yang menderanya selama ini.

"Benar kanjeng Sunan. Dan karena kitab-kitab inilah yang membuatku mengembara sejauh ini," ucap Sultan mahmud memulai cerita. Bahwa Sultan Mahmud mendapatkan hadiah dari Raja Minangkabu, ayahnya. Namun dia sendiri tidak mampu menafsirkan makna kitab-kitab miliknya. Kegelisahan semakin mendera hatinya dari hari ke hari. Hingga suatu ketika dia mendapatkan semcam perintah untuk pergi ke pulau jawa. "Hanya ulama di sana yang mampu mengajarkanmu makna terdalam dari hakikat hidup yang terkandung dalam kitab ini," kata suara tersebut.

Maka berlayarlah Sultan Mahmud bersama pasukannya menuju pulau jawa. Pertama mula dia sudah mendengar kehebatan Kasultanan Banten. Maka pelabuhan pertama saat dia berlayar adalah Kasultanan Banten. Namun Sultan Mahmud harus menahan kekecewaan. Karena para pujangga dan ulama-ulama di Kasultanan Banten tidak ada yang mampu memberi jawaban. Justru menyarankan Sultan untuk terus berlayar ke timur. "Di timur pulau jawa Sultan akan temukan orang yang tepat," ucap Sultan Banten kala itu.

Perjalanan dilanjutkan ke timur. Mendengar kehebatan orang-orang Cirebon akhirnya sang Sultan berhenti di Kasultanan Cirebon. Takjub sang Sultan melihat kesederhanaan masyarakat Cirebon. Kasultanan yang begitu damai menyambutnya sebagai keluarga. Namun kitab sang sultan tetap juga tak mampu dibabar di sana. Sama dengan Kesultanan Banten, Sultan Cirebon juga menyarankan Sultan mahmud untuk pergi ke timur.

"Hingga akhirnya saya terdampar dan kini menghadap kanjeng Sunan Bonang. Saya berharap Kanjeng Sunan sudi mengangkat saya menjadi murid dan mengajarkan saya tentang hakikat hidup yang terkandung dalam kitab ini," pinta Sultan Mahmud pada Sunan Bonang.

Sunan Bonang menerima Sultan Mahmud menjadi murid. Mengajarkan tentang kebenaran dan hakikat hidup. Menafsir terjemahkan makna yang terkandung dalam kitab pemberian ayah Sultan Mahmud. Terjawab sudah kegelisahan Sultan Mahmud selama ini. Merasakan anugerah maha besar karena dipertemukan kepada sang guru yang mampu membimbingnya. Menuntun kepada kebenaran dan hakikat kesadaran.

Telah cukup yang kau pelajari di bukit ini. Kita telah bersama mencecap kemahabesaran Tuhan. Kini yang terakhir permintaanku, ucap Sunan Bonang pada Sultan Mahmud. Kau mesti bertapa berdiri. Dipilihkan sebuah tempat di sebelah utara bukit tempat Sunan Bonang tinggal.

Sultan Mahmud memulakan tapanya. Keyakinan yang begitu dalam pada sang guru membuat Sultan Mahmud begitu ihlas dan patuh. Tidak ada kehendak untuk bertanya apalagi membantah perintah. Dalam hatinya hanyalah cinta dan kesetiaan pada sang guru yang telah membimbingnya. Karena baginya apapun yang dikatakan guru adalah kebenaran.

"Janganlah kau beranjak dari tempat ini sebelum aku kembali," ucap Sunan Bonang sembari menanam dua biji asam jawa di sebelah kanan dan kiri Sultan Mahmud berdiri. Sunan Bonang lalu kembali meneruskan kegiatannya dalam mengajar murid. Sedang Sultan Mahmud tetap berdiri dalam kepatuhan. Tapa Nggejejer (berdiri) dan theruk-theruk (berdiam). Kelak tampat tersebut terkenal dengan sebutan Jejeruk. Berawal dari kalimat Nggejejer dan Theruk-theruk, Berdiam dengan berdiri memohon dibukakan pintu mata dan hatinya. Mengikuti perintah sunan Bonang, sang guru.

Saat Sunan Bonang kembali pohon asam yang ditanam telah tumbuh besar. Sultan Mahmud masih berdiri di sana sebagaimana perintahnya. Gambaran kepatuhan seorang murid kepada guru sejatinya.

"Seberapa lama yang kau rasakan waktu ketika aku meninggalkanmu berdiri bertapa Sultan Mahmud?" tanya Sunan Bonang.
"Saya merasakan beberapa saat saja guru. Tidak dalam waktu yang cukup lama. Karena aku merasakan keindahan sebagaimana yang guru sampaikan. Bahwa saya tidak merasakan apapun kecuali Tuhan yang menggerakkan seluruh nadi hidup ini. Taka ada yang terdengar tak ada yang terasa kecuali kemahabesaran Tuhan semata. Namun sepertinya kanjeng Sunan meninggalkan saya antara waktu zuhur hingga asar. Tak lebih dari lima jam saya berdiri di sini," ucap Sultan Mahmud.

"Kini kembalilah kau ke Minangkabau. Seluruh rakyatmu telah menantimu di sana. Usai sudah proses perjalananmu. Kitab yang kau bawa telah kau temukan makna terdalamnya," pinta Sunan Bonang.

"Terimakasih atas titah Kanjeng Sunan. Bahwa kitab yang saya bawa telah sempurna memberikan ajaran kepada kita. Apabila diperbolehkan maka hamba ingin memohon satu hal. Bahwa Kerajaan beserta kemewahannya telah saya tinggalkan. Damai di sini bersama Kanjeng Sunan dalam pengabdian. Lalu apakah aku harus kembali menapaki hari-hari risau dalam gelimang kemewahan dunia. Sedang hatiku tidak lagi berada di sana. Telah nyawiji bersama alam ini dalam memuji. Maka perkenankanlah saya mengajak isteri saya untuk mencecap keindahan perjalanan di sini. Bahwa dunia telah berjalan sebagaimana adanya. Bahwa kerajaan telah terpimpin dengan adil oleh yang memegang amanah. Sebagai murid Bonang saya tidak mau menjadi raja yang dzolim. Raga di sana namun jiwa jauh berada di bukit ini bersama kanjeng Sunan," pinta Sultan Mahmud.

Dan permintaan itu disetujui oleh Sunan Bonang. Bahwa hidup dan perjalanan telah dipilih Sultan Mahmud. Dia telah memilih untuk meninggalkan gelimang dunia. Merasa lebih damai nyawiji bersama alam dalam kesederhanaan dan tanpa beban. Menyisakan kisah dan sejarah perjalanan untuk generasi berikutnya.

Akhirnya Sultan Mahmud beserta Siti Asiyah, isterinya menghabiskan hidup di sana. Sebelah utara pasujudan Sunan Bonang. Di Puncak dari bukit Watu Layar, Desa Binangun Kecamatan Lasem.

Demikianlah sekelimut cerita tutur yang bisa saya tuturkan ulang bagi kerabat akarasa sekalian. Beliau ini dikenal juga dengan nama Kyai Jejeruk (Mbah Jejeruk) adalah Raden Abdur Rokhman atau juga dikenal sebagai  Sultan Makhmud. Beliau adalah raja dari kerajaan Minangkabau.

Ketika ayahnya wafat, Sultan Makhmud mendapat tinggalan warisan sebuah kitab, tetapi sayangnya beliau belum dapat memahami arti yang terkandug dalam kitab tersebut.

Untuk itu beliau pergi sampai ke Mesir dan Mekah untuk mencari seorang guru yang dapat menerangkan maksud atau arti dari kitab yang dimilikinya, tapi hasilnya sia-sia. Sehingga hatinya bertambah susah, mengapa beliau mendapat warisan sebuah kitab yang tidak diketahui maksudnya.

Kebetulan ada seorang pengail yang mengetahui bahwa di tanah Jawa ada ulama yang sangat alim, tentang hal tersebut disampaikan kepada Patih dan oleh Sang Patih kabar tersebut disampaikan kepada Sang Raja. Sang Raja sangat bergembira dan memutuskan untuk segera berangkat ke tanah Jawa untuk menemui Kiai yang dimaksud.

Dengan perbekalan yang cukup berangkatlah Sultan Mahmud beserta patihnya dengan menumpang sebuah perahu besar, sayang ditengah perjalanan datanglah angin kencang yang mengakibatkan perahu tadi terguling. Semua perbekalan beserta kitab beliau hilang, masuk ke dasar laut.

Sultan Mahmud susah karena hilangnya sebuah kiab yang sangat berharga. Karena kebingungannya itu, Sultan Mahmud bermaksud untuk kembali ke kerajaan. Oleh Sang Patih hal tersebut tidak disetujui. Dengan rasa berat, diteruskalah perjalanannya hingga dapat menemui Sang Kiai.

Di hadapan Sang Kiai (Kanjeng Sunan Bonang) Sultan Mahmud memperkenalkan diri, maksud kedatangannya beserta musibah yang menimpa dalam perjalanannya. Tiba-tiba Sang Kiai mengeluarkan sebuah kitab dari sakunya, dan menanyakan apakah kitab ini yang dimaksud. Setelah diteliti oleh Sang Raja, benar bahwa kitab itu adalah miliknya. Seketika itu Sultan Mahmud melepas pakaian dan pangkat kesultanan, sujud (sungkem) dihadapan Kanjeng Sunan Bonang tetapi hal itu dicegah oleh Kanjeng Sunan.

Kanjeng Sunan Bonang mulai membaca dan menerangkan semua isi yang terkandung dalam kitab tadi dan akhirnya difahami oleh Sang Raja. Setelah Sang Raja memahami semuanya, beliau memerintah kepada Sang Patih untuk kembali ke Minangkabau dengan beberapa pesan :

1. Beliau (Sultan Mahmud) akan menetap di tanah Jawa (Bonang)
2. Memberi kebebasan kepada Sang Putri Ratu (istri) untuk memilih tetap tinggal di keraton, atau menyusul ke Jawa.
3. Menyerahkan tahta kerajaan kepada adik baginda raja, untuk memegang pusat pemerintahan Minangkabau.

Karena kesetiaan sang putri kepada sang suami Baginda Raja, maka beliau tetap memilih untuk menyusul ke tanah Jawa, waau harus melepas tahta kerajaan. Akhirnya Sultan Mahmud beserta istri menjadi murid yang setia dari Kanjeng Sunan Bonang.
Sumber=www.akarasa.com

Jumat, 20 Juli 2018

IKAN MAHSEER HARTA KARUN SUMATERA BARAT

Ikan Mahseer Harta Karun Sumatera Barat

Ikan gariang atau ikan mahseer masih banyak di Sumatera Barat
Ikan gariang atau yang dikalangan angler dikenal dengan nama ikan mahseer masih banyak di temukan di sungai-sungai Sumatera Barat. Kearifan lokal warga Sumatera yang menjaga sungai dan ikannya dengan adanya adat yang dikenal dengan nama lubuk larangan, merupakan benteng yang efektif untuk menjaga kelestarian ikan dan keindahan sungai. Di lubuk-lubuk larangan inilah ikan-ikan gariang tumbuh beranak pinak tiada yang menggangu dan mengusiknya.
Sumatera Barat yang memiliki geografis wilayah pegunungan, lembah, sawah nan hijau dengan sungai gunung yang jernih dan mengalir tiada henti-hentinya. Alam pedesaan dengan penduduk yang ramah dan religius
Rata-rata semua sungai yang ada di Sumatera Barat masih ada ikan gariang atau ikan mahseer.  dikalangan angler bahwa ikan mahseer merupakan ikan yang menjadi idola dan didambakan para angler sungai. Boleh diibaratkan bila di laut yang menjadi idola adalah ikan marlin karena memang susah untuk mencari lokasi dan saat fightingnya. Atau boleh di umpamakan bahwa ikan mahseer ini setara dengan harimau sebagai raja rimba.Untuk menemukan ikan marlin dan harimau liar bukan pekara yang gampang dan diperlukan perjuangan yang tinggi.

