Sejarah berdirinya Kota Padang
Terdapat 2 buah versi mengenai sejarah berdirinya kota Padang, yaitu: versi Tambo dan versi Hofman seorang opperkoopman di Padang pada tahun 1710 dan juga pengarang mengenai adat dan sejarah Minangkabau (terutama adat matrilineal). Opperkoopman sebutan pada wakil Belanda untuk suatu daerah yang belum ditaklukkan Belanda. Kota Padang belum ditaklukkan saat itu sedangkan untuk daerah jajahan Belanda seperti Ambon, Banda, Ternate dan Jawa penguasanya dinamakan Gubernur.
Kota Padang menurut Hofman, dinamakan Padang karena dulu merupakan lapangan besar dan luas yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi.
Pada awalnya tempat bermukim para penangkap ikan, pedagang dan petani garam yang dikepalai oleh seorang makhudun. Orang kedua yang menjadi kepala adalah dari golongan agama dari Passai yang bergelar Sangguno Dirajo.
Suatu saat terjadi peperangan antara orang padang dengan orang pegunungan dari XIII-Koto karena terbunuhnya Serpajaya oleh anak buah makhudun yang bernama Campang Cina. Dalam serbuannya yang pertama orang-orang dari XIII-Koto dapat dikalahkan dengan korban sebanyak 30 orang.
Karena takut akan serangan besar berikutnya, orang Padang mengirim utusan untuk berdamai yang bernama Datuk Bandaro Pagagar bersama wakil rakyat kota Padang. Ganti rugi yang diminta orang XIII-Koto adalah emas. Orang Padang keberatan dengan ganti rugi ini karena terlalu mahal dan mereka kebanyakan adalah nelayan.
Oleh karena itu ditawarkan separuh kota Padang dan bersumpah setia untuk tunduk kepada XIII-Koto, sejak saat itu orang XIII-Koto memiliki hak yang sama dengan orang Padang dan mendapat 4 dari 8 kursi penghulu di kota Padang.
Menurut versi Tambo, jauh sebelum orang pegunungan mendiami kota Padang sekarang, daerah itu merupakan hutan lebat yang masih didiami oleh manusia liar (urang rupit dan urang tirau).
Orang pertama yang turun ke Padang adalah dari Kubuang Tigo Baleh (Solok) yang dipimpin oleh Maharajo Besar suku Caniago Mandaliko dan memilih tinggal di Binuang dan kemudian menyebar diantara Muaro sampai Ikua Anduriang (Pauh IX).
Kelompok kedua yang datang adalah orang dari Siamek Baleh (antara Singkarak dan Solok) dan disusul dengan orang dari Kurai Banuampu (Agam). Mereka menetap dibagian timur daerah Maharajo Besar.
Diantara pemimpin yang baru datang ini adalah Datuk Paduko Amat dari suku Caniago Simagek, Datuk Saripado Marajo dari suku Caniago Mandaliko, Datuk Sangguno Dirajo dari suku Koto beserta saudaranya Datuk Patih Karsani. Konon Datuk Patih Karsani ditempat yang baru banyak mendapat benda berharga seperti porselen, pisau, meriam kecil dan sebuah pedang (padang). Maka menurut yang mempunyai cerita dinamakanlah kota itu Kota Padang.
Jumat, 20 Juli 2018
"INSIDEN KANSAS 44" HENGKANGNYA CHINA PARIAMAN
"Insiden Kansas 44" Hengkangnya China Pariaman
Keturunan Tionghoa atau China dikenal ada di mana saja. Di mana bumi membentang pasti ada China nya. Pameo demikian tidak berlaku untuk Kota Pariaman pasca insiden "Kansas" yang terjadi sekitar tahun 1944 bertepatan sebelum hengkangnya Jepang dari tanah air. Peristiwa Kansas itu sendiri terjadi di Simpang Kampuang Cino Pariaman tepatnya di simpang tugu tabuik sekarang.
Insiden Kansas adalah peristiwa pembunuhan (maaf, dengan penggorokan) terhadap beberapa orang penduduk keturunan Tionghoa di Pariaman karena sesuatu alasan. Kansas dalam artian Kanso, adalah alat yang dilakukan untuk menggorok. Kanso bisa disamakan dengan jenis logam seng tebal yang terdapat pada beberapa kaleng. Kanso yang digunakan saat itu diambil dari bekas kaleng roti.
Peristiwa Kansas dipicu akibat tidak setianya beberapa oknum penduduk China Pariaman kepada pejuang pribumi. Tidak semuanya memang, namun akibat gesekan rasial tersebut seluruh komunitas China yang ada di Pariaman hengkang menyelamatkan diri ke berbagai daerah. Aset mereka yang tinggal begitu saja, beberapa waktu kemudian dijual murah melalui perantara.
Sebelum peristiwa tersebut, komunitas China sangat ramai di Pariaman. Mereka punya pandam pakuburaan tersendiri yakni di belakang Makodim 0308/Pariaman (sekarang). Masyarakat Tionghoa di Pariaman sudah ada sejak zaman Belanda. Mereka yang ada di Pariaman umumnya para pedagang, pemilik pabrik roti, pabrik sabun, hingga distributor rempah-rempah dan kebutuhan sehari-hari (kumango).
Komunitas China Pariaman bermukim di area Kampung Chino yakni di Jl. SB Alamsyah Kp Balacan, Kp Jawo, dan Kp Pondok. Sebelum Insiden Kansas, mereka hidup rukun berdampingan dengan pribumi. Tempat sembahyang China di Pariaman terletak di Simpang Tabuik yang sekarang persis berada di deretan Toko Ali.
Merujuk pada sejarah yang dituturkan saksi hidup yang sempat kami wawancarai, kekecewaan pribumi pada komunitas China bermula dari diketahuinya lokasi pejuang pribumi oleh tentara Jepang. Pejuang pribumi saat itu banyak dieksekusi di tempat persembunyiannya. Apa yang mereka rencanakan selalu diketahui oleh tentara tentara Jepang.
Atas keganjilan tersebut, pribumi saat itu memutar otak. Mereka mencari dimana letak keganjilannya. Mereka berpikir ada sesuatu yang telah terjadi. Pengkhianatan terhadap mereka telah dilakukan.
Pejuang pribumi yang tersisa mengutus anak-anak untuk memata-matai beberapa oknum yang dicurigai. Mereka disuruh bermain-main di halaman sejumlah kedai yang acap digunakan tentara Jepang berkumpul. Mulailah anak-anak bermain gasing, patok lele dan permainan tradisional lainnya ke tempat-tempat yang disuruh pejuang pribumi.
Usaha tersebut ternyata berhasil. Salah satu kedai kopi milik non pribumi China di Kp Balacan dikupingi pembicaraannya. Pemberi informasi memang bukan pemilik kedai, tapi langganan tetap yang juga keturunan China. Rupanya selama ini dia menjadi mata-mata (spionase) Tentara Jepang.
Singkat cerita, mata-mata Jepang tersebut "diambil malam" oleh pejuang. Dari penuturan yang kami himpun, komplotan mata-mata itu semuanya berjumlah tiga orang. Tiga orang pengkhianat tersebut dibawa ke tempat persembunyian pejuang. Di sana mereka diinterogasi dan akhirnya mengakui perbuatannya.
Atas perbuatannya itu, ketiga orang tersebut dieksekusi dengan cara yang belum pernah terpikirkan olehnya. Leher mereka digorok hingga nyaris putus dengan Kanso yang maha perihnya. Ketiga mayat tersebut diletakan menjelang subuh tepat di depan tugu tabuik sekarang ini berada. Kanso sebagai alat eksekusi masih menempel di leher mereka.
Catatan Oyong Liza Piliang
Keturunan Tionghoa atau China dikenal ada di mana saja. Di mana bumi membentang pasti ada China nya. Pameo demikian tidak berlaku untuk Kota Pariaman pasca insiden "Kansas" yang terjadi sekitar tahun 1944 bertepatan sebelum hengkangnya Jepang dari tanah air. Peristiwa Kansas itu sendiri terjadi di Simpang Kampuang Cino Pariaman tepatnya di simpang tugu tabuik sekarang.
Insiden Kansas adalah peristiwa pembunuhan (maaf, dengan penggorokan) terhadap beberapa orang penduduk keturunan Tionghoa di Pariaman karena sesuatu alasan. Kansas dalam artian Kanso, adalah alat yang dilakukan untuk menggorok. Kanso bisa disamakan dengan jenis logam seng tebal yang terdapat pada beberapa kaleng. Kanso yang digunakan saat itu diambil dari bekas kaleng roti.