Lalu bagaimana dengan ikan mahseer? Apa diperlukan perjuangan yang tinggi untuk mendapatkan ikan ini. Bila yang menjawab pancinger di luar Sumatera Barat dan di baca dari berbagai literature mancing untuk berjumpa dengan ikan mahseer seorang pancinger harus berjuang menembus hutan rimba dan baru memancingnya. Ya ikan mahseer hidup di hulu sungai nan jernih. Banyak postingan angler di pedalaman Kalimantan barulah bertemu mahseer. Atau kalo di luar negeri di pegunungan Himalaya barulah ketemu ikan ini.
bersyukur untuk kearifan lokal warga Sumatera Barat yang hidup sekitar sungai, dimana mereka melakuan perjanjian adat mengenai pelestarian ikan yang dikenal lubuk larangan. Warga membawa pemuka masyarkat untuk membuat territorial sungai yang dijaga secara magis oleh pemuka masyarakat. Ikan yang ada di territorial itu tidak boleh diambil. Bila ada yang sengaja mengambil ikan tanpa restu dari pemuka adat maka orang itu akan mendapat tulah (kutuk) yang menyebabkan dirinya terkena penyakit. Cara ini sangat efektif menjaga keberadaan ikan di sungai. Adat ini memang sudah turun temurun dari jaman penjajahan Belanda hingga sekarang.

Ikan gariang si ikan raja rimba tetap terjaga keberadaannya
promosikan kepada dunia bahwa di Sumatera Barat masih banyak mahseer tanpa merusak alam dan adat.
Sumber=http://www.beritamancing.net/fishing-story/ikan-mahseer-harta-karun-sumatera-barat/

PERANCIS MENGUASAI PADANG

Prancis Menguasai Padang
La Marseillaise, lagu kebangsaan Prancis berkumandang di pantai barat Sumatra. Gerombolan Le Meme menduduki Padang dengan semangat Revolusi Prancis.


(Gambar~Sketsa pelabuhan Padang oleh Charles van de Velde, antara 1843-1845)

PERNAH sekali Padang “ditawan” selama dua minggu lebih oleh Prancis. Bukan oleh tentaranya, tetapi segerombolan bajak laut. Dipicu perang Revolusi Prancis, wilayah pantai barat Sumatra menjelma menjadi teater pertempuran. Corsairs –bajak laut yang diberi izin oleh Prancis untuk merampok musuh-musuh Prancis– bermunculan dan menebar teror.

Salah satunya adalah Francois-Thomas Le Meme. Le Meme lahir di Saint-Malo, barat laut Prancis, pada 13 Januari 1764. Dia mulai berdagang di Hindia pada 1791. Dari pelabuhan di Mauritius, sebelah timur Madagaskar, dia berdagang ke Jawa dan Sumatra sebagai kapten kapal Hirondelle.

Ketika perang Revolusi Prancis berkobar di Eropa, jiwa revolusionernya terpanggil. Hirondelle diubahnya menjadi kapal bajak laut. Per Juli 1793, Hirondelle meneror kapal dagang Inggris (EIC) dan Belanda (VOC) di pantai barat Sumatra.

“Sebulan sesudah itu dia merampok kapal VOC di Selat Sunda yang kebetulan sedang dalam perjalanan dari Batavia ke Padang. Hari itu juga direbut lagi dua kapal dagang kepunyaan orang Tionghoa dan besoknya sebuah lagi kepunyaan Belanda. Le Meme mendapat banyak barang rampasan yang tinggi harganya,” tulis Rusli Amran dalam Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang Volume 1.

Keberhasilan merampok kapal Inggris, William Thesied, pada 25 Agustus 1793 membuat Le Meme dipromosikan ke kapal Ville de Bourdeaux. Dia mengarahkan awaknya berlayar ke Padang, kota dagang VOC yang penting di pantai barat Sumatra.

Sudah sejak 1663, VOC bercokol di sana dan memonopoli berbagai komoditas, terutama emas. Meski begitu pertahanan Padang lemah. Ketika Ville de Bourdeaux yang berawak 200 orang dan dipersenjatai 32 meriam itu melego jangkarnya di sana, tak ada perlawanan yang cukup berarti.

P.F. Chassen, Opperkoopman (kepala pedagang) VOC menyerah. Gerombolan Le Meme menyatakan sejak itu juga Padang dan daerah lain di pantai barat Sumatra yang dikuasai VOC menjadi daerah taklukan Prancis. Padang diduduki selama 16 hari. Saat itu pertengahan Desember 1793.


“Pernyataan itu ditandai dengan pengumandangan lagu Marseillaise serta pengibaran bendera tricolor di Padang,” tulis Gusti Asnan dalam Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an.

Padang dijarah. Namun untuk ukuran perompak, sikap gerombolan Le Meme terbilang baik. Kecuali meminta makan, mereka tidak banyak berbuat onar. Ketika penduduk Padang hanya mampu menyediakan 25.000 ringgit dari ransum sebesar 70.000 ringgit yang dituntutnya, Le Meme tidak menghukum mereka.

“Singkatnya, Le Meme tidak semata-mata datang sebagai perampok atau bajak laut, tetapi masih dipengaruhi oleh cita-cita besar revolusi (rakyat) yang baru saja terjadi di negeri mereka,” tambah Rusli.

Namun ulah orang-orang Tionghoa yang menolak patungan ransum akhirnya membuat Le Meme naik pitam juga. Dibantu penduduk lokal yang sama kesalnya, dia memerintahkan untuk membakar rumah orang-orang Tionghoa dan mengusir mereka keluar kota.

Di hari ke-16, Le Meme meninggalkan Padang dan kembali ke Mauritius. Karir perompaknya kian melonjak. Namanya dielu-elukan di Prancis.

Pun sepeninggal Le Meme, serangan corsairs lainnya tidak berhenti. “Di tahun yang sama, tiga corsairs dari Mauritius sudah menyerang tiga pos Inggris di Bengkulu dan Natal. Pada 1794, Natal dan Tapanuli sempat diduduki lagi oleh para corsairs,” tulis Anthony Reid dalam The French in Sumatra and the Malay World, 1760-1890.

Petualangan Le Meme berakhir. Dia tertangkap dan meninggal pada 30 Maret 1805 di kapal Waltherstow, yang tengah membawanya ke Inggris untuk diadili. Ketika Mauritius berhasil dikuasai Inggris pada 1810, aktivitas para corsairs terhenti.

Padang berada di bawah pemerintahan Inggris ketika perang Napoleon berkobar di Eropa pada 1803, sebelum akhirnya dikembalikan lagi ke Belanda melalui Konvensi London pada tahun 1814.
Oleh=RAHADIAN RUNDJAN
Sumber=http://historia.id/kuno/saat-bajak-laut-prancis-menguasai-padang

SEJARAH BERDIRINYA KOTA PADANG

Sejarah berdirinya Kota Padang

Terdapat 2 buah versi mengenai sejarah berdirinya kota Padang, yaitu: versi Tambo dan versi Hofman seorang opperkoopman di Padang pada tahun 1710 dan juga pengarang mengenai adat dan sejarah Minangkabau (terutama adat matrilineal). Opperkoopman sebutan pada wakil Belanda untuk suatu daerah yang belum ditaklukkan Belanda. Kota Padang belum ditaklukkan saat itu sedangkan untuk daerah jajahan Belanda seperti Ambon, Banda, Ternate dan Jawa penguasanya dinamakan Gubernur.
Kota Padang menurut Hofman, dinamakan Padang karena dulu merupakan lapangan besar dan luas yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi.
Pada awalnya tempat bermukim para penangkap ikan, pedagang dan petani garam yang dikepalai oleh seorang makhudun. Orang kedua yang menjadi kepala adalah dari golongan agama dari Passai yang bergelar Sangguno Dirajo.
Suatu saat terjadi peperangan antara orang padang dengan orang pegunungan dari XIII-Koto karena terbunuhnya Serpajaya oleh anak buah makhudun yang bernama Campang Cina. Dalam serbuannya yang pertama orang-orang dari XIII-Koto dapat dikalahkan dengan korban sebanyak 30 orang.
Karena takut akan serangan besar berikutnya, orang Padang mengirim utusan untuk berdamai yang bernama Datuk Bandaro Pagagar bersama wakil rakyat kota Padang. Ganti rugi yang diminta orang XIII-Koto adalah emas. Orang Padang keberatan dengan ganti rugi ini karena terlalu mahal dan mereka kebanyakan adalah nelayan.
Oleh karena itu ditawarkan separuh kota Padang dan bersumpah setia untuk tunduk kepada XIII-Koto, sejak saat itu orang XIII-Koto memiliki hak yang sama dengan orang Padang dan mendapat 4 dari 8 kursi penghulu di kota Padang.
Menurut versi Tambo, jauh sebelum orang pegunungan mendiami kota Padang sekarang, daerah itu merupakan hutan lebat yang masih didiami oleh manusia liar (urang rupit dan urang tirau).
Orang pertama yang turun ke Padang adalah dari Kubuang Tigo Baleh (Solok) yang dipimpin oleh Maharajo Besar suku Caniago Mandaliko dan memilih tinggal di Binuang dan kemudian menyebar diantara Muaro sampai Ikua Anduriang (Pauh IX).
Kelompok kedua yang datang adalah orang dari Siamek Baleh (antara Singkarak dan Solok) dan disusul dengan orang dari Kurai Banuampu (Agam). Mereka menetap dibagian timur daerah Maharajo Besar.
Diantara pemimpin yang baru datang ini adalah Datuk Paduko Amat dari suku Caniago Simagek, Datuk Saripado Marajo dari suku Caniago Mandaliko, Datuk Sangguno Dirajo dari suku Koto beserta saudaranya Datuk Patih Karsani. Konon Datuk Patih Karsani ditempat yang baru banyak mendapat benda berharga seperti porselen, pisau, meriam kecil dan sebuah pedang (padang). Maka menurut yang mempunyai cerita dinamakanlah kota itu Kota Padang.

Kamis, 19 Juli 2018

BUKTI MINANGKABAU

BUKTI MINANGKABAU

Minangkabau adalah salah satu daerah yang banyak menyimpan berbagai banyak pertanyaan sampai saat ini. Mulai dari penamaan daerah itu sendiri sampai daerah-daerah sekitarnya dikaitkan dengan kejadian serupa. Bagaimana kejadian itu sebenarnya ? Apakah masih ada bukti ontentik dari kejadian yang bersejarah itu sampai hari ini ? Daerah mana yang sebenarnya yang Minangkabau itu sendiri ? Serta kapan kejadian itu dan dimana bermulanya ?