Peristiwa Kansas dipicu akibat tidak setianya beberapa oknum penduduk China Pariaman kepada pejuang pribumi. Tidak semuanya memang, namun akibat gesekan rasial tersebut seluruh komunitas China yang ada di Pariaman hengkang menyelamatkan diri ke berbagai daerah. Aset mereka yang tinggal begitu saja, beberapa waktu kemudian dijual murah melalui perantara.
Sebelum peristiwa tersebut, komunitas China sangat ramai di Pariaman. Mereka punya pandam pakuburaan tersendiri yakni di belakang Makodim 0308/Pariaman (sekarang). Masyarakat Tionghoa di Pariaman sudah ada sejak zaman Belanda. Mereka yang ada di Pariaman umumnya para pedagang, pemilik pabrik roti, pabrik sabun, hingga distributor rempah-rempah dan kebutuhan sehari-hari (kumango).
Komunitas China Pariaman bermukim di area Kampung Chino yakni di Jl. SB Alamsyah Kp Balacan, Kp Jawo, dan Kp Pondok. Sebelum Insiden Kansas, mereka hidup rukun berdampingan dengan pribumi. Tempat sembahyang China di Pariaman terletak di Simpang Tabuik yang sekarang persis berada di deretan Toko Ali.
Merujuk pada sejarah yang dituturkan saksi hidup yang sempat kami wawancarai, kekecewaan pribumi pada komunitas China bermula dari diketahuinya lokasi pejuang pribumi oleh tentara Jepang. Pejuang pribumi saat itu banyak dieksekusi di tempat persembunyiannya. Apa yang mereka rencanakan selalu diketahui oleh tentara tentara Jepang.
Atas keganjilan tersebut, pribumi saat itu memutar otak. Mereka mencari dimana letak keganjilannya. Mereka berpikir ada sesuatu yang telah terjadi. Pengkhianatan terhadap mereka telah dilakukan.
Pejuang pribumi yang tersisa mengutus anak-anak untuk memata-matai beberapa oknum yang dicurigai. Mereka disuruh bermain-main di halaman sejumlah kedai yang acap digunakan tentara Jepang berkumpul. Mulailah anak-anak bermain gasing, patok lele dan permainan tradisional lainnya ke tempat-tempat yang disuruh pejuang pribumi.
Usaha tersebut ternyata berhasil. Salah satu kedai kopi milik non pribumi China di Kp Balacan dikupingi pembicaraannya. Pemberi informasi memang bukan pemilik kedai, tapi langganan tetap yang juga keturunan China. Rupanya selama ini dia menjadi mata-mata (spionase) Tentara Jepang.
Singkat cerita, mata-mata Jepang tersebut "diambil malam" oleh pejuang. Dari penuturan yang kami himpun, komplotan mata-mata itu semuanya berjumlah tiga orang. Tiga orang pengkhianat tersebut dibawa ke tempat persembunyian pejuang. Di sana mereka diinterogasi dan akhirnya mengakui perbuatannya.
Atas perbuatannya itu, ketiga orang tersebut dieksekusi dengan cara yang belum pernah terpikirkan olehnya. Leher mereka digorok hingga nyaris putus dengan Kanso yang maha perihnya. Ketiga mayat tersebut diletakan menjelang subuh tepat di depan tugu tabuik sekarang ini berada. Kanso sebagai alat eksekusi masih menempel di leher mereka.
Catatan Oyong Liza Piliang
GURU BESAR ILMU GIZI UNAND UNGKAP RAHASIA SEHAT MASAKAN MINANG
Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang
Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.
Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (20/11/2013).
Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.
“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara, Senin (26/11/2013).
Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.
“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.
Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.
“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.
Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.
Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.
“Jadi selama ini kita melihat, kebanyak orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.
Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. “Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Amerika tidak ada makan kelapa. Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda,”
Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.
“Asalkan makannya jangan berlebihan. Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. (Arjuna/Ed1)
Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.
Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (20/11/2013).
Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.
“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara, Senin (26/11/2013).
Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.
“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.
Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.
“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.
Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.
Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.
“Jadi selama ini kita melihat, kebanyak orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.
Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. “Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Amerika tidak ada makan kelapa. Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda,”
Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.
“Asalkan makannya jangan berlebihan. Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. (Arjuna/Ed1)
Kamis, 19 Juli 2018
BUKTI MINANGKABAU
BUKTI MINANGKABAU
Minangkabau adalah salah satu daerah yang banyak menyimpan berbagai banyak pertanyaan sampai saat ini. Mulai dari penamaan daerah itu sendiri sampai daerah-daerah sekitarnya dikaitkan dengan kejadian serupa. Bagaimana kejadian itu sebenarnya ? Apakah masih ada bukti ontentik dari kejadian yang bersejarah itu sampai hari ini ? Daerah mana yang sebenarnya yang Minangkabau itu sendiri ? Serta kapan kejadian itu dan dimana bermulanya ?
Semua deretan pertanyaan tersebut tidak banyak diketahui oleh sebagian orang, bahkan pemuda/pemudi yang tinggal disana tidak begitu mengetahui tentang semua hal itu secara jelas. Maka jangan salahkan jika asal muasal terciptanya daerah kita dengan sejenap perjuangan dan bekerjasama mengusir orang-orang yang berniat mengusai daerah tercinta kita. Lalu mereka dengan seenaknya mengubah cerita ini dan itu, padahal tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya karena kita tidak pernah mengetahui semua semua tersebut. Jangan pernah melupakan siapa kita ? Dan bagaimana jayanya niniak mamak kita pada zaman dahulu, hingga kecerdasan dan kecerdikan orang Minangkabau terdengar sampai diluar negeri sekalipun. Tanyakan semua pertanyaan itu pada diri anda semua, jika benar anda-anda semua orang-orang Minangkabau ? Jika anda terlahir dan menjunjung tinggi “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, adat mamakai, agama dijunjung tinggi.” Begitulah orang Minangkabau itu, adat dan warisan kebudayaan sangat dijunjung tinggi dan tidak terlepas dengan agama Islam itu sendiri.
Sekitar tahun 1400 yang lalu, maka daerah Minangkabau ini belum dikenal dengan nama Minangkabau. Akan tetapi daerah kepulauan Sumatra ini lebih dikenal orang dengan nama Kepulauan Andalas. Pada saat itu sudah berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pagaruyung. Pada suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit di Pulau Jawa akan datang dengan maksud untuk memperluas daerah kekuasaannya di Kepulauan Andalas tepatnya daerah Minangkabau sekarang. Maka pihak orang-orang Jawa itu datang ke tanah Minang sekarang disambut hangat dan kepala dingin oleh orang-orang sekitar.
Mereka datang dari tanah sebelah dan mengatakan dengan tegas kepada masyarakat setempat tentang maksud dan tujuan kedatangannya, namun pihak yang di tuokan sarantiang dan didahulukan salangka, atau kapai tampek batanyo, kapulang tampak babarito, datang menemui Dt. Nan Tuo pada saat itu. Dt. Nan Tuo adalah sebagai tempat bertanya dalam setiap permasalahan yang terjadi pada saat itu. Maka sang Dt. Nan Tuo mengatakan kepada orang-orang Jawa tersebut jika memang ingin mengusai daerah Minang ini, maka ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan. Yaitu ada beberapa hal yang akan dipertanyakan kepada orang-orang Minang, jika pertanyaan itu tidak terjawab maka secara otomatis daerah Minang ini menjadi daerah kawasan Kerajaan Majapahit, jika benar mereka harus angkat kaki dari tanah Minang ini.
Kedatangan ke-2, rombongan orang-orang Jawa itu ke tanah Minang dengan membawa dua ekor Itik Angsa, dari kedua Itik Angsa tersebut mana yang jantan dan mana yang betina. Maka sebelum semua itu dijawab, maka dikumpulkan semua niniak mamak pada suatu tempat yang bernama Balai Sidasun. Balai Sidasun adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan orang-orang dan terletak di Jorong Kelarasan Tanjung. Maka mereka bermusyawarah memecahkan permasalahan tersebut. Namun, semua orang tidak tahu bagaimana cara membedakan mana Itik Angsa yang jantan dan Itik Angsa yang betini. Maka Dt. Nan Tuo-lah yang dapat menjawab semua itu, jika ingin tahu mana itik Angsa yang jantan dan yang betina sangatlah mudah.
Maka keesokan hari waktu orang-orang Jawa itu membawa sepasang Itik Angsa dan bertanya kepada orang Minang. Maka orang Minang memberi makan terlebih dahulu kepada kedua Itik Angsa itu. Setelah kedua itik-itik makan, tidak lama setelah itu itu dijawablah dengan lantang oleh orang Minang. Itik Angsa yang makan terus adalah Itik Angsa betini dan Itik Angsa yang sesekali makan adalah Itik Angsa jantan. Maka, tertebaklah satu buah pertanyaan dari orang-orang Jawa tersebut. Dalam hal ini, “Jika pihak orang-orang Jawa itu menang maka dia berhak menduduki daerah minang ini, akan tetapi jika kalah dia harus pulang ke tanahnya dan memberikan kapalnya beserta isinya.” Seperti itulah kesepakatan terakhir kedua belah pihak antara orang Jawa dan orang Sumatra.
Hari berikutnya orang-orang Jawa itu datang kembali dengan rombongannya, membawa sebatang kayu sama besar kedua ujungnya. Maka, mana yang pangkal dan mana yang ujung. Maka kembali orang Minang ini ke rumah Dt. Nan Tuo, maka disampaikanlah hal tersebut. Dengan kecerdikan Dt. Nan Tuo ini lagi-lagi dia tahu jawabannya. Maka saat sampai pada hari penebakkan itu, maka orang Minang dengan mudah menjawabnya. Dengan cara memasukan kayu tersebut ke dalam air, maka bagian mana yang lebih dulu tenggelam adalah bagian pangka dan yang terangkat itu adalah bagian ujung. Sebenarnya ada dua cara yang disampaikan oleh Dt. Nan Tuo kepada juru bicara tersebut, yang kedua dengan cara mengikat sama panjang kedua kayu itu dan digantung, maka bagian maka yang yang terangkat itulah bagian ujung dan yang jatuh ke bawah adalah bagian pangkal. Karena bagian pangka lebih berat daripada yang ujung.
Maka sekali lagi orang Jawa kalah mutlak lagi dengan pertanyaan yang dilontarkannya kepada pihak Minang. Ada juga sebagian cerita yang mengatakan bahwa ada satu pertanyaan lagi yang dilontarkan kepada masyarakat Minangkabau yaitu menebak ikan didalam air, mana yang jantan dan mana yang betina. Maka dengan bantuan Dt. Nan Tuo yang sangat tinggi ilmu dan pengetahuannya maka dia dapat menyampaikan pesan dan cara menebak pertanyaan yang diberikan orang Jawa itu. Maka pihak pembicara Minang menjawabnya dengan lantang dan jelas. Jika ingin tahu mana ikan yang jantan dan ikan yang betina, awalnya sang juru bicara memperhatikan itu terlebih dahulu. Maka setelah ikan-ikan itu saling berkejar-kejaran dan bermain didalam air. Maka pihak Minang menjawab, ikan yang malenggok atau mendekati ikan satunya itulah yang jantan. Sedangkan ikan yang didatanginya adalah ikan yang betina. Maka sekali lagi pihak atau orang Minang benar menjawab pertanyaan yang diberikan tanah seberang tersebut.
Beberapa kali pihak orang Jawa itu kehilangan cara untuk mengusai tanah Minang itu. Maka mereka tidak lagi mengadu kecerdikan selainkan dengan beradu siapa yang paling tinggi, apakah orang Jawa ataupun orang Sumatra. Maka pihak Minang dan pihak tanah seberang datang ke tanah Minang untuk mengadu siapa manusia paling tinggi, apakah dari tanah Jawa atau tanah Minang ini. Maka, setelah berunding dengan pihak niniak mamak. Maka mereka miminta waktu tiga bulan, karena mereka yakin tidak ada orang yang lebih tinggi dari orang yang dibawa orang Jawa tersebut di tanah Minang ini. Dan juga sampai saat ini keturunan orang Minang tingginya hanya rata-rata. Maka pihak orang Jawa ini menyanggupi usulan atau permintaan dari orang Minang ini. Karena mereka yakin menang untuk kali ini, dan juga peluang untuk menang untuk hal ini ada pada pihak mereka.
Maka lagi-lagi Dt. Nan Tuo berpikir keras untuk dapat menandingi ketinggian orang Jawa tersebut. Akhirnya dia dapat ide, yaitu dengan meletakkan pariuk tanah (tempat memasak nasi) diletakkan diatas anak batang gabuang tiga buah dan lama kelamaan batang gabuang itu semakin tinggi dan tinggi. Maka tibalah hari yang sudah ditunggu-tunggu, orang Jawa itu sudah membawa orang paling tinggi mereka datang ke tanah Minang. Maka mereka menunjuk orang tinggi mereka, akan tetapi saat mereka menanyakan orang tinggi di tanah Minang. Maka berkatalah orang Minag bahwa orang tingginya masih tidur di dalam rumha. Namun mereka tidak percaya dengan hal tersebut dan ingin dia dibangunkan. Namun perwakilan orang Minang memperlihatkan sebuah jemuran celana orang tinggi mereka yang masih dijemur dan terkejutlah semua pihak Jawa itu dengan ukurannya yang sangat besar. Namun mereka masih tidak percaya dengan hal itu dan ingin meihat orangnya. Maka orang Minang manunjuak dari jauh orang tingginya, maka terlihatlah seperti orang yang sedang berdiri dengan kepala hitam padahal hanya pariuk nasi. Maka kali ini mereka tidak berani berkata banyak karena orang tinggi mereka masih dapat dikalahkan oleh orang Minang. Maka mereka kembali dengan rasa tidak puas ke tanah seberang dan tetap berambisi untuk mengusai daerah Minang ini.
Disana mereka berpikir dan berunding bagaimana caranya lagi untuk mengusai tanah Minang tersebut. Akhirnya mereka mendapatkan ide yaitu dengan adu kerbau. Kali ini mereka yakin 100% menang karena kerbau mereka jauh lebih besar daripada kerbau-kerbau orang Minang yang mereka lihat. Maka mereka datang dengan niat untuk mengadu kerbau di tanah Minang. Maka, kali ini Dt. Nan Tuo berpikir keras, di tempat biasa dia duduk yaitu di Bukit Kayu Sabatang (sampai saat ini masih ada batu berbentuk tempat duduk beliau). Beliau memandang ke arah nagari Minang, tiba-tiba saja datang ide cemerlangnya. Maka diperintahkanlah salah seorang dari Minang untuk mencari seekor anak kerbau yang masih kuat menyusui dan pisahkan dia selama satu minggu dari induknya serta jangan dikasih apapun sampai pertandingan itu di mulai.
Maka dicarilah seekor anak kerbau yang diperintahkan Dt. Nan Tuo tersebut. Setelah itu dibuatlah sebuah besi berbentuk tanduk atau Taji dengan istilah Minang (menurut sebagian orang). Maka besi Taji itu di asah sampai tajam dengan batu kiliran taji di tempat pemandian (masih ada sampai sekarang di tempat pemandian Minangkabau dan sudah diperjelas letaknya) dan juga konon katanya ada batu berbentuk lesung atau lasuang yang ceritanya juga memiliki sejarah. Dulunya rakyat Minang ini kaum wanitanya itu tidak seperti sekarang yang bebas tanpa aturan yang mengikat akan tetapi pada masa itu orang-orang wanita atau padusi tidak boleh asal keluar rumah. Jika mereka mandi mengunakan bunga tujuh ragam sebagai penganti sampoh pada zaman sekarang ini. Maka digunakanlah Batu Lasuang itu untuk manunbuak atau menumbuk bunga-bunga tersebut diatas batu tersebut. Alat yang mereka gunakan pada saat itu disebut dengan Pakasai (istilah Minang), sedangkan cara mengunakannya disebut dengan Bakasai (istilah Minang),
Maka setelah Taji atau tanduk yang terbuat dari besi itu sudah tajam dan sampai pada saat hari dimana kerbau itu akan diadu. Maka dipasanglah Taji tersebut ke kepala anak kerbau itu. Adu kerbau itu akan dilangsungkan di Sawah Padang (sampai saat ini masih ada di pinggiran jalan ke Sungayang) banyaklah orang-orang berduyun-duyun untuk menyaksikan pertarungan adu kerbau itu. Pada saat anak kerbau itu dilepaskan, maka secara tiba-tiba anak kerbau itu menyangka kerbau yang besar itu adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung mencari punting susu kerbau besar itu dan kebiasaan anak kerbau yang sedang mengusuh mengadu kepalanya setiap menyusu dengan perut induknya. Maka secara tidak langsung besi Taji atau Minang yang dipasang ditanduk anak kerbau tadi merobek-robek perut induknya. Maka luka yang semakin membesar itu membuat kerbau besar tadi merasa kesakitan dan mencoba berlari kesana-kemari. Karena merasa kesakitan kerbau itu berlari ke arah bawah yang pada saat itu orang-orang berdatangan untuk menyaksikan adu kerbau itu seperti balai, makanya sampai saat ini sawah itu diberi nama Sawah Balai. Kerbau besar itu terus ke arah bawah berlari maka daerah itu diberi nama dengan sebutan Sawah Siambek, karena disana orang-orang menghalangi kerbau besar itu untuk berlari. Bergeser ke atasnya juga diberi nama Sawah Sepatu, karena di sawah itu banyak tertinggal sepadu orang-orang karena kejadian itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kerbau besar itu berlari mengunakan sepatu, yang diberi oleh orang Jawa itu. Mungkin sepatu yang dipakai kerbau itu terlepas disana dan juga ada yang berpendapat bahwa kerbau yang besar itu dipaga dengan ruyuang-ruyuang (bekas sisa dari pohon Enau yang sangat keras) mungkin itu sebabkan dinamakan Paga Ruyung atau Pagaruyung pada saat sekarang ini.