Semua deretan pertanyaan tersebut tidak banyak diketahui oleh sebagian orang, bahkan pemuda/pemudi yang tinggal disana tidak begitu mengetahui tentang semua hal itu secara jelas. Maka jangan salahkan jika asal muasal terciptanya daerah kita dengan sejenap perjuangan dan bekerjasama mengusir orang-orang yang berniat mengusai daerah tercinta kita. Lalu mereka dengan seenaknya mengubah cerita ini dan itu, padahal tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya karena kita tidak pernah mengetahui semua semua tersebut. Jangan pernah melupakan siapa kita ? Dan bagaimana jayanya niniak mamak kita pada zaman dahulu, hingga kecerdasan dan kecerdikan orang Minangkabau terdengar sampai diluar negeri sekalipun. Tanyakan semua pertanyaan itu pada diri anda semua, jika benar anda-anda semua orang-orang Minangkabau ? Jika anda terlahir dan menjunjung tinggi “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, adat mamakai, agama dijunjung tinggi.” Begitulah orang Minangkabau itu, adat dan warisan kebudayaan sangat dijunjung tinggi dan tidak terlepas dengan agama Islam itu sendiri.
Sekitar tahun 1400 yang lalu, maka daerah Minangkabau ini belum dikenal dengan nama Minangkabau. Akan tetapi daerah kepulauan Sumatra ini lebih dikenal orang dengan nama Kepulauan Andalas. Pada saat itu sudah berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pagaruyung. Pada suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit di Pulau Jawa akan datang dengan maksud untuk memperluas daerah kekuasaannya di Kepulauan Andalas tepatnya daerah Minangkabau sekarang. Maka pihak orang-orang Jawa itu datang ke tanah Minang sekarang disambut hangat dan kepala dingin oleh orang-orang sekitar.
Mereka datang dari tanah sebelah dan mengatakan dengan tegas kepada masyarakat setempat tentang maksud dan tujuan kedatangannya, namun pihak yang di tuokan sarantiang dan didahulukan salangka, atau kapai tampek batanyo, kapulang tampak babarito, datang menemui Dt. Nan Tuo pada saat itu. Dt. Nan Tuo adalah sebagai tempat bertanya dalam setiap permasalahan yang terjadi pada saat itu. Maka sang Dt. Nan Tuo mengatakan kepada orang-orang Jawa tersebut jika memang ingin mengusai daerah Minang ini, maka ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan. Yaitu ada beberapa hal yang akan dipertanyakan kepada orang-orang Minang, jika pertanyaan itu tidak terjawab maka secara otomatis daerah Minang ini menjadi daerah kawasan Kerajaan Majapahit, jika benar mereka harus angkat kaki dari tanah Minang ini.
Kedatangan ke-2, rombongan orang-orang Jawa itu ke tanah Minang dengan membawa dua ekor Itik Angsa, dari kedua Itik Angsa tersebut mana yang jantan dan mana yang betina. Maka sebelum semua itu dijawab, maka dikumpulkan semua niniak mamak pada suatu tempat yang bernama Balai Sidasun. Balai Sidasun adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan orang-orang dan terletak di Jorong Kelarasan Tanjung. Maka mereka bermusyawarah memecahkan permasalahan tersebut. Namun, semua orang tidak tahu bagaimana cara membedakan mana Itik Angsa yang jantan dan Itik Angsa  yang betini. Maka Dt. Nan Tuo-lah yang dapat menjawab semua itu, jika ingin tahu mana itik Angsa yang jantan dan yang betina sangatlah mudah.
Maka keesokan hari waktu orang-orang Jawa itu membawa sepasang Itik Angsa dan bertanya kepada orang Minang. Maka orang Minang memberi makan terlebih dahulu kepada kedua Itik Angsa itu. Setelah kedua itik-itik makan, tidak lama setelah itu itu dijawablah dengan lantang oleh orang Minang. Itik Angsa yang makan terus adalah Itik Angsa betini dan Itik Angsa yang sesekali makan adalah Itik Angsa jantan. Maka, tertebaklah satu buah pertanyaan dari orang-orang Jawa tersebut. Dalam hal ini, “Jika pihak orang-orang Jawa itu menang maka dia berhak menduduki daerah minang ini, akan tetapi jika kalah dia harus pulang ke tanahnya dan memberikan kapalnya beserta isinya.” Seperti itulah kesepakatan terakhir kedua belah pihak antara orang Jawa dan orang Sumatra.
Hari berikutnya orang-orang Jawa itu datang kembali dengan rombongannya, membawa sebatang kayu sama besar kedua ujungnya. Maka, mana yang pangkal dan mana yang ujung. Maka kembali orang Minang ini ke rumah Dt. Nan Tuo, maka disampaikanlah hal tersebut. Dengan kecerdikan Dt. Nan Tuo ini lagi-lagi dia tahu jawabannya. Maka saat sampai pada hari penebakkan itu, maka orang Minang dengan mudah menjawabnya. Dengan cara memasukan kayu tersebut ke dalam air, maka bagian mana yang lebih dulu tenggelam adalah bagian pangka dan yang terangkat itu adalah bagian ujung. Sebenarnya ada dua cara yang disampaikan oleh Dt. Nan Tuo kepada juru bicara tersebut, yang kedua dengan cara mengikat sama panjang kedua kayu itu dan digantung, maka bagian maka yang yang terangkat itulah bagian ujung dan yang jatuh ke bawah adalah bagian pangkal. Karena bagian pangka lebih berat daripada yang ujung.
Maka sekali lagi orang Jawa kalah mutlak lagi dengan pertanyaan yang dilontarkannya kepada pihak Minang. Ada juga sebagian cerita yang mengatakan bahwa ada satu pertanyaan lagi yang dilontarkan kepada masyarakat Minangkabau yaitu menebak ikan didalam air, mana yang jantan dan mana yang betina. Maka dengan bantuan Dt. Nan Tuo yang sangat tinggi ilmu dan pengetahuannya maka dia dapat menyampaikan pesan dan cara menebak pertanyaan yang diberikan orang Jawa itu. Maka pihak pembicara Minang menjawabnya dengan lantang dan jelas. Jika ingin tahu mana ikan yang jantan dan ikan yang betina, awalnya sang juru bicara memperhatikan itu terlebih dahulu. Maka setelah ikan-ikan itu saling berkejar-kejaran dan bermain didalam air. Maka pihak Minang menjawab, ikan yang malenggok atau mendekati ikan satunya itulah yang jantan. Sedangkan ikan yang didatanginya adalah ikan yang betina. Maka sekali lagi pihak atau orang Minang benar menjawab pertanyaan yang diberikan tanah seberang tersebut.
Beberapa kali pihak orang Jawa itu kehilangan cara untuk mengusai tanah Minang itu. Maka mereka tidak lagi mengadu kecerdikan selainkan dengan beradu siapa yang paling tinggi, apakah orang Jawa ataupun orang Sumatra. Maka pihak Minang dan pihak tanah seberang datang ke tanah Minang untuk mengadu siapa manusia paling tinggi, apakah dari tanah Jawa atau tanah Minang ini. Maka, setelah berunding dengan pihak niniak mamak. Maka mereka miminta waktu tiga bulan, karena mereka yakin tidak ada orang yang lebih tinggi dari orang yang dibawa orang Jawa tersebut di tanah Minang ini. Dan juga sampai saat ini keturunan orang Minang tingginya hanya rata-rata. Maka pihak orang Jawa ini menyanggupi usulan atau permintaan dari orang Minang ini. Karena mereka yakin menang untuk kali ini, dan juga peluang untuk menang untuk hal ini ada pada pihak mereka.
Maka lagi-lagi Dt. Nan Tuo berpikir keras untuk dapat menandingi ketinggian orang Jawa tersebut. Akhirnya dia dapat ide, yaitu dengan meletakkan pariuk tanah (tempat memasak nasi) diletakkan diatas anak batang gabuang tiga buah dan lama kelamaan batang gabuang itu semakin tinggi dan tinggi. Maka tibalah hari yang sudah ditunggu-tunggu, orang Jawa itu sudah membawa orang paling tinggi mereka datang ke tanah Minang. Maka mereka menunjuk orang tinggi mereka, akan tetapi saat mereka menanyakan orang tinggi di tanah Minang. Maka berkatalah orang Minag bahwa orang tingginya masih tidur di dalam rumha. Namun mereka tidak percaya dengan hal tersebut dan ingin dia dibangunkan. Namun perwakilan orang Minang memperlihatkan sebuah jemuran celana orang tinggi mereka yang masih dijemur dan terkejutlah semua pihak Jawa itu dengan ukurannya yang sangat besar. Namun mereka masih tidak percaya dengan hal itu dan ingin meihat orangnya. Maka orang Minang manunjuak dari jauh orang tingginya, maka terlihatlah seperti orang yang sedang berdiri dengan kepala hitam padahal hanya pariuk nasi. Maka kali ini mereka tidak berani berkata banyak karena orang tinggi mereka masih dapat dikalahkan oleh orang Minang. Maka mereka kembali dengan rasa tidak puas ke tanah seberang dan tetap berambisi untuk mengusai daerah Minang ini.
Disana mereka berpikir dan berunding bagaimana caranya lagi untuk mengusai tanah Minang tersebut. Akhirnya mereka mendapatkan ide yaitu dengan adu kerbau. Kali ini mereka yakin 100% menang karena kerbau mereka jauh lebih besar daripada kerbau-kerbau orang Minang yang mereka lihat. Maka mereka datang dengan niat untuk mengadu kerbau di tanah Minang. Maka, kali ini Dt. Nan Tuo berpikir keras, di tempat biasa dia duduk yaitu di Bukit Kayu Sabatang (sampai saat ini masih ada batu berbentuk tempat duduk beliau). Beliau memandang ke arah nagari Minang, tiba-tiba saja datang ide cemerlangnya. Maka diperintahkanlah salah seorang dari Minang untuk mencari seekor anak kerbau yang masih kuat menyusui dan pisahkan dia selama satu minggu dari induknya serta jangan dikasih apapun sampai pertandingan itu di mulai.
Maka dicarilah seekor anak kerbau yang diperintahkan Dt. Nan Tuo tersebut. Setelah itu dibuatlah sebuah besi berbentuk tanduk atau Taji dengan istilah Minang (menurut sebagian orang). Maka besi Taji itu di asah sampai tajam dengan batu kiliran taji di tempat pemandian (masih ada sampai sekarang di tempat pemandian Minangkabau dan sudah diperjelas letaknya) dan juga konon katanya ada batu berbentuk lesung atau lasuang yang ceritanya juga memiliki sejarah. Dulunya rakyat Minang ini kaum wanitanya itu tidak seperti sekarang yang bebas tanpa aturan yang mengikat akan tetapi pada masa itu orang-orang wanita atau padusi tidak boleh asal keluar rumah. Jika mereka mandi mengunakan bunga tujuh ragam sebagai penganti sampoh pada zaman sekarang ini. Maka digunakanlah Batu Lasuang itu untuk manunbuak atau menumbuk bunga-bunga tersebut diatas batu tersebut. Alat yang mereka gunakan pada saat itu disebut dengan Pakasai (istilah Minang), sedangkan cara mengunakannya disebut dengan Bakasai (istilah Minang),
Maka setelah Taji atau tanduk yang terbuat dari besi itu sudah tajam dan sampai pada saat hari dimana kerbau itu akan diadu. Maka dipasanglah Taji tersebut ke kepala anak kerbau itu. Adu kerbau itu akan dilangsungkan di Sawah Padang (sampai saat ini masih ada di pinggiran jalan ke Sungayang) banyaklah orang-orang berduyun-duyun untuk menyaksikan pertarungan adu kerbau itu. Pada saat anak kerbau itu dilepaskan, maka secara tiba-tiba anak kerbau itu menyangka kerbau yang besar itu adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung mencari punting susu kerbau besar itu dan kebiasaan anak kerbau yang sedang mengusuh mengadu kepalanya setiap menyusu dengan perut induknya. Maka secara tidak langsung besi Taji atau Minang yang dipasang ditanduk anak kerbau tadi merobek-robek perut induknya. Maka luka yang semakin membesar itu membuat kerbau besar tadi merasa kesakitan dan mencoba berlari kesana-kemari. Karena merasa kesakitan kerbau itu berlari ke arah bawah yang pada saat itu orang-orang berdatangan untuk menyaksikan adu kerbau itu seperti balai, makanya sampai saat ini sawah itu diberi nama Sawah Balai. Kerbau besar itu terus ke arah bawah berlari maka daerah itu diberi nama dengan sebutan Sawah Siambek, karena disana orang-orang menghalangi kerbau besar itu untuk berlari. Bergeser ke atasnya juga diberi nama Sawah Sepatu, karena di sawah itu banyak tertinggal sepadu orang-orang karena kejadian itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kerbau besar itu berlari mengunakan sepatu, yang diberi oleh orang Jawa itu. Mungkin sepatu yang dipakai kerbau itu terlepas disana dan juga ada yang berpendapat bahwa kerbau yang besar itu dipaga dengan ruyuang-ruyuang (bekas sisa dari pohon Enau yang sangat keras) mungkin itu sebabkan dinamakan Paga Ruyung atau Pagaruyung pada saat sekarang ini.
Kerbau yang besar itu masih tidak mampu dihentikan oleh orang-orang, maka kerbau besar itu tiba-tiba merasa bagak atau berani karena sakitnya semakin perih untuk melawan orang-orang yang ingin menangkapnya. Maka tempat itu dinamakan Polak Bagak tempat yang dilalui kerbau itu, bergeser lagi semakin kerbau itu berlari paruik panjangnya semakin keluar dan tertinggal, daerah itu disebut dengan Koto Panjang. Semakin kerbau itu berlari semua isi perutnya semakin tertinggal, maka daerah itu sekarang disebut dengan Simpuruik.
Akhirnya kerbau besar itu jatuh juga sendiri karena semakin parah dan luka yang sebagian isi perutnya sudah tercecer dijalan. Makanya tempat kerbau itu dikuliti dan jangek-nya diambil disebut dengan Sijangek. Maka pada saat itu terdengarnya terikan “Manang kabau...manang kabau..manang kabau.” Itulah nama Minangkabau yang kita kenal sekarang berasal dari sana, dan sudah di yakini sebagai asal muasal penamaan daerah ini sampai saat ini menjadi Minangkabau. Walaupun ada pendapat lain yang mengatakan dari besi yang dipasang ditanduk anak kerbau itu. Serta ada juga yang mengatakan dari banyaknya kerbau di ranah Minang, itu setiap berjalan malenggok yang disebut dengan istilah Minang maenang. Meanang itu seperti bergelombang dan juga tanah Minang ini seperti bergelombang dengan perbukitan, makanya disebut dengan meanang. Lama-kelamaan menjadi Minangkabau. Namun ada juga yang mengatakan bahwa dari banyaknya kerbau-kerbau di nagari Minangkabau ini pada masa dulu. Sedangkan ada juga yang berpendapat dari banyaknya pohon Pinang pada masa dulu yang konon katanya penyembutan huruf “P” dan “M” menjadi kurang fasih. Namun pihak pemerintah setempat sampai saat ini lebih percaya dengan kejadian adu kerbau tersebut karena ada bukti-bukti yang bisa dijadikanb referensi sampai saat ini. Karena pada saat itu belum dikenal dengan buku-buku untuk bisa menulis pada masa sekarang ini hanya cerita dari mulut ke mulut.
Setelah kejadian itu orang-orang Jawa itu mengaku kalah dengan kekalahan adu kerbau tersebut. Agar mereka dapat menyampaikan kekalahan dari tanah Minang ini, maka dibawalah tanduk kerbau besar itu setengahnya dan setengahnya lagi disimpan di Minangkabau sebagai bukti kejadian tersebut. Kira-kira panjang tanduk kerbau besar itu sekitar tiga meter (namun sampai saat ini tanduk itu masih ada di simpang pemandian Minangkabau di rumah gadang Dt. Mojo Basa. Karena tanduk itu sudah terlalu lama tanduk itu sekarang panjangnya sekitar 1,25 meter. Tanduk itu sudah seperti kayu yang keras pada saat ini).
Sebelum orang Jawa itu kembali ke tanah seberang, maka orang Minang menyuruh orang-orang Jawa ini untuk memakai kain dipinggang yang disebut dengan Bakodek (istilah orang Jawa) dan ikat kepala sampai saat ini menjadi tradisi dan kalau bersalaman menyurut atau mundur ke belakang seperti tanda kekalahannya pada orang Minangkabau. Sampai saat ini informasi tentang tanduk besi atau Taji yang dipasangkan di anak kerbau itu tidak ada beritanya dan tidak tahu seorangpun dimana keberadaan tanduk atau Taji tersebut. Serta siapa pemilik anak kerbau itu dan siapa pemilik dan membesarkan anak kerbau itu tidak dapat diketahui lagi dan hanya tanduk kerbau besar itulah yang dapat menjadi saksi kejayaan masyarakat Minangkabau dalam mengalahkan orang-orang Jawa tersebut.
Daerah Minangkabau ini tidak begitu diketahui orang yang mereka tahu hanyalah alam Minangkabau ini. Padahal ada kisah atau kejadian bersejarah dan terletak pada daerah Minangkabau ini. Daerah  Minangkabau ini dibagi menjadi tiga jorong yaitu Jorong satu (Minang Jaya), Jorong dua (Badinah Murni), dan Jorong tiga (Singkaian). Dan juga Dt. Nan Tuo itu dikuburkan di Kuburan Panjang di Sadio dan ada juga yang mengatakan di Bukit Kayu Sebatang. Karena tidak terlalu diketahui orang secara pasti dan juga tidak ditemukan lagi Datuak itu. Tempat kuburannya hanyalah rumah atau dangau (pondok kecil di bukit).
Maka jika anda berkunjung ke daerah ini jangan lewatkan Nagari  Minangkabau ini dan juga bukti peninggalan sejarah di rumah Gadang tersebut. Jangan hanya mendengarkan cerita-cerita yang tidak jelas karena hanya dapat merusak pemahaman kita tentang suatu hal. Akan lebih baik kita dapat mendengar langsung ceritanya dari orang-orang tuo atau niniak mamak kita yang masih hidup dan bukti tanduk kerbau itu disana dari mereka.

Referensi dialog langsung :
1.      Alfani Hamdi, S.Sos. I.Ma (Wali Nagari Minangkabau)
2.      Dt. Mojo Basa (pemelihara tanduk kerbau dari suku Chaniago)
3.      Zulfahri (Ayah dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)
4.      Afrida (Ibu dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)

Gambar: Bukti Tanduk Kerbau kira-kira 1400 tahun yang lalu.


Gambar: Rumah Gadang Dt. Mojo Basa di Minangkabau.


Gambar: Kantor Wali Nagari Minangkabau.

Gambar: Tempat Adu Kerbau di Sawah Padang.

                     
Irsal Husnur
Sumber=irsalhusnur10.blogspot.co.id



BUS DI SUMATRA BARAT MEWARNAI CERITA PERANTAUAN ORANG MINANG TEMPO DULU

Bus Di Sumatra Barat Mewarnai Cerita Perantauan Orang Minang Tempo Dulu


Sebelum ini kita pernah membahas bus Antar Lintas Sumatra sekarang kita membahas arti bus bagi perantau dari Minang. Kisah perantauan orang Minang mungkin sudah berlangsung berbilang abad. Setidaknya hal itu dapat dikesan dari laporan J.T. Newbold, ‘Sketch of the four Menngkbowe states in the interior of the Malayan Peninsula’, Journal of the Asiatic Society of Bengal 14 (January to December 1835: 241-252) yang mencatat kedatangan rombongan pertama penghijrah Minangkabau ke Negeri Sembilan (Malaysia) pada abad ke-14. Demikian pula halnya kisah Nakhoda Muda, seorang Minang yang penjadi pedagang lada di Lampung dan Bantam pada abad ke-17 (lihat: G.W.J. Drewes, 1961). Dalam foto di bawah ini terlihat bus ANS bertengger di atas perahu untuk menyeberangi Sungai Kampar yang cukup lebar di Pulau Punjuang. Di seberang sana tampak pula beberapa bus yang sedang antri menunggu giliran untuk diseberangkan. Foto ini tentu dapat membangkitkan kenangan para perantau Minang yang merintis karier perantauan mereka di tahun 1970-an sampai awal 1980-an. Belum diperoleh informasi berapa ongkos untuk menyeberangkan sebuah bus dengan memakai jasa perahu penyeberangan.

Kisah perantauan orang Minang, dengan demikian, telah melalui rentang waktu yang panjang dengan memakai sarana teknologi transportasi dan komunikasi yang tak henti mengalami inovasi. Akan tetapi belum ada catatan tertulis maupun penelitian mendalam yang mendeskripsikan jalan panjang tradisi perantauan orang Minang itu. Saya membayangkan munculnya sebuah buku selevel disertasi yang memotret dinamika perantauan orang Minang itu dari perspektif sejarah sosial. Paling tidak ada 3 aspek menarik yang bisa dieksplorasi dalam penelitian seperti itu:

1) alat-alat transportasi umum yang digunakan untuk pergi ke rantau atau kembali ke kampung halaman (dari kapal ke bis dan sekarang ke pesawat): siapa yang punya perusahaan-perusahaan bis, bagaimana perusahaan-perusahaan itu dikelola, bagaimana pembayaran ongkos bis oleh perantau.

2) perkembangan rumah makan Padang di sepanjang jalan lintas Sumatra: siapa pemilik rumah makan Padang itu, bagaimana hubungannya dengan para sopir bis.

3) perubahan perspektif tentang rantau akibat perubahan sarana transportasi itu (hal ini bisa digali dari wawancara, kisah-kisah dalam karya sastra, memoar perantau, dsb). Alangkah menariknya disertasi itu, dan tentu saja akan banyak manfaatnya bagi body of knowledgetentang etnis Minangkabau.

Kota Padang pernah memiliki terminal, yaitu, terminal Goan Hoat untuk angkutan kota dan Terminal Lintas Andalas untuk angkutan umum. Pembangunan Terminal Lintas Andalas dilakukan sehubungan dengan makin meningkatnya jumlah kendaraan penumpang di Kota Padang, sehingga tidak tertampung lagi di Terminal Goan Hoat. Terminal Lintas Andalas dioperasikanlah tahun 1972 di bawah pengawasan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya.

BUS UMUM adalah moda transportasi yang penting sejak dulu, apalagi bagi orang Minangkabau yang suka merantau. Dapat bepergian dengan bus pada masa dulu, seperti dapat dikesan dalam foto ini, sangat membanggakan hati, sama seperti naik Alfa Romeo, Rolls-Royce atau Limousine sekarang. Sayang sekali jarang ada museum yang merekam sejarah transportasi di Indonesia. Bus seperti ini sudah tinggal kenangan saja. Dengan foto ini, sedikit banyaknya kita dibawa ke masa lampau sejarah transportasi di negeri kita, khususnya di Minangkabau. Dan ini foto foto bus tempo dulu.
(Busnesia)




Rabu, 18 Juli 2018

MANDE RUBIAH "TOKOH WANITA MINANGKABAU YANG TERLUPAKAN"

Mande Rubiah "Tokoh Wanita Minangkabau yang Terlupakan"

Tidak banyak yang kenal dengan sosok wanita yang satu ini. Mande Rubiah yang bermanakan Rakinah, dalam sejarah masih ada hubungannya dengan Kerajaan Pagaruyuang. Dalam sejarah diceritakan bahwa Mande Rubiah merupakan keturunan Bundo Kanduang Pagaruyuang yang menyelamatkan diri sewaktu terjadinya penyerangan. Ia pergi menyelamatkan dirinya ke Nagari Lunang Silaut, Pesisir Selatan bersama anak dan menantunya.