Kerbau yang besar itu masih tidak mampu dihentikan oleh orang-orang, maka kerbau besar itu tiba-tiba merasa bagak atau berani karena sakitnya semakin perih untuk melawan orang-orang yang ingin menangkapnya. Maka tempat itu dinamakan Polak Bagak tempat yang dilalui kerbau itu, bergeser lagi semakin kerbau itu berlari paruik panjangnya semakin keluar dan tertinggal, daerah itu disebut dengan Koto Panjang. Semakin kerbau itu berlari semua isi perutnya semakin tertinggal, maka daerah itu sekarang disebut dengan Simpuruik.
Akhirnya kerbau besar itu jatuh juga sendiri karena semakin parah dan luka yang sebagian isi perutnya sudah tercecer dijalan. Makanya tempat kerbau itu dikuliti dan jangek-nya diambil disebut dengan Sijangek. Maka pada saat itu terdengarnya terikan “Manang kabau...manang kabau..manang kabau.” Itulah nama Minangkabau yang kita kenal sekarang berasal dari sana, dan sudah di yakini sebagai asal muasal penamaan daerah ini sampai saat ini menjadi Minangkabau. Walaupun ada pendapat lain yang mengatakan dari besi yang dipasang ditanduk anak kerbau itu. Serta ada juga yang mengatakan dari banyaknya kerbau di ranah Minang, itu setiap berjalan malenggok yang disebut dengan istilah Minang maenang. Meanang itu seperti bergelombang dan juga tanah Minang ini seperti bergelombang dengan perbukitan, makanya disebut dengan meanang. Lama-kelamaan menjadi Minangkabau. Namun ada juga yang mengatakan bahwa dari banyaknya kerbau-kerbau di nagari Minangkabau ini pada masa dulu. Sedangkan ada juga yang berpendapat dari banyaknya pohon Pinang pada masa dulu yang konon katanya penyembutan huruf “P” dan “M” menjadi kurang fasih. Namun pihak pemerintah setempat sampai saat ini lebih percaya dengan kejadian adu kerbau tersebut karena ada bukti-bukti yang bisa dijadikanb referensi sampai saat ini. Karena pada saat itu belum dikenal dengan buku-buku untuk bisa menulis pada masa sekarang ini hanya cerita dari mulut ke mulut.
Setelah kejadian itu orang-orang Jawa itu mengaku kalah dengan kekalahan adu kerbau tersebut. Agar mereka dapat menyampaikan kekalahan dari tanah Minang ini, maka dibawalah tanduk kerbau besar itu setengahnya dan setengahnya lagi disimpan di Minangkabau sebagai bukti kejadian tersebut. Kira-kira panjang tanduk kerbau besar itu sekitar tiga meter (namun sampai saat ini tanduk itu masih ada di simpang pemandian Minangkabau di rumah gadang Dt. Mojo Basa. Karena tanduk itu sudah terlalu lama tanduk itu sekarang panjangnya sekitar 1,25 meter. Tanduk itu sudah seperti kayu yang keras pada saat ini).
Sebelum orang Jawa itu kembali ke tanah seberang, maka orang Minang menyuruh orang-orang Jawa ini untuk memakai kain dipinggang yang disebut dengan Bakodek (istilah orang Jawa) dan ikat kepala sampai saat ini menjadi tradisi dan kalau bersalaman menyurut atau mundur ke belakang seperti tanda kekalahannya pada orang Minangkabau. Sampai saat ini informasi tentang tanduk besi atau Taji yang dipasangkan di anak kerbau itu tidak ada beritanya dan tidak tahu seorangpun dimana keberadaan tanduk atau Taji tersebut. Serta siapa pemilik anak kerbau itu dan siapa pemilik dan membesarkan anak kerbau itu tidak dapat diketahui lagi dan hanya tanduk kerbau besar itulah yang dapat menjadi saksi kejayaan masyarakat Minangkabau dalam mengalahkan orang-orang Jawa tersebut.
Daerah Minangkabau ini tidak begitu diketahui orang yang mereka tahu hanyalah alam Minangkabau ini. Padahal ada kisah atau kejadian bersejarah dan terletak pada daerah Minangkabau ini. Daerah Minangkabau ini dibagi menjadi tiga jorong yaitu Jorong satu (Minang Jaya), Jorong dua (Badinah Murni), dan Jorong tiga (Singkaian). Dan juga Dt. Nan Tuo itu dikuburkan di Kuburan Panjang di Sadio dan ada juga yang mengatakan di Bukit Kayu Sebatang. Karena tidak terlalu diketahui orang secara pasti dan juga tidak ditemukan lagi Datuak itu. Tempat kuburannya hanyalah rumah atau dangau (pondok kecil di bukit).
Maka jika anda berkunjung ke daerah ini jangan lewatkan Nagari Minangkabau ini dan juga bukti peninggalan sejarah di rumah Gadang tersebut. Jangan hanya mendengarkan cerita-cerita yang tidak jelas karena hanya dapat merusak pemahaman kita tentang suatu hal. Akan lebih baik kita dapat mendengar langsung ceritanya dari orang-orang tuo atau niniak mamak kita yang masih hidup dan bukti tanduk kerbau itu disana dari mereka.
Referensi dialog langsung :
1. Alfani Hamdi, S.Sos. I.Ma (Wali Nagari Minangkabau)
2. Dt. Mojo Basa (pemelihara tanduk kerbau dari suku Chaniago)
3. Zulfahri (Ayah dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)
4. Afrida (Ibu dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)
Gambar: Bukti Tanduk Kerbau kira-kira 1400 tahun yang lalu.
Gambar: Rumah Gadang Dt. Mojo Basa di Minangkabau.
Gambar: Kantor Wali Nagari Minangkabau.
Gambar: Tempat Adu Kerbau di Sawah Padang.
Irsal Husnur
Sumber=irsalhusnur10.blogspot.co.id
Minangkabau adalah salah satu daerah yang banyak menyimpan berbagai banyak pertanyaan sampai saat ini. Mulai dari penamaan daerah itu sendiri sampai daerah-daerah sekitarnya dikaitkan dengan kejadian serupa. Bagaimana kejadian itu sebenarnya ? Apakah masih ada bukti ontentik dari kejadian yang bersejarah itu sampai hari ini ? Daerah mana yang sebenarnya yang Minangkabau itu sendiri ? Serta kapan kejadian itu dan dimana bermulanya ?
Semua deretan pertanyaan tersebut tidak banyak diketahui oleh sebagian orang, bahkan pemuda/pemudi yang tinggal disana tidak begitu mengetahui tentang semua hal itu secara jelas. Maka jangan salahkan jika asal muasal terciptanya daerah kita dengan sejenap perjuangan dan bekerjasama mengusir orang-orang yang berniat mengusai daerah tercinta kita. Lalu mereka dengan seenaknya mengubah cerita ini dan itu, padahal tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya karena kita tidak pernah mengetahui semua semua tersebut. Jangan pernah melupakan siapa kita ? Dan bagaimana jayanya niniak mamak kita pada zaman dahulu, hingga kecerdasan dan kecerdikan orang Minangkabau terdengar sampai diluar negeri sekalipun. Tanyakan semua pertanyaan itu pada diri anda semua, jika benar anda-anda semua orang-orang Minangkabau ? Jika anda terlahir dan menjunjung tinggi “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, adat mamakai, agama dijunjung tinggi.” Begitulah orang Minangkabau itu, adat dan warisan kebudayaan sangat dijunjung tinggi dan tidak terlepas dengan agama Islam itu sendiri.
Sekitar tahun 1400 yang lalu, maka daerah Minangkabau ini belum dikenal dengan nama Minangkabau. Akan tetapi daerah kepulauan Sumatra ini lebih dikenal orang dengan nama Kepulauan Andalas. Pada saat itu sudah berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pagaruyung. Pada suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit di Pulau Jawa akan datang dengan maksud untuk memperluas daerah kekuasaannya di Kepulauan Andalas tepatnya daerah Minangkabau sekarang. Maka pihak orang-orang Jawa itu datang ke tanah Minang sekarang disambut hangat dan kepala dingin oleh orang-orang sekitar.
Mereka datang dari tanah sebelah dan mengatakan dengan tegas kepada masyarakat setempat tentang maksud dan tujuan kedatangannya, namun pihak yang di tuokan sarantiang dan didahulukan salangka, atau kapai tampek batanyo, kapulang tampak babarito, datang menemui Dt. Nan Tuo pada saat itu. Dt. Nan Tuo adalah sebagai tempat bertanya dalam setiap permasalahan yang terjadi pada saat itu. Maka sang Dt. Nan Tuo mengatakan kepada orang-orang Jawa tersebut jika memang ingin mengusai daerah Minang ini, maka ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan. Yaitu ada beberapa hal yang akan dipertanyakan kepada orang-orang Minang, jika pertanyaan itu tidak terjawab maka secara otomatis daerah Minang ini menjadi daerah kawasan Kerajaan Majapahit, jika benar mereka harus angkat kaki dari tanah Minang ini.
Kedatangan ke-2, rombongan orang-orang Jawa itu ke tanah Minang dengan membawa dua ekor Itik Angsa, dari kedua Itik Angsa tersebut mana yang jantan dan mana yang betina. Maka sebelum semua itu dijawab, maka dikumpulkan semua niniak mamak pada suatu tempat yang bernama Balai Sidasun. Balai Sidasun adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan orang-orang dan terletak di Jorong Kelarasan Tanjung. Maka mereka bermusyawarah memecahkan permasalahan tersebut. Namun, semua orang tidak tahu bagaimana cara membedakan mana Itik Angsa yang jantan dan Itik Angsa yang betini. Maka Dt. Nan Tuo-lah yang dapat menjawab semua itu, jika ingin tahu mana itik Angsa yang jantan dan yang betina sangatlah mudah.
Maka keesokan hari waktu orang-orang Jawa itu membawa sepasang Itik Angsa dan bertanya kepada orang Minang. Maka orang Minang memberi makan terlebih dahulu kepada kedua Itik Angsa itu. Setelah kedua itik-itik makan, tidak lama setelah itu itu dijawablah dengan lantang oleh orang Minang. Itik Angsa yang makan terus adalah Itik Angsa betini dan Itik Angsa yang sesekali makan adalah Itik Angsa jantan. Maka, tertebaklah satu buah pertanyaan dari orang-orang Jawa tersebut. Dalam hal ini, “Jika pihak orang-orang Jawa itu menang maka dia berhak menduduki daerah minang ini, akan tetapi jika kalah dia harus pulang ke tanahnya dan memberikan kapalnya beserta isinya.” Seperti itulah kesepakatan terakhir kedua belah pihak antara orang Jawa dan orang Sumatra.
Hari berikutnya orang-orang Jawa itu datang kembali dengan rombongannya, membawa sebatang kayu sama besar kedua ujungnya. Maka, mana yang pangkal dan mana yang ujung. Maka kembali orang Minang ini ke rumah Dt. Nan Tuo, maka disampaikanlah hal tersebut. Dengan kecerdikan Dt. Nan Tuo ini lagi-lagi dia tahu jawabannya. Maka saat sampai pada hari penebakkan itu, maka orang Minang dengan mudah menjawabnya. Dengan cara memasukan kayu tersebut ke dalam air, maka bagian mana yang lebih dulu tenggelam adalah bagian pangka dan yang terangkat itu adalah bagian ujung. Sebenarnya ada dua cara yang disampaikan oleh Dt. Nan Tuo kepada juru bicara tersebut, yang kedua dengan cara mengikat sama panjang kedua kayu itu dan digantung, maka bagian maka yang yang terangkat itulah bagian ujung dan yang jatuh ke bawah adalah bagian pangkal. Karena bagian pangka lebih berat daripada yang ujung.
Maka sekali lagi orang Jawa kalah mutlak lagi dengan pertanyaan yang dilontarkannya kepada pihak Minang. Ada juga sebagian cerita yang mengatakan bahwa ada satu pertanyaan lagi yang dilontarkan kepada masyarakat Minangkabau yaitu menebak ikan didalam air, mana yang jantan dan mana yang betina. Maka dengan bantuan Dt. Nan Tuo yang sangat tinggi ilmu dan pengetahuannya maka dia dapat menyampaikan pesan dan cara menebak pertanyaan yang diberikan orang Jawa itu. Maka pihak pembicara Minang menjawabnya dengan lantang dan jelas. Jika ingin tahu mana ikan yang jantan dan ikan yang betina, awalnya sang juru bicara memperhatikan itu terlebih dahulu. Maka setelah ikan-ikan itu saling berkejar-kejaran dan bermain didalam air. Maka pihak Minang menjawab, ikan yang malenggok atau mendekati ikan satunya itulah yang jantan. Sedangkan ikan yang didatanginya adalah ikan yang betina. Maka sekali lagi pihak atau orang Minang benar menjawab pertanyaan yang diberikan tanah seberang tersebut.
Beberapa kali pihak orang Jawa itu kehilangan cara untuk mengusai tanah Minang itu. Maka mereka tidak lagi mengadu kecerdikan selainkan dengan beradu siapa yang paling tinggi, apakah orang Jawa ataupun orang Sumatra. Maka pihak Minang dan pihak tanah seberang datang ke tanah Minang untuk mengadu siapa manusia paling tinggi, apakah dari tanah Jawa atau tanah Minang ini. Maka, setelah berunding dengan pihak niniak mamak. Maka mereka miminta waktu tiga bulan, karena mereka yakin tidak ada orang yang lebih tinggi dari orang yang dibawa orang Jawa tersebut di tanah Minang ini. Dan juga sampai saat ini keturunan orang Minang tingginya hanya rata-rata. Maka pihak orang Jawa ini menyanggupi usulan atau permintaan dari orang Minang ini. Karena mereka yakin menang untuk kali ini, dan juga peluang untuk menang untuk hal ini ada pada pihak mereka.
Maka lagi-lagi Dt. Nan Tuo berpikir keras untuk dapat menandingi ketinggian orang Jawa tersebut. Akhirnya dia dapat ide, yaitu dengan meletakkan pariuk tanah (tempat memasak nasi) diletakkan diatas anak batang gabuang tiga buah dan lama kelamaan batang gabuang itu semakin tinggi dan tinggi. Maka tibalah hari yang sudah ditunggu-tunggu, orang Jawa itu sudah membawa orang paling tinggi mereka datang ke tanah Minang. Maka mereka menunjuk orang tinggi mereka, akan tetapi saat mereka menanyakan orang tinggi di tanah Minang. Maka berkatalah orang Minag bahwa orang tingginya masih tidur di dalam rumha. Namun mereka tidak percaya dengan hal tersebut dan ingin dia dibangunkan. Namun perwakilan orang Minang memperlihatkan sebuah jemuran celana orang tinggi mereka yang masih dijemur dan terkejutlah semua pihak Jawa itu dengan ukurannya yang sangat besar. Namun mereka masih tidak percaya dengan hal itu dan ingin meihat orangnya. Maka orang Minang manunjuak dari jauh orang tingginya, maka terlihatlah seperti orang yang sedang berdiri dengan kepala hitam padahal hanya pariuk nasi. Maka kali ini mereka tidak berani berkata banyak karena orang tinggi mereka masih dapat dikalahkan oleh orang Minang. Maka mereka kembali dengan rasa tidak puas ke tanah seberang dan tetap berambisi untuk mengusai daerah Minang ini.
Disana mereka berpikir dan berunding bagaimana caranya lagi untuk mengusai tanah Minang tersebut. Akhirnya mereka mendapatkan ide yaitu dengan adu kerbau. Kali ini mereka yakin 100% menang karena kerbau mereka jauh lebih besar daripada kerbau-kerbau orang Minang yang mereka lihat. Maka mereka datang dengan niat untuk mengadu kerbau di tanah Minang. Maka, kali ini Dt. Nan Tuo berpikir keras, di tempat biasa dia duduk yaitu di Bukit Kayu Sabatang (sampai saat ini masih ada batu berbentuk tempat duduk beliau). Beliau memandang ke arah nagari Minang, tiba-tiba saja datang ide cemerlangnya. Maka diperintahkanlah salah seorang dari Minang untuk mencari seekor anak kerbau yang masih kuat menyusui dan pisahkan dia selama satu minggu dari induknya serta jangan dikasih apapun sampai pertandingan itu di mulai.