Masih banyak ketidak jelasan hubungan antara Mande Rubiah dengan Pagaruyuang di Batusangkar. Kenapa seorang bundo kanduang Pagaruyuang sampai ke Lunang? Hubungan kerajaan Inderapura dengan Made Rubiah? Semua cerita itu masih banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab. Bahkan sampai sekarang pemerintahan Sumatera Barat sendiri masih menggali dan mancari informasi dan bukti-bukti sejarah lainnya untuk menjawab teka-teki ini.

Bukti tentang Mande Rubiah tersimpan rapi dalam rumah Made Rubiah yang sekarang telah dijadikan museum oleh pemerintah.  Berapa peninggalan seperti benda pusaka sampai senjata perang masih dapat ditemukan di rumah ini. Selain itu, disekitar rumah Mande Rubiah ditemukan beberapa kuburan tua yang konon kabarnya merupakan makam dari Bundo Kanduang dan anaknya Dang Tuangku beserta istrinya Puti Bungsu. Tidak hanya itu, juga terdapat sebuah makam yang juga dipercaya oleh masayarakat septempat sebagai makam "Cindua Mato" yang terkenal melegenda sebagai alhi siasat perang di minang.

Kajian sejarah dan tambo menyatakan Aditiawarman dan anaknya Ananggarawarman yang berada di Pagaruyuang masih beragama Budha memerintah tahun 1339-1376. Dilanjutkan Sultan Bakilap Alam sampai pada Sutan Usman selaku Kepala Kaum Keluarga Raja Pagaruyuang tahun 1964. Sementara itu menurut keterangan yang disampaikan oleh Barkat (keturunan Mande Rubiah sekarang), keluarga Mande Rubiah masih hutungan tujuh keturunan di Lunang. Jika diperkirakan satu keturunan berumur 50 tahun, maka perhitungan baru sampai tahun 1600an. Hal ini, berarti masih ada hal yang belum ditemukan.

Penemuah sejarah tentang Mande Rubiah ini terbilang baru. Oleh karena itu, masih banyaknya cerita yang masih simpang siur. Rumah Gadang Mande Rubiah baru ditemukan sekitar tahun 1960an, ini dikarenakan adanya pembukaan jalan lintas Sumatera Barat - Bengkulu dan adanya pembukaan daerah untuk Transmigrasi ke daerah Lunang.
Seperti yang di ceritakan sebelumnya, Mande Rubiah adalah salah satu dari Bundo Kanduang dari Kerajaan Pagaruyuang. Siapa Mande Rubiah dan mangapai sampai di Lunang Silaut, kabupaten Pesisir Selatan, masih menjadi tanda tanya besar.
Mande Rubiah dan Bundo Kanduang merupakan orang yang sama. Bundo Kanduang Sang Raja Perempuan dari kerajaan Pagaruyuang dulunya, ketika di Lunang masayakat setempat lebih mengenalnya dengan Mande Rubiah. Bundo Kanduang diangap sebagai guru dan pendekar silat yang Agung. Beliau juga dikenal dengan kesatria pendekar Minangkabau. Ketika terjadipegolakan di Pagaruyuang Bundo Kanduang menyelamatkan diri dan pergi ke Lunang Silaut tempat pangasingan Cindua Mato.

Dari informasi yang didapat, Mande rubiah adalah Raja Minangkabau (Bundo Kanduang) yang bernama Putri Selasih Pinang Masak, anak Sulung dari Adityawarman dengan Putri Jamilan yang disaat itu (akhir abad ke XV) telah memerintah sebagai Raja di Pagaruyung, yang naik tahta menggantikan ayahnya (Adityawarman) untuk menghadapi kemelut dengan Tiang Bungkuk penguasa negeri Sungai Ngiyang. Putri dari Rajo Mudo (Adik Bundo Kanduang) bernama Puti Bungsu yang telah menjadi tunangan Dang Tungku (Putra Bundo Kandung akan dinikahkan dengan putra Tiang Bungkuk bernama Rangkayo Imbang Jayo.

Di malam rencana pernikahan Puti Bungsu, Cindua Mato datang dengan tujuan membawa Puti Bungsu ke Pagaruyuang. Karena malu dan marah Rangkayo Imbang Jayo berniat untuk membunuh Cindua Mato. Pernyataan ini sampai ke pihak Pagaruyuang. Setelah makukan musyawarah akhirnya Cindua Mato diasingkan ke Negeri Pagar Dewa yang terkenal dengan keramatnya. Negeri ini dipimpin masih karebat dari Bundo Kanduang. Negeri Pagar Dewa sekarang lebih di kenal dengan Lunang.
Setelah kepergian Cindua Mato mato dimanfaatkan Rangkayo Imbang Jayo untuk menyerang Pagaruyuang. Serangan itu dilawan oleh masyarakat Pagaruyung dan dipimpin oleh Basa Ampek Balai (berjumlah empat orang) dan Rajo Duo Selo (dua orang rajo adat dan Ibadat). Dalam pertempuran, Rangkayo Imbang Jayo mati terbunuh oleh Rajo Duo Selo bersama pasukannya. Sisa pasukan yang masih hidup pulang ke negeri Sungai Ngiyang dan memberikan dan memberikan berita atas kematian Rangkayo Imbang  Jayo. Tiang Bungkuk sebagai ayah Rangkayo Imbang Jayo marah besar dan bejanji akan membalas perlakuan Istana Pagaruyung dan mengeluarkan pernyataan untuk hanguskan Pagaruyung. Mendengar berita itu, Bundo Kandung berusaha menyelamatkan diri bersama keluarganya ke negeri Pagar Dewa yang sekarang lebih di kenal dengan Lunang Silaut.
Diana DWS
Sumber: www.sumbarprov.go.id

Selasa, 17 Juli 2018

CIMPORONG

Cimporong

Cimporong" ... orang minang mengenal sebagai lampu penerang (lampu togok atau lentera) yang menyebarkan cahaya dari api yang beramunisikan minyak tanah, akibat dari kaca cimporong berbentuk cembung dan mengusir kegelapan disekitarnya.
Ya... itu lah sedikit  profil dari sebuah lampu cimporong, yang berbeda dengan sebatang lilin walaupun fungsi dan gunanya sama, sebagai pengusir kegelapan. Sebatang lilin yang memberanikan dan  mengorbankan dirinya habis lenyap dikala cahayanya tidak bersamanya lagi, yang hanya terang sebatang dalam waktu sepetang.
Cimporong yang layaknya menyebarkan cahayanya kesegala arah memanfaat kan dirinya untuk mengusir kegelapan dan selalu mengisi dirinya dengan minyak tanah sebagai amunisi untuk mencerahkan kegelapan dunia disekitarnya. Bahkan cahayanya tidak akan padam dalam waktu sepetang.

ASAL USUL SUKU SIKUMBANG

Asal-usul Suku Sikumbang

Suku Sikumbang termasuk suku yang banyak berkembang di antara suku-suku Minangkabau. Warga suku ini menyebar di berbagai wilayah Minangkabau baik di luhak, rantau ataupun di perantauan.
Asal-usul Suku Sikumbang
Ada beberapa kata yang terkait dengan asal usul nama suku Sikumbang yaitu kata kumbang. Kumbang bisa berarti sejenis serangga, atau sebuah nama untuk macan tutul (harimau). Sikumbang sangat terkenal di zaman dulu di ranah Minangkabau. Bahkan Sutan Balun yang kemudian bergelar Datuk Perpatih Nan Sebatang diceritakan oleh Gus tf Sakai .Jadi besar kemungkinan dahulu suku Sikumbang adalah orang-orang yang suka berburu dengan menggunakan harimau dan harimau mereka yang terkenal adalah 'si Kumbang' yang kemudian menjadi nama suku mereka.
disuatu desa tertua dalam wilayah minangkabau, yaitunya di pariangan. Suku ini merupakan suku yang berperan sebagai hulubalang nagari. karena dalam suku sikumbang ini,kaum laki-laki berjumlah banyak dan sangat ahli dalam beladiri. Di pariangan, suku ini diutus ke batipuh untuk meredakan perselisihan antara masyarakat batipuh ateh ateh dengan batipuh bawah. yang mana pertikaian di picu oleh perbedaan faham antara budi chaniago dengan koto piliang. pemimpin dari suku ini yaitu seorang pendekar yang diberi gelar TUAN GADANG. seluruh anggota suku sikumbang mengabdikan diri pada Tuan Gadang. atas keberhasilan suku ini meredakan pertikaian di batipuh....tuang gadang diberi gelar hariamau campo.
Suku Sikumbang bersekutu dengan suku-suku lain di Minangkabau terutama Suku Tanjung, Suku Koto, Suku Piliang dan suku lainnya.
Diantara gelar datuk suku ini adalah :
Datuk Kayo
Datuk Bandaro
Datuk Basa Batuah
Datuk Rajo Api
Datuk Mangiang
Datuk Sati
Datuk Bandaro Sati
Datuk Paduko Tuan
Datuk Tunaro
Datuk Palimo Basa
Datuak Sinaro nan Kuniang
datuk majo marajo

sikumbangtown
Anekdot-anekdot Cerdas Haji Agus Salim
(Noviyanto)    


Haji Agus Salim merupakan tokoh besar bangsa Indonesia. Namun siapa yang menyangka di balik ketokohannya yang turut mengubah arah bangsa itu, Haji Agus Salim ternyata suka sekali melontarkan humor cerdas yang terkadang membuat lawan bicaranya tak berkutik. Berikut sedikit dari beberapa anekdot Haji Agus Salim di berbagai kesempatan.

Asap Kretek di Istana Buckingham
Suatu hari pada 1953, Agus Salim (mewakili Pemerintah Indonesia) menghadiri penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris. Acara penobatan diselenggarakan di Istana Buckingham.

Dalam acara itu, Agus Salim melihat Pangeran Philip — yang masih muda — agak canggung menghadapi khalayak ramai yang hadir. Ia tampaknya belum terbiasa menempatkan diri sekadar sebagai pasangan (suami) ratu. Begitu canggungnya, sehingga ia lalai meladeni tamu-tamu asing yang datang dari jauh menghormati peristiwa penobatan isterinya.


Untuk sekadar melepas ketegangan Pangeran Philip, Agus Salim menghampirinya seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya sekitar hidung sang pangeran. Kata Agus Salim kemudian, “Paduka (Your Highness), adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?”

Setelah mencoba menghirup-hirup bau asap rokok kretek itu, sang pangeran lalu mengakui tidak mengenal aroma rokok tersebut. Sambil tersenyum Agus Salim lalu mengatakan, “Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi (menjajah) negeri kami.”

Sang pangeran pun tersenyum dan dengan lebih luwes bergerak dan meladeni tamu-tamunya yang datang dari jauh.

Bergmeyer pun tidak Berkutik
Suatu kali, ketika menjadi anggota Volksraad, H Agus Salim berpidato dalam bahasa Indonesia–ketika itu masih bahasa Melayu. Ketua Volksraad langsung menegurnya dan memintanya berpidato dalam bahasa Belanda.