Maka dicarilah seekor anak kerbau yang diperintahkan Dt. Nan Tuo tersebut. Setelah itu dibuatlah sebuah besi berbentuk tanduk atau Taji dengan istilah Minang (menurut sebagian orang). Maka besi Taji itu di asah sampai tajam dengan batu kiliran taji di tempat pemandian (masih ada sampai sekarang di tempat pemandian Minangkabau dan sudah diperjelas letaknya) dan juga konon katanya ada batu berbentuk lesung atau lasuang yang ceritanya juga memiliki sejarah. Dulunya rakyat Minang ini kaum wanitanya itu tidak seperti sekarang yang bebas tanpa aturan yang mengikat akan tetapi pada masa itu orang-orang wanita atau padusi tidak boleh asal keluar rumah. Jika mereka mandi mengunakan bunga tujuh ragam sebagai penganti sampoh pada zaman sekarang ini. Maka digunakanlah Batu Lasuang itu untuk manunbuak atau menumbuk bunga-bunga tersebut diatas batu tersebut. Alat yang mereka gunakan pada saat itu disebut dengan Pakasai (istilah Minang), sedangkan cara mengunakannya disebut dengan Bakasai (istilah Minang),
Maka setelah Taji atau tanduk yang terbuat dari besi itu sudah tajam dan sampai pada saat hari dimana kerbau itu akan diadu. Maka dipasanglah Taji tersebut ke kepala anak kerbau itu. Adu kerbau itu akan dilangsungkan di Sawah Padang (sampai saat ini masih ada di pinggiran jalan ke Sungayang) banyaklah orang-orang berduyun-duyun untuk menyaksikan pertarungan adu kerbau itu. Pada saat anak kerbau itu dilepaskan, maka secara tiba-tiba anak kerbau itu menyangka kerbau yang besar itu adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung mencari punting susu kerbau besar itu dan kebiasaan anak kerbau yang sedang mengusuh mengadu kepalanya setiap menyusu dengan perut induknya. Maka secara tidak langsung besi Taji atau Minang yang dipasang ditanduk anak kerbau tadi merobek-robek perut induknya. Maka luka yang semakin membesar itu membuat kerbau besar tadi merasa kesakitan dan mencoba berlari kesana-kemari. Karena merasa kesakitan kerbau itu berlari ke arah bawah yang pada saat itu orang-orang berdatangan untuk menyaksikan adu kerbau itu seperti balai, makanya sampai saat ini sawah itu diberi nama Sawah Balai. Kerbau besar itu terus ke arah bawah berlari maka daerah itu diberi nama dengan sebutan Sawah Siambek, karena disana orang-orang menghalangi kerbau besar itu untuk berlari. Bergeser ke atasnya juga diberi nama Sawah Sepatu, karena di sawah itu banyak tertinggal sepadu orang-orang karena kejadian itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kerbau besar itu berlari mengunakan sepatu, yang diberi oleh orang Jawa itu. Mungkin sepatu yang dipakai kerbau itu terlepas disana dan juga ada yang berpendapat bahwa kerbau yang besar itu dipaga dengan ruyuang-ruyuang (bekas sisa dari pohon Enau yang sangat keras) mungkin itu sebabkan dinamakan Paga Ruyung atau Pagaruyung pada saat sekarang ini.
Kerbau yang besar itu masih tidak mampu dihentikan oleh orang-orang, maka kerbau besar itu tiba-tiba merasa bagak atau berani karena sakitnya semakin perih untuk melawan orang-orang yang ingin menangkapnya. Maka tempat itu dinamakan Polak Bagak tempat yang dilalui kerbau itu, bergeser lagi semakin kerbau itu berlari paruik panjangnya semakin keluar dan tertinggal, daerah itu disebut dengan Koto Panjang. Semakin kerbau itu berlari semua isi perutnya semakin tertinggal, maka daerah itu sekarang disebut dengan Simpuruik.
Akhirnya kerbau besar itu jatuh juga sendiri karena semakin parah dan luka yang sebagian isi perutnya sudah tercecer dijalan. Makanya tempat kerbau itu dikuliti dan jangek-nya diambil disebut dengan Sijangek. Maka pada saat itu terdengarnya terikan “Manang kabau...manang kabau..manang kabau.” Itulah nama Minangkabau yang kita kenal sekarang berasal dari sana, dan sudah di yakini sebagai asal muasal penamaan daerah ini sampai saat ini menjadi Minangkabau. Walaupun ada pendapat lain yang mengatakan dari besi yang dipasang ditanduk anak kerbau itu. Serta ada juga yang mengatakan dari banyaknya kerbau di ranah Minang, itu setiap berjalan malenggok yang disebut dengan istilah Minang maenang. Meanang itu seperti bergelombang dan juga tanah Minang ini seperti bergelombang dengan perbukitan, makanya disebut dengan meanang. Lama-kelamaan menjadi Minangkabau. Namun ada juga yang mengatakan bahwa dari banyaknya kerbau-kerbau di nagari Minangkabau ini pada masa dulu. Sedangkan ada juga yang berpendapat dari banyaknya pohon Pinang pada masa dulu yang konon katanya penyembutan huruf “P” dan “M” menjadi kurang fasih. Namun pihak pemerintah setempat sampai saat ini lebih percaya dengan kejadian adu kerbau tersebut karena ada bukti-bukti yang bisa dijadikanb referensi sampai saat ini. Karena pada saat itu belum dikenal dengan buku-buku untuk bisa menulis pada masa sekarang ini hanya cerita dari mulut ke mulut.
Setelah kejadian itu orang-orang Jawa itu mengaku kalah dengan kekalahan adu kerbau tersebut. Agar mereka dapat menyampaikan kekalahan dari tanah Minang ini, maka dibawalah tanduk kerbau besar itu setengahnya dan setengahnya lagi disimpan di Minangkabau sebagai bukti kejadian tersebut. Kira-kira panjang tanduk kerbau besar itu sekitar tiga meter (namun sampai saat ini tanduk itu masih ada di simpang pemandian Minangkabau di rumah gadang Dt. Mojo Basa. Karena tanduk itu sudah terlalu lama tanduk itu sekarang panjangnya sekitar 1,25 meter. Tanduk itu sudah seperti kayu yang keras pada saat ini).
Sebelum orang Jawa itu kembali ke tanah seberang, maka orang Minang menyuruh orang-orang Jawa ini untuk memakai kain dipinggang yang disebut dengan Bakodek (istilah orang Jawa) dan ikat kepala sampai saat ini menjadi tradisi dan kalau bersalaman menyurut atau mundur ke belakang seperti tanda kekalahannya pada orang Minangkabau. Sampai saat ini informasi tentang tanduk besi atau Taji yang dipasangkan di anak kerbau itu tidak ada beritanya dan tidak tahu seorangpun dimana keberadaan tanduk atau Taji tersebut. Serta siapa pemilik anak kerbau itu dan siapa pemilik dan membesarkan anak kerbau itu tidak dapat diketahui lagi dan hanya tanduk kerbau besar itulah yang dapat menjadi saksi kejayaan masyarakat Minangkabau dalam mengalahkan orang-orang Jawa tersebut.
Daerah Minangkabau ini tidak begitu diketahui orang yang mereka tahu hanyalah alam Minangkabau ini. Padahal ada kisah atau kejadian bersejarah dan terletak pada daerah Minangkabau ini. Daerah Minangkabau ini dibagi menjadi tiga jorong yaitu Jorong satu (Minang Jaya), Jorong dua (Badinah Murni), dan Jorong tiga (Singkaian). Dan juga Dt. Nan Tuo itu dikuburkan di Kuburan Panjang di Sadio dan ada juga yang mengatakan di Bukit Kayu Sebatang. Karena tidak terlalu diketahui orang secara pasti dan juga tidak ditemukan lagi Datuak itu. Tempat kuburannya hanyalah rumah atau dangau (pondok kecil di bukit).
Maka jika anda berkunjung ke daerah ini jangan lewatkan Nagari Minangkabau ini dan juga bukti peninggalan sejarah di rumah Gadang tersebut. Jangan hanya mendengarkan cerita-cerita yang tidak jelas karena hanya dapat merusak pemahaman kita tentang suatu hal. Akan lebih baik kita dapat mendengar langsung ceritanya dari orang-orang tuo atau niniak mamak kita yang masih hidup dan bukti tanduk kerbau itu disana dari mereka.
Referensi dialog langsung :
1. Alfani Hamdi, S.Sos. I.Ma (Wali Nagari Minangkabau)
2. Dt. Mojo Basa (pemelihara tanduk kerbau dari suku Chaniago)
3. Zulfahri (Ayah dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)
4. Afrida (Ibu dari Bapak Wali Nagari Minangkabau)
Gambar: Bukti Tanduk Kerbau kira-kira 1400 tahun yang lalu.
Gambar: Rumah Gadang Dt. Mojo Basa di Minangkabau.
Gambar: Kantor Wali Nagari Minangkabau.
Gambar: Tempat Adu Kerbau di Sawah Padang.
Irsal Husnur
Sumber=irsalhusnur10.blogspot.co.id
PADANG KOTA SURAT KABAR
Padang Kota Surat Kabar
Kota Padang, sejak zaman Hindia-Belanda terkenal dengan kota surat kabar. Hal ini dikarenakan banyaknya surat kabar yang terbit di kota ini, disamping penduduknya yang merupakan salah satu pembaca surat kabar tertinggi di Indonesia.
Sumatera Courant merupakan koran pertama yang terbit di Padang, bahkan Sumatera. Koran ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1859. Setelah itu kota Padang banyak menerbitkan koran-koran berbahasa Melayu maupun Belanda, diantaranya Padangsche Nieuws en Advertentieblad (17 Desember 1859) oleh R.H. Van Wijk Rz, Padangsche Handelsblad (1871) oleh H.J. Klitsch & Co, Bentara Melayu (1877) oleh Arnold Snackey, Pelita Kecil (1 Februari 1886) pimpinan Mahyuddin Datuk Sutan Marajo, Pertja Barat (1892) di bawah pimpinan Dja Endar Moeda, De Padanger (1900) oleh J. van Bosse, dan Warta Berita (1901), surat kabar berbahasa Indonesia pertama yang didirikan oleh Mahyuddin Datuk Sutan Marajo. Hingga saat ini kota Padang juga masih menjadi salah satu kota penerbitan surat kabar terbesar di Indonesia, diantara yang cukup terkenal adalah Haluan dan Singgalang.
Sumber=www.bujangrantau.id
Kota Padang, sejak zaman Hindia-Belanda terkenal dengan kota surat kabar. Hal ini dikarenakan banyaknya surat kabar yang terbit di kota ini, disamping penduduknya yang merupakan salah satu pembaca surat kabar tertinggi di Indonesia.
Sumatera Courant merupakan koran pertama yang terbit di Padang, bahkan Sumatera. Koran ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1859. Setelah itu kota Padang banyak menerbitkan koran-koran berbahasa Melayu maupun Belanda, diantaranya Padangsche Nieuws en Advertentieblad (17 Desember 1859) oleh R.H. Van Wijk Rz, Padangsche Handelsblad (1871) oleh H.J. Klitsch & Co, Bentara Melayu (1877) oleh Arnold Snackey, Pelita Kecil (1 Februari 1886) pimpinan Mahyuddin Datuk Sutan Marajo, Pertja Barat (1892) di bawah pimpinan Dja Endar Moeda, De Padanger (1900) oleh J. van Bosse, dan Warta Berita (1901), surat kabar berbahasa Indonesia pertama yang didirikan oleh Mahyuddin Datuk Sutan Marajo. Hingga saat ini kota Padang juga masih menjadi salah satu kota penerbitan surat kabar terbesar di Indonesia, diantara yang cukup terkenal adalah Haluan dan Singgalang.
Sumber=www.bujangrantau.id
SURAT KABAR PEREMPUAN INDONESIA, PERTAMA KALI TERBIT DI MINANGKABAU
Surat Kabar Perempuan Indonesia, Pertama Kali Terbit di Minangkabau
Dewi Nurbaiti (DNU)
munculnya pertama kali surat kabar pengemban suara kaum wanita. Dikatakan demikian karena para penggerak dan pelopor penerbitannya adalah para wanita, dan isi yang dikomunikasikan juga cenderung ditujukan bagi wanita.
Seperti kita ketahui bersama, dewasa ini telah banyak beredar surat kabar atau tabloid yang menyajikan “pembicaraan” khusus wanita, mulai dari usia muda belia hingga untuk ibu dan anak. Terkait hal tersebut karena melihat adanya kebutuhan khusus bagi kaum wanita untuk informasi-informasi tertentu yang berhubungan dengan aktifitas sehari-hari. Dan mungkin saja sejak zamah dahulu juga dirasakan hal yang sama, maka dirintislah media khusus wanita tersebut.
Surat kabar khusus wanita di Minangkabau yang terbit pertama kali bernama Soenting Melajoe, dan diterbitkan pada 10 Juli 1912. Hebatnya lagi, surat kabar Soenting Melajoe ini juga sekaligus sebagai surat kabar wanita pertama di Indonesia dan bertahan untuk terus beredar selama 10 tahun.
Surat kabar wanita lainnya yang juga terbit dan beredar di Minangkabau kala itu adalah Suara Perempuan. Media ini diterbitkan di Padang, Sumatera Barat pada tahun 1918.
Perbedaan kedua surat kabar tersebut yakni Soenting Melajoe dan Suara Perempuan terletak di sisi pembacanya. Untuk surat kabar Suara Perempuan lebih disukai para pelajar di sekolah-sekolah wanita, sedangkan Soenting Melajoe sebagian besar pembacanya adalah wanita-wanita usia dewasa.
Para penerbit surat kabar khusus wanita tersebut bisa dikatakan sebagai pejuang wanita yang bergerak melalui media informasi. Mereka tidak ingin wanita saat itu ketinggalan berita dan menjadi kaum yang terbelakang.
Inilah sejarah perkembangan pers yang boleh dipahami pergerakannya. Dan ternyata bukan hanya dari Jepara saja emansipasi wanita dimulai yang ketika itu digagas oleh RA Kartini, tapi di Sumatera Barat juga telah merintis hal yang sama. Lalu saat ini kaum wanita tinggal menikmati kesetaraan gender yang pernah diperjuangan salah satunya melalui terbitnya surat kabar khusus wanita, salah satunya adalah hak berpendidikan bagi kaum wanita terhadap pria.
Sumber=www.kompasiana.com
Dewi Nurbaiti (DNU)
munculnya pertama kali surat kabar pengemban suara kaum wanita. Dikatakan demikian karena para penggerak dan pelopor penerbitannya adalah para wanita, dan isi yang dikomunikasikan juga cenderung ditujukan bagi wanita.
Seperti kita ketahui bersama, dewasa ini telah banyak beredar surat kabar atau tabloid yang menyajikan “pembicaraan” khusus wanita, mulai dari usia muda belia hingga untuk ibu dan anak. Terkait hal tersebut karena melihat adanya kebutuhan khusus bagi kaum wanita untuk informasi-informasi tertentu yang berhubungan dengan aktifitas sehari-hari. Dan mungkin saja sejak zamah dahulu juga dirasakan hal yang sama, maka dirintislah media khusus wanita tersebut.
Surat kabar khusus wanita di Minangkabau yang terbit pertama kali bernama Soenting Melajoe, dan diterbitkan pada 10 Juli 1912. Hebatnya lagi, surat kabar Soenting Melajoe ini juga sekaligus sebagai surat kabar wanita pertama di Indonesia dan bertahan untuk terus beredar selama 10 tahun.
Surat kabar wanita lainnya yang juga terbit dan beredar di Minangkabau kala itu adalah Suara Perempuan. Media ini diterbitkan di Padang, Sumatera Barat pada tahun 1918.
Perbedaan kedua surat kabar tersebut yakni Soenting Melajoe dan Suara Perempuan terletak di sisi pembacanya. Untuk surat kabar Suara Perempuan lebih disukai para pelajar di sekolah-sekolah wanita, sedangkan Soenting Melajoe sebagian besar pembacanya adalah wanita-wanita usia dewasa.
Para penerbit surat kabar khusus wanita tersebut bisa dikatakan sebagai pejuang wanita yang bergerak melalui media informasi. Mereka tidak ingin wanita saat itu ketinggalan berita dan menjadi kaum yang terbelakang.
Inilah sejarah perkembangan pers yang boleh dipahami pergerakannya. Dan ternyata bukan hanya dari Jepara saja emansipasi wanita dimulai yang ketika itu digagas oleh RA Kartini, tapi di Sumatera Barat juga telah merintis hal yang sama. Lalu saat ini kaum wanita tinggal menikmati kesetaraan gender yang pernah diperjuangan salah satunya melalui terbitnya surat kabar khusus wanita, salah satunya adalah hak berpendidikan bagi kaum wanita terhadap pria.
Sumber=www.kompasiana.com
PANDANGAN BUYA HAMKA TENTANG SEJARAH RIAU
Pandangan Buya Hamka tentang Sejarah Riau
UNIVERSITAS Riau pada bulan Mei 1975 pernah menggelar seminar tentang Sejarah Riau. Salah satu pemakalah dalam seminar itu adalah Prof Dr H Abdul Malik Karim Amarullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka. Hamka adalah ulama legendaris, sastrawan dan peminta sejarah.
Lantas apa pandangan Hamka tentang sejarah Riau yang dikemukakan dalam seminar tersebut. Berikut isi makalah Hamka dalam seminar itu, yang dimuat dalam bukunya "Dari Perbendaharaan Lama":
Motto:
Terkenang Riau di zaman Jaya
Mata berlinang, hati terharu.