Salim menjawab, “saya memang pandai berpidato dalam bahasa Belanda, tapi menurut peraturan Dewan saya punya hak untuk mengeluarkan pendapat dalam bahasa Indonesia.”

Salim terus berpidato dalam bahasa Indonesia, dan ketika ia mengucapkan kata ‘ekonomi’, seorang Belanda Bergmeyer dengan maksud mengejek bertanya, “Apa kata ekonomi itu dalam bahasa Melayu?”

Dengan tangkas Agus Salim berkilah, “Coba tuan sebutkan dahulu apa kata ekonomi itu dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Indonesianya?”

Bergmeyer hanya bisa melongo, tidak dapat berkata-kata lagi. Dan, para peserta sidang pun tertawa. Memang, kata ‘ekonomi’ tidak ada salinannya yang tepat dalam bahasa Belanda.

Disambut dengan Upacara
Pada 1927, Agus Salim mendapat undangan mengikuti kongres Islam di Mekah. Waktu itu pemerintah kolonial Belanda mempersulitnya untuk memperoleh paspor. Setelah berupaya keras, akhirnya ia berhasil memperoleh paspor itu di Surabaya.

Sayangnya, ketika itu kapal yang akan ke Arab Saudi, kapal Kongsi Tiga, sudah akan berangkat dari Jakarta. Agus Salim tidak akan dapat mengejar kapal itu, karena perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memakan waktu cukup lama.

Mengetahui hal itu, HOS Cokroaminoto mengirim telegram kepada perwakilan Kongsi Tiga di Jakarta. Isinya: Jika kapal itu berangkat tanpa Agus Salim, tahun depan tidak akan ada seorang pun jamaah haji yang akan berangkat dengan kapal Kongsi Tiga. Kapten kapal pun terpaksa menunda keberangkatan selama 2×24 jam.

Ketika Agus Salim tiba, ia disambut dengan upacara kehormatan oleh awak kapal. Mereka berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pintu masuk. Ketika Agus Salim lewat, mereka memberinya hormat.

Setelah di kapal, Agus Salim bertanya kepada sang kapten, “Mengapa saya disambut dengan cara seperti itu? Bukankah saya hanya orang biasa?”

Dengan agak jengkel si kapten menjawab, “Kapal ini tidak akan menunda keberangkatannya selama 2×24 jam hanya untuk menunggu orang biasa!”

Paling Pintar
Antara tahun 1906-1911, Agus Salim bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah. Waktu itu ia sering ‘bertengkar’ dengan atasannya, Konsul Belanda.

Meskipun begitu pekerjaannya selalu beres, sehingga tidak ada alasan untuk mengatakannya sebagai pemalas. Ia tidak dapat dicap sebagai ongeschikt, tidak terpakai. Bahkan ia sering mengerjakan pekerjaan yang banyak meringankan beban atasannya, dan ia pun dihargai sebagai pembantu yang berjasa.

Dalam kesempatan bertukar-pikiran yang tajam dengan atasannya, Konsul Belanda itu menyindir Agus Salim dengan berkata, “Salim, apakah engkau kira bahwa engkau ini seorang yang paling pintar di dunia ini?”

Dengan tangkas Haji Agus Salim menjawab, “Itu sama sekali tidak. Banyak orang yang lebih pintar dari saya, cuma saya belum bertemu dengan seorang pun di antara mereka.”

Jawaban Agus Salim terasa sebagai pukulan bagi sang Konsul. Tetapi apa akan dikata? Karena itu, alangkah girang hati Konsul Belanda saat itu ketika tahu bahwa Agus Salim pulang ke Indonesia pada tahun 1911.LI-07
Sumber=www.lensaindonesia.com

RUMAH MAKAN MASAKAN PADANG PERTAMA DI KOTA PADANG

Rumah Makan Masakan Padang Pertama di Kota Padang
Ketika pulang ke Padang minggu lalu, ada satu pemandangan yang janggal. Saya dan teman-teman alumni SMP 8 makan siang di Restoran Sederhana di dekat GOR H. Agus Salim. Pemandangan yang janggal itu adalah tulisan “Masakan Padang” pada papan nama restoran itu, seperti pada foto yang saya jepret di bawah ini:

Tentu saja janggal, sebab di Padang — di negeri asalnya sendiri — restoran waralaba “Sederhana” masih perlu menuliskan “Masakan Padang” pada papan namanya. Apakah gambar rumah adat minang dan bangunan restoran yang berasitektur rumah gadang belum cukup menjelaskan identitas masakannya?

Di Jawa restoran Sederhana itu tersebar di mana-mana, di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya. Maklum sistem pemasarannya adalah waralaba — sebagaimana pada Restoran Simpang Raya — sehingga siapapun dapat membuka rumah makan berlabel “Sederhana” ini asal punya modal. Embel-embel “Masakan Padang” seolah-olah menjadi “wajib” dicantumkan pada setiap rumah makan khas minang di luar Provinsi Sumbar untuk menegaskan identitas masakannya, termasuk restoran Sederhana itu.

Di Padang dan di Sumatera Barat sendiri tidak ada rumah makan padang, juga tidak ada tulisan “Masakan Padang” pada papan nama rumah makannya. Orang Minang menyebut masakannya dengan “masakan urang awak”. Masakan urang awak itu banyak ragamnya tergantung pada daerahnya, ada masakan khas Kapau, masakan khas Payakumbuh, masakan khas Sijunjung, masakan khas Pariaman, dan lain-lain. Lain nagari lain pula jenis masakannya. Penamaan “masakan Padang” hanya mengacu pada masakan khas dari kota Padang saja. Orang dari Bukittinggi misalnya, tidak senang disebut “orang Padang”, begitu pula masakannya mereka tidak mau disebut “masakan Padang”. Penamaan “masakan Padang” adalah dari segi kepraktisan saja, karena orang di luar Sumbar tentu tidak mengenal nama Bukittinggi, Payakumbuh, Sawahlunto, dan sebagainya. Mereka hanya mengenal Padang, orang Padang, dan tentu saja masakan Padang.

Oleh karena itu, pencantuman tulisan “Masakan Padang” pada restoran Sederhana yang di Padang itu tentu berlebihan. Kata anak muda zaman sekarang: lebay. Barangkali inilah rumah makan masakan Padang pertama di kota Padang. Nama rumah makannya sederhana, tapi harga makanannya tidak sederhana.

Sumber=rinaldimunir.wordpress.com

Lie Saay Orang Cina Pendiri Pasar Raya Padang

Lie Saay, Orang Cina Pendiri Pasar Raya Padang
Yose Hendra

Pasar Raya Padang tetap berdiri kokoh ditengah kepungan pasar modern. Pasar yang berusia lebih dari 100 tahun ini tetap menjadi urat nadi Kota Padang.

Kondisinya yang masih berantakan tidak lantas ditinggal. Lihat saja sore hari, orang-orang menjubeli pasar ini.

Lalu bagaimana mulai pasar penanda perjalanan Kota Padang ini?

Adalah Lie Ma Saay, seorang Kapten Cina yang memulainya. Cukong Candu ini melihat usaha pasar sangat menarik ketika melihat usaha serupa yang berkembang di bantaran sungai Batang Arau, sekitar kawasan Pondok sekarang.

Lie Saay adalah seorang cukong candu yang tinggal di Padang. Diduga, kekayaannya bersumber dari monopoli bisnis candu.
Pada pertengahan abad 19, seperti yang ditulis oleh Rusli Amran dalam buku Padang Riwayatmu Dulu ada sejumlah pasar di kawasan pinggir Batang Harau yang dibuka oleh swasta. Seperti Badu Ata & Co dengan membuka Pasar Mudik. Lalu, Gho Lam San, mendirikan pasar antara Kampung Jawa dengan Pasar Mudik.

Beberapa gabungan pengusaha Cina juga mendirikan pasar Tanah Kongsi. Tapi kebakaran menjadi momok menakutkan. Hampir semua pasar ini pernah dilalap api. Seperti kasus kebakaran Pasar Mudik tahun 1882.

Lie Saay sendiri pernah mendirikan pasar di Kampung Cina (Pondok), dimana pengelolaannya diserahkan kepada Poa Leng. Namun Poa Leng menyalahgunakannya, sehingga usaha ini gagal.

Bagaimana pun desakan pengembangan Padang menjadi hal yang tidak terelakkan. Perkembangan kota mengarah ke arah utara, karena masih lapang. Lie Saay menangkap peluang dengan membuka pasar di kawasan Pasar Baru atau sekitar Kampung Jawa.

Ihwalnya, Lie Saay membuka pasar kecil. Seperti usaha yang dibuka pertama kali, pasar ini belum ramai dikunjungi orang. Terlebih, empat pasar yang eksis seperti Pasar Mudik, Tanah Kongsi, pasar milik Gho Lam, dan pasar yang masih dikelola oleh Lie Saay sendiri.

Lie Saay cukup cerdik. Dia menghantam kompetitor dengan membajak orang terbaiknya. Hal ini dilakukan kepada Pasar Mudik. Nurut namanya. Dia merupakan manajer dari Pasa Mudik yang dimiliki oleh Badu Ata.

Bukan menjadikan Nurut sebagai manajer pasar baru di Kampung Jawa, Lie Saay justru menempatkan dia sebagai pengelola di bidang angkut kopi. Alhasil, tanpa kepemimpinan Nurut yang terkenal handal, Pasar Mudik melemah.

Lalu bagaimana dengan pasar Tanah Kongsi? Sama halnya dengan Pasar Mudik, karena kepemilikannya banyak orang, lambat laun mulai pecah kongsi, dan tak kuat bersaing dengan pasar yang dikelola oleh Lie Saay.

Pasar Gho Lam, mampu menjadi pesaing pasar yang dikelola Lie Saay dalam cukup waktu lama. Namun, api menjadi musuh terbesar, sehingga pasar ini pun pudur ditengah persaingan dengan pasar yang dikelola Lie Saay jelang berakhirnya abad 19.

Alkisah, Gho Lam, menjual pasar ini kepada Goen Hat, masih keluarga dengan Lie Saay. Pasar yang menjadi warisan Goen Hat ini tidak jauh dari Kampung Jawa, pasarnya Lie Saay.

Lambat laun penjual dan pembeli berkelindan mencipta keramaian. Antara pasar yang dikelola Goen Hat dan Li Saay pun menyatu menjadi tempat jual beli yang dikenal Pasar Raya Padang.

Pengelolaan Pasar Raya secara individu berdampak pada peningkatan kekayaan Lie Saay. Betapa tidak, dia memonopoli pasar, dengan harga sewa tempat yang ditetapkan secara pribadi.

Lie Saay sebagai seorang cukong mempunyai koneksi luas. Dia juga seorang dermawan. Seperti menjadi donator pembangunan sebuah gereja Protestan (Koepekerk) yang diresmikan tahun 1881 di Padang.
Hal ini kemudian menuai kritik dari banyak orang. Mereka mengkritik pasar tidak seharusnya dikelola oleh swasta melainkan oleh pemerintah.

Pada akhirnya, seperti yang ditulis Rusli Amran, pemerintah Kotapraja Padang mengambil alih pasar dari tangan Lie Saay dengan mengganti aset yang dia miliki.

Siapa Lie Saay sebenarnya? Lie Saay adalah seorang cukong candu yang tinggal di Padang. Diduga, kekayaannya bersumber dari monopoli bisnis candu.

Oleh pihak Belanda hal ini tidak masalah, justru diposisikan sebagai orang penting karena kekayaannya.

Bulan Desember 1860, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan dengan isi lebih kurang 1 kapten dan 2 letnan Cina untuk keterwakilan masyarakat Cina.

Lie Saay menjadi orang pertama yang ditunjuk setelah keluar keputusan ini. Dia menggantikan pimpinan etnis Cina sebelumnya, Lie Piet. Tahun 1883, Lie Saay bahkan diangkat menjadi mayor, gelar yang disandangnya hingga akhir hidup pada tahun 1898.

Lie Saay sebagai seorang cukong mempunyai koneksi luas. Dia juga seorang dermawan. Seperti menjadi donator pembangunan sebuah gereja Protestan (Koepekerk) yang diresmikan tahun 1881 di Padang.

Saking kayanya, seperti yang dikutip dari Empire of Reason (Exact Sciences in Indonesia, 1840-1940) yang ditulis oleh Lewis Pyenson, Lie Saay menjadi seorang yang memiliki teleskop terbesar di Hindia Timur.

Teleskop ini kemudian dihibahkan ke Observatorium Bosscha.

Kekayaannya dan kedekatannya dengan pejabat Belanda dirasa kuat menggampangkan Lie Saay untuk memonopoli apa pun, termasuk pasar pada awalnya.
(Foto=Pasar Raya Padang atau dulunya pasar di Kampung Jawa, yang didirikan oleh seorang Kapten Cina, Lie Saay, pada tahun 1880-an. Lalu pemerintah mengambil alih, dan menjadi Pasar Raya Padang hingga hari ini. (Foto: http://media-kitlv.nl/)
(Foto=Suasana Pasar Mudik tahun 1930. Pasar ini didirikan oleh pribumi, Badu Ata & Co. Sempat ramai sebelum kehadiran pasar di Kampung Jawa atau Pasar Raya yang dirintis oleh Lie Saay. (Foto: http://media-kitlv.nl/)

Sumber=padangkita.com

NAGARI SUNUA

Nagari Sunua
NAN SABARIS – Kenagarian Sunua, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman diyakini bermula dari sumua atau sumur, sebuah tempat mandi yang airnya mesti disauk untuk bisa dimandikan banyak pihak dikampung itu dulunya.
Dilaporkan, sumua tersebut terletak di kampung Tingkalak, Korong Kampuang Aua. Jejaknya hingga saat ini masih ada. Hal itulah yang dianggap tempat bermulanya Nagari Sunua.Ada cerita lisan turun-temurun mengatakan, bahwa Nagari Sunua mulanya bernama Sumua, yang artinya tempat menimba air. Tetapi, yang dimaksud sumua disini, disamping menimba air, juga sekalian menimba ilmu. Sebab, disana ada seorang ulama bernama Anduang Ijuak yang sangat terkenal, lantaran ketinggian ilmunya. Kepada Anduang Ijuak demikian banyak orang belajar ilmu agama dan ilmu dunia, alias silek.
Dikabarkan juga, silek Anduang Ijuak itu sangat terkenal jauh keseantero ranah Minangkabau ini. Sebelum seseorang belajar dengan Anduang Ijuak, terlebih dahulu membersihkan diri dengan mandi dan berwuduk di sumua yang ada di Tikalak, Korong Kampuang Aua, surau tempat Anduang Ijuak mengembangkan pengajian zahir dan bathin itu. Pada abad ke-19 hiduplah seorang ulama yang bernama Syekh Daud Sunua. Dia dikenal sebagai ulama yang membawa misi perubahan alias pemurnian ajaran Islam dari bid’ah dan terlalu bercampur dengan praktek adat-istiadat. Paham ke agamaan Syekh
Daud Sunua terkenal berseberangan dengan Ulama yang ada di Ulakan, sebagai pusat Syatthariyah. Dia mengarang sejumlah syair yang terkenal. Mulai dari syair tentang Makkah, Madinah, Rukun Haji dan syair Sunua itu sendiri.
Gerakan pemurnian Islam yang dibawa Syekh Daud Sunua, adalah imbas dari gerakkan tiga orang haji di daerah darek, Haji Miskin, Haji Sumaniak dan Haji Piobang. Atau yang lebih dikenal dengan gerakan paderi.
Syekh Daud Sunua adalah seorang ulama yang pernah tinggal di Makkah, dan merampungkan syair Sunua diperantauannya, Trumon, sebuah kerajaan kecil yang kaya dengan perdagangan lada di pantai barat Aceh. Dalam syairnya itu, yang juga disebut sebagai otobiografi-nya, Syekh Daud Sunua sempat berkeluh kesah tentang perlakuan rang kampungnya sendiri, masyarakat Sunua yang cenderung membiar kannya diratau Trumon demikian.
Pada masa perjuangan negara dalam mempertahankan kemerdekaan pada 1945-1950, di Nagari Sunua juga terkenal dengan seorang pejuang, Mahyuddin Tonek namanya. Pada masa perperangan, dia berhasil merekrut sejumlah pemuda yang ada di Sunua, Kurai Taji dan nagari sekitarnya untuk dilatih kemiliteran. Digambarkan, sangat banyak para pemuda yang pada saat itu bergabung dan ikut memberikan sumbangsihnya buat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, dari berbagai ancaman yang terus menggerogoti. Mahyuddin Tonek dimakamkan di Sunua.
Menandakan dia seorang pejuang, diatas pusaranya ditancapkan sangsaka merah putih dengan bambu runcing.
Melihat kondisi demikian, boleh dikatakan, Sunua adalah nagarinya orang-orang hebat. Bisa dibayangkan, betapa kehebatan seorang Anduang Ijuak. Dari pergolakan ilmu agama dan ilmu dunia yang diajarkannya itulah lahirnya sebuah nagari. Begitu juga Syekh Daud Sunua, seorang ulama nyentrik dizamannya. Dimana, saat itu hanya yang lazim budaya lisan. Sementara, Syekh Daud Sunua mau tampil berbeda dari kelaziman ulama yang pada saat itu berkiblat ke Ulakan, dibawah pengaruh Tariqat
Syatthariyah. Dan terakhir, Mahyuddin Tonek yang mampu menanamkan nilai-nilai kejuangan ditengah keterbatasan masyarakat kampungnya sendiri, Sunua.
Walinagari Sunua, Basra melihat gema silek Anduang Ijuak kini nyaris hilang dari peredaran zaman. Hal itu tentu sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman yang selalu berubah setiap masanya.
Namun demikian, Anduang Ijuak telah mampu meletakkan pondasi dasar bagi pergolakan masyarakat itu sendiri. “Sebab orang dulu, disamping mendalami ilmu agama, juga diajarkan seni bela diri yang dikenal dengan silek demikian, guna untuk menyelamatkan diri dari berbagai ancaman,” kata dia pada Singgalang, Minggu (12/2). Sebagai pemerintahan terendah, Sunua membawahi 14 korong. Masing-masing; Korong Kampuang Kandang Koto Gadih, Kampuang Lintang,
Kabun, Pakotan, Olo, Pintir Kayu, Padang Kalam, Pasar Baru, Kampuang Jambak, Taluak Nibuang, Kampuang Aua, Kampuang Tangah, Koto Rajo dan Korong Pautan Kabau. Dua korong diantaranya, Pasar Baru dan Kampuang Jambak berada di pinggir pantai. Boleh dikatakan, korong demikian adalah korong siaga bencana.
rahmat triputra
Sumber=nagarisunur.blogspot.co.id

Senin, 16 Juli 2018

PAKAIAN PEREMPUAN MINANG ZAMAN DULU

Pakaian Perempuan Minang Zaman Dahulu

SUTANPADUKOBASA

Pakaian Perempuan Minangkabau pada masa dahulu. HIngga penghujung abad ke-20 pakaian ini masih bertahan di Minangkabau. Namun semenjak permulaan abad 21 maka pakaian khas orang Minang ini mulai menghilang. Bahkan sekarang jika diperlihatkan pakaian serupa ini maka akan dikatakan oleh orang Minang nan pandir-pandir sebagai “Baju Urang Malaysia”.
Perempuan ialah lambang kehormatan bagi orang Minangkabau, mereka dimuliakan dan dituahkan dengan Rumah Gadang dan harta pusaka. Sedangkan lelaki hanya dituahkan dengan Gelar Pusaka. Namun banyak jua orang Minang yang tak begitu faham dengan adat serta orang luar yang memandang adat Minang ini dengan penuh prasangka dan cemburu. Mereka semua berpendapat berlainan..

Pakaian kemualiaan seorang perempuan Minangkabau ialah Baju Kurung. Pakaian ini sebenarnya tidak hanya dipakai oleh perempuan Minangkabau saja, akan tetapi seluruh perempuan di Alam Melayu menggunakannya. Saat ini, hanya orang-orang Melayu di Malaysia yang masih mempertahankan pakaian ini. Sehingga banyak orang Minangkabau yang tak faham apabila disebut perihal baju kurung maka mereka akan berseru “O baju yang serupa dipakaia oleh orang Malaysia itu..?”

Sungguh sangat kasihan sekali orang Minangkabau, telah lupa dengan jati diri, telah lupa dengan diri sendiri.

Baju kurung merupakan baju yang lapang tidak berlekuk seperti kebaya. Lurus kebawah dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh perempuan, panjangnya mencapai betis kaki. Kemudian di bawahnya digunakan kodek yakni dari kain sarung dengan jenis bernama “Kain Sarung Jawa”. Kodek dipakai sebagai ganti rok, rok belum dikenal oleh orang dahulu atau tidak ada dalam kebudayaan orang Minangkabau.

Baju kurung dahulu rata-rata ialah baju kurung basiba, yakni tidak berjahit dibahu melainkan di siku. Baju jenis ini sudah jarang kita temui di Minangkabau pada masa sekarang. Telah habis termakan zaman, ditinggalkan oleh anak kamanakan. Tinggal kenangan bagi orang tua renta, memandang dengan pahit pakaian anak gadis sekarang.

“Mungkin baju kuruang akan tamat riawayatnya seiring dengan khatamnya umur yang ada pada badan..” begitulah kira-kira isi hati mereka.

Kemudian, pakaian ini dihiasi dengan selendang bagi perempuan-perempuan yang tidak suka memakai lilik. Selendang ada yang sekedar jadi hiasan di bahu ataupun leher, ada juga yang dipakai sebagai kerudung. Bagi perempuan yang agak “preman” mereka hanya menjadikan selendang sekedar hiasan. Bagi yang agak bataratik agak sedikit mereka akan menutupi rambut mereka dengan selendang tersebut maka jadilah kerudung. Bagi yang kuat agamanya, maka mereka akan memakai lilik.[1]

Lilik ialah serupa dengan jilbab hanya saja berbeda pada bentuk dan teknik pemakaian. Pemakaian lilik sangatlah payah (rumit). Sudah tidak dipakai oleh kaum perempuan zaman sekarang karena dianggap menyusahkan. Kalau tak salah, hingga sekarang, anak sekolah MTsN dan MAN masih memakainya.

Lilik berupa kain kerudung berukuran lebar sekitar 60 cm dan panjang sekitar 1,5-2 m. Dinamakan lilik karena teknik pemakainya memanglah dililitkan ke kepala. Lilik lazim dipakai oleh orang-orang zaman dahulu. Pada masa sekarang mulai banyak ditinggalkan. Bahkan anak gadis sekarang tidak pandai atau tahu cara memakai lilik.

[1] Secara harfiah berarti “lilit”
Sumber=soeloehmelajoe.wordpress.com

KARAMBIA

"KARAMBIA"
Sebelum anda membaca tulisan ini lebih lanjut, tolong hilangkan prasangka jelek yang mungkin akan terbersit di benak masing-masing setelah membaca judul di atas. Akhir-akhir ini istilah karambia tiba-tiba naik daun di kalangan anak-anak muda. ”eee karambia” begitu kata yang terlontar dari seorang teman menunjukkan rasa kekesalannya pada sesuatu. Entah apa salah karambia sehingga namanya sering terbawa serta.

Saya mengangkat tema ini bukan karena saya berasal dari daerah pengekspor karambia terbesar di Sumatera Barat sehingga saya biasa dipanggil ”ajo” yang selalu diidentikan dengan karambia, baruak, sate, dan sala lauak-nya.

Bukan-bukan itu, tiba-tiba saja saya teringat pada sebuah hasil diskusi dengan teman-teman se-profesi di kafe rektorat mengupas habis tentang karambia sampai ke santan-santannya.

Sungguh apes nasib karambia alias buah kelapa ini. Kenapa begitu? Coba simak proses perjalanan hidup buah karambia yang memiliki batang dengan tinggi rata-rata 10-15 meter. Mungkin karena alasan ini buah kelapa/karambia diambil oleh baruak atau binatang yang masih satu jenis dengan kera.

Kalau diperhatikan cara baruak tersebut menurunkan buah karambia setelah memilih-milih karambia yang sudah masak, lalu memilin-milin agar tampuk buah tersebut lepas. Apabila tidak mau lepas biasanya dibantu oleh kaki si baruak, sehingga kelihatan bahwa karambia itu lepas dari tampuknya setelah mendapatkan tendangan dari si baruak.

Bayangkan apa yang akan ditemui pertama oleh karambia setelah terjun bebas radius 10-15 meter akibat tendangan si baruak tadi, kalau tidak tanah pasti batu atau berantuk dengan teman yang lebih dulu turun ke bawah. Mungkin menurut perasaan si karambia situasi sudah kembali normal alias aman. Ternyata belum, beberapa saat pasca sampai di tanah, ia ditusuk dengan sulo (alat pengupas sabut/kulit luar buah kelapa) hingga menjadi botak tanpa pelindung. Tidak sampai disitu saja penderitaan yang dialami karambia, setelah di-sulo melekat pula punggung ladiang (golok) di badan sehingga karambia pecah menjadi dua keping. Belumlah sempat beristirahat, kulit dalamnya ditempelkan pada besi paku yang berputar sangat cepat membuat kulit tersebut rontok dalam ukuran kecil-kecil.

Setelah lepas kulit dalamnya, batok kelapa/tempurung nama kitanya di bakar sampai menjadi arang yang dapat dimanfaatkan untuk membakar jagung, ikan, sate, dll. Sedangkan kulit dalam tadi disiram dengan air panas. Tiba-tiba masuklah tangan manusia meremas-remas, dan baru afdhal remasannya tersebut kalau gigi bawah dan atas mereka bertaut. Setelah berusaha menahan sakit, setelah disaring karambia berubah nama menjadi santan dan langsung dimasukkan ke dalam kuali untuk dimasak. Setelah mendidih, santan tadi harus berusaha menahan panas, tiba-tiba masuk teman baru yang ia pun tidak tahu dari mana datangnya. Teman baru bergabung itu bernama jariang alias jengkol sehingga karambia tidak sendirian lagi.

Setelah itu, mereka semua dipindahkan ke piring untuk dihidangkan. Menurut pemikiran si karambia mungkin sudah selesai cobaan bagi dirinya. Mereka siap untuk disantap, tapi apa yang didapatkan karambia? Bukan sebuah penghargaan yang didapatkan tapi malah yang mendapat penghargaan hanya si jariang. ”ondeh yo lamak gulai jariang kau Piak ! ” begitu komentar yang didengar oleh karambia setelah orang-orang memakannya. Bahkan semua lupa bahwa yang paling marasai (sengsara) adalah dirinya. Tetapi sampai hari ini karambia tidak pernah protes. Ia menerima semua itu dengan sabar dan tabah.

Allah Maha Adil, berkat kesabaran dan ketabahan karambia, ia diberikan banyak kelebihan dari Pencipta. Pertama, tidak satupun mulai dari batang, buah, daun bahkan sampai ke akar-akarnya yang tidak bermanfaat. Kedua, ia tidak memerlukan pupuk dan perawatan ekstra untuk tumbuh dan berkembang, ia bisa tumbuh subur sendiri terutama di daerah pesisir pantai. Ketiga, Diberi anugerah untuk dapat berbuah setiap waktu sehingga kita tidak pernah mendengar musim buah kelapa, ya khan?

Dan banyak lagi, kelebihan lain yang tidak tersebutkan. Jadi ada sebuah nilai yang bisa diambil dari filosofi karambia di atas yakni apabila kamu jatuh ke dalam berbagai cobaan dalam hidup ini maka jalanilah dengan sabar sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Sudut Ruangan Bagian Kepegawaian Unand
Maret 2008

Jumat, 13 Juli 2018

Minangkabau Tidak Sebatas Sumatera Barat

MINANGKABAU TIDAK SEBATAS SUMATERA BARAT

Sangat banyak ditemukan akhir - akhir ini pemahaman orang yang mengatakan bahwa minangkabau hanyalah sebatas sumatera barat. Apakah pemahaman itu benar adanya? Menjadi sebuah pertanyaan yang perlu kita bahas lebih dalam. Mari kita lihat tambo adat berikut ini yang membahas batas - batas wilayah Minangkabau:

Dari Sikilang Aia Bangih
Hingga Taratak Aia Hitam
Dari Durian Ditakuak Rajo
Hingga Sialang Balantak Basi

Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang. Secara lengkapnya, di dalam tambo dinyatakan bahwa Alam Minangkabau (wilayah Minangkabau) adalah sebagai berikut:

Nan salilik Gunuang Marapi
Daerah Luhak nan Tigo
Saedaran Gunuang Pasaman
Daerah di sekeliling Gunung Pasaman
Sajajaran Sago jo Singgalang
Daerah sekitar Gunung Sago dan Gunung Singgalang
Saputaran Talang jo Kurinci
Daerah sekitar Gunung Talang dan Gunung Kerinci
Dari Sirangkak nan Badangkang
Daerah Pariangan Padang Panjang dan sekitarnya
Hinggo Buayo Putiah Daguak
Daerah di Pesisir Selatan hingga Muko-Muko
Sampai ka Pintu Rajo Hilia
Daerah Jambi sebelah barat
Hinggo Durian Ditakuak Rajo
Daerah yang berbatasan dengan Jambi
Sipisau-pisau Hanyuik
Daerah sekitar Indragiri Hulu hingga Gunung Sailan (Gunung Sahilan, Kampar)
Sialang Balantak Basi
Daerah sekitar Gunung Sailan dan Singingi
Hinggo Aia Babaliak Mudiak
Daerah hingga ke rantau pesisir sebelah timur
Sailiran Batang Bangkaweh
Daerah sekitar Danau Singkarak dan Batang Ombilin
Sampai ka ombak nan badabua
Daerah hingga Samudra Indonesia
Sailiran Batang Sikilang
Daerah sepanjang pinggiran Batang Sikilang (Pasaman Barat)
Hinggo lauik nan sadidieh
Daerah yang berbatasan dengan Samudra Indonesia
Ka timua Ranah Aia Bangih
Daerah sebelah timur Air Bangis (Sungai Beremas, Pasaman Barat)
Rao jo Mapat Tunggua
Daerah di kawasan Rao dan Mapat Tunggua
Gunuang Mahalintang
Daerah perbatasan dengan Tapanuli selatan
Pasisia Banda Sapuluah
Daerah sepanjang pantai barat Sumatra
Taratak Aia Hitam
Daerah sekitar Silauik dan Lunang
Sampai ka Tanjuang Simalidu
Daerah hingga Tanjung Simalidu
Pucuak Jambi Sambilan Lurah
Daerah sehiliran Batang Hari
Dari tambo yang diatas maka terlihatlah wilayah Minangkabau samapai mana batasnya. Untuk lebih jelasnya mana saja yang masuk wilayah Minangkabau dapat kita lihat didalam pembagian wilayah rantau dibawah ini:

1. Rantau Luhak Tanah Data
a. Rantau Nan Kurang Aso Duo Puluah
Lubuak Ambacang
Lubuak Jambi
Gunuang Koto
Benai
Pangian
Basra
Sitinjua
Kopa
Taluak Ingin
Inuman
Surantiah
Taluak Rayo
Simpang Kulayang
Aia Molek
Pasia Ringgit
Kuantan
Talang Mamak
Kualo Thok

b. Rantau Pasisia Panjang
Batang Kapeh
Kuok
Surantiah
Ampiang Perak
Kambang
Lakitan
Punggasan
Aia Haji
Painan
Tarusan
Tapan
Lunang
Silauik
Indropuro

c. Ujuang Darek Kapalo Rantaunya
Anduriang Kayu Tanam
Guguak Kapalo Hilalang
Sicincin
Toboh Pakandangan
Duo Kali Sabaleh Anam Lingkuang
Tujuah Koto
Sungai Sariak.

2. Rantau Luhak Agam
a. Nagari-nagari pantai barat Sumatera
Pasaman Barat
Pasaman Timur
Panti
Rao
Lubuak Sikapiang
dll

b. Ujuang Darek Kapalo Rantaunya
Palembayan
Silareh Aia
Lubuak Basuang
Kampuang Pinang
Simpang Ampek
Sungai Garinggiang
Lubuak Bawan
Tigo Koto
Garagahan
Manggopoh

3. Rantau Luhak Limopuluah
Mangilang
Tanjuang Balik
Pangkalan
Koto Alam
Gunuang Malintang
Muaro Paiti
Rantau Barangin
Rokan Pandalian
Kuatan Singingi
Gunuang Sailan
Kuntu
Lipek Kain
Ludai
Ujuang Bukik
Sanggan
Tigo Baleh Koto Kampar
Sibiruang
Gunuang Malelo
Tabiang
Tanjuang
Gunuang Bungsu
Muaro Takuih
Pangkai
Binamang
Tanjuang Abai
Pulau Gadang
Baluang Koto Sitangkai
Tigo Baleh
Lubuak Aguang
Limo Koto Kampar Kuok
Salo
Bangkinang
Rumbio
Aia Tirih
Taratak Buluah
Pangkalan Indawang
Pangkalan Kapeh
Pangkalan Sarai
Koto Laweh

4. Rantau Nan Sambilan (Negeri Sembilan) Malaysia
Jelai
Jelebu
Jehol
Kelang
Naning
Pasir Besar
Rembau
Segamat
Sungai Ujong

Dari penjelasan diatas dapat kita lihat dan bayangkan seberapa luasnya Minangkabau. Luasnya bahkan melebihi luas wilayah sumatera barat yang sekarang ini terlebih lagi wilayah Minangkabau sampai ke negeri sembilan Malaysia. Sekarang apakah kita masih akan mengatakan bahwa wilayah Minangkabau hanya pasaman, solok, payakumbuh, bukittinggi, padang dll? Tidakkah kita menyadari bahwa kita yang mengaku sebagai orang Minangkabau telah mengerdilkan Minangkabau itu sendiri dengan tidak mengakui wilayah - wilayah tersebut diatas?
Mari kita sebagai generasi penerus Minangkabau sadar akan besarnya Minangkabau. Jangan ada lagi yang menganggap wilayah Minangkabau hanya Sumatera Barat.

Sumber: regional minangkabau(kaskus)