Sekarang Merdeka Indonesia Raya,
Riau mendapat semangat baru.
Akan saya mulai pandangan ini dengan dua ucapan terima kasih. Pertama, terima kasih pribadi karena diberi kehormatan untuk turut hadir sebagai peserta dalam Seminar Sejarah Riau ini. Karena kalau orang belum sepakat menganggap saya sebagai ahli sejarah, namun orang tidaklah akan keberatan menerima sebagai seorang peminat sejarah tanah air Indonesia tercinta ini, termasuk Sejarah Riau yang harus diakui telah mengambil peranan penting dalam perkembangan kita di masa lampau dan akan terus buat masa-masa yang akan datang.
Yang kedua, ialah kepada para sarjana Sejarah dari Universitas Riau yang telah menyusun Draft Sejarah Riau dengan rapi sekali, dengan hati-hati, sebagai suatu buah penemuan yang penuh kesabaran dan cinta, terdiri dari empat jilid. Terima kasih karena dia telah memudahkan para peminat dan sejarawan yang lain mengikuti seminar ini.
Dia telah memudahkan para peminat dan sejarawan yang mengikuti seminar. Dia telah memudahkan bagi para pembanding buat membantu menyisip mana yang patut disisipi dan menyiang mana yang patut disiangi. Draft susunan empat jilid buku ini bukanlah "tanduk kerbau mati", melainkan "gading yang bertuah" sehingga kelak kalau akan ada beberapa bandingan dari para ahli, tidak lain adalah karena memang bertuah gading ini.
”Tidaklah dia gading, kalau tidak ada retaknya." Dapat dipastikan bahwa kalau buku ini bukan "gading bertuah" janganlah membanding isinya, menengok saja pun orang belum tentu mau. Berani saya mengatakan bahwa ucapan terima kasih atas susunan buku ini bukan saja datang dari saya, bahkan juga dari pada ahli yang hadir dalam seminar ini.
Dari segi pembangunan bangsa, dari segi pembinaan sebuah bahasa yang sedang menanjak naik menjadi salah satu bahasa dunia, yaitu bahasa Indonesia, yang oleh saudara-saudara sedarah kita di Malaysia dinamai bahasa Kebangsaan, yang di dalam Kongres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954, telah dijelaskan bahwa Bahasa Indonesia adalah berdasar dan berasal dari bahasa Melayu.
Dari segi itu seminar ini pun sangat penting. Karena dari Riau inilah dahulunya datang apa yang disebut "Bahasa Melayu Riau", yang dijadikan bahasa persuratan, bahasa ilmu pengetahuan. Kita telah berpisah dengan saudara kita sedarah Malaysia, sejak dipisahkan oleh Raffles pada tahun 1819, namun kita belum pernah merasa berpisah dalam budaya. Kita tidak merasa berpisah dalam bahasa. Kita tidak pernah berpisah dalam agama yang dipeluk oleh golongan terbesar, yaitu agama Islam.
Thomas Carlyle, pujangga Inggris, pernah mengatakan. ”Amerika telah berpisah dengan kita. Namun bahasa selalu mempertemukan kita dengan Amerika. Satu waktu India pun akan lepas dari kita, namun bahasa Inggris akan selalu mengikat di antara kita dengan India.”
Begitulah pula saya berkata sekarang, dalam majelis seminar ini, di hadapan saudara-saudara kita yang datang sebagai peninjau (pemerhati) dari Singapura dan dari Malaysia, yaitu dari Johor, Malaka dan Kedah dan dari University of Malaya.
Mari mudikki sejarah ke hulu
Di mana tersekat lekas elakkan
Pusaka nenek yang dulu-dulu
Sama dibuhul, sama diikatkan.
Sebaris tiada yang lupa
Setitik tiada yang hilang
Yang diarah, yang dicita
Pegangan teguh malam dan siang.
Yaitu sejarah, bahasa dan budaya. Tidak Melayu hilang di dunia. Melayu tetap berseri, berpalun dan berpilin dalam jiwa kita, kita pupuk dalam Indonesia yang merdeka, kita pupuk dalam Malaysia yang merdeka!
Penting sekali menyelidiki Sejarah Riau ini dalam rangka penyelidikan Sejarah Tanah Air Indonesia. Dengan mempelajari Sejarah Riau, kita mendapat tambahan kekayaan untuk membina kepribadian kita sebagai bangsa. Di sini sangat banyak terdapat sisa kebesaran yang mesih kita gali.
Di sini banyak bertemu nama-nama kerajaan zaman lama. Sejak Pra-Sriwijaya, Sriwijaya, Darmawangsa, Pagarruyung, Temasik, Riau, Lingga, Kandis dan Kuantan, Indragiri, Siak Sri Inderapura, dan beberapa kerajaan yang lain.
Di sini pun kaya dengan nama-nama pahlawan Lama, dan pahlawan baru, yang akan jadi kebanggaan, yang akan dipesankan oleh nenek ke bapak, dari bapak ke anak, dari anak ke cucu.
Sejak Paduka Raja, Sultan Manaur Syah Malaka, Sultan Ahmad Syah bin Sultan Mahmud Syah, Sultan Mahmud Syah Marhum Kampar, Laksamana Hang Tuah dan lain-lain.
Di sini pun terdapat nama yang gemilang dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau, Marhum Syahid Fi Sabililah Teluk Ketapang, yang mencapai syahidnya dengan badik Bugis di tangan kanan, dan surat Dalailul Khairat Kitab shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di tangan kiri.
Di sini pun terdapat Pahlawan Pengembara lima bersaudara dari Bugis Tanah Luwuk. Keturunan Lamdu Salat, Payung di Luwuk, Sombaya di Goa, Maka-u di Bone dan Adatuang di Sidenreng.
Di sini pun terdapat Raja Kecil, petualang gagah perkasa yang di masa hidupya pernah mengharung laut Selat Malaka, merebut dan menguasai Johor, Riau, Lingga, Siak dan beberapa negeri di Pesisir Timur Pulau Sumatera. Yang mengakui dirinya anak yang sah dari Sultan Johor dan yang berhak atas tahta Johor, yang kemudian tetap menjadi Raja atas negeri Siak Sri Indrapura.
Di sini terdapat seorang Sarjana Islam yang besar, ahli sejarah dan bahasa, tempat bertanya dalam soal-soal hukum Agama. Raja Ali Haji, yang memancarkan sinar ilmu pengetahuan dari Pulau Penyengat.
Di sini terdapat Pakih Shaleh, Haji Muhammad Shaleh, yang disebut juga Harimau Rokan, disebut juga beliau di Dalu-Dalu, itulah Tuanku Tambusai, Pahlawan Paderi terakhir. Dan di sini, di zaman baru terdapat seorang Raja Melayu yang mula-mula sekali menyatakan kerajaannya menggabungkan diri ke dalam Republik Indonesia, sebagai sambutan Baginda atas Proklamasi 17 Agustus 1945.
Itu terjadi masih dalam bulan Oktober 1945. Dan beliau serahkan beserta pengangkuan penggabungan diri itu 13.000.000 (tiga belas juta Golden) kekayaan Baginda kepada Republik Indonesia untuk sokongan bagi perjuangan kemerdekaan. Itulah Yang Dipertuan Besar Sri Sultan Assayid Assyarif Hasyim Abduljalil Saifuddin Al Ba'alwiy, Sultan Siak Sri Indrapura Rantau jajahan takluknya yang bersemayam di dalam istana Al Hasyimiyah Almustanjid Billahi. (Begitulah gelar resmi Baginda ditulis dengan lengkap).
Di sini timbul seorang pemuda yang hanya mendapat didikan surau saja, bukan keluaran sekolah tinggi di Eropa atau salah satu sekolah kolonial. Pemuda itulah yang memimpin penaikkan bendera Merah Putih yang mula sekali di daerah Kampar, disokong oleh murid-muridnya yang bersedia syahid dalam menegakkan cita merdeka.
Yaitu Almarhum Ustadz Mahmud Marzuki. Ditangkap oleh Jepang, diinjak-injak dadanya dan dikirik-kirik dengan kaki, namun Sang Merah Putih tetap naik, Ustadz Mahmud Marzuki dapat melihat dengan rasa bahagia, meskipun tidak beberapa bulan di belakang itu beliau mendapat panggilan Tuhan karena dada yang telah remuk karena diinjak-injak itu.
Semuanya itu di sini, saudara-saudara, di Propinsi Riau yang sekarang, dalam Republik Indonesia yang Merdeka.
Di sini pula, terdapat suatu tempat yang sekarang telah tergabung ke dalam Propinsi Riau. Yaitu Candi Muara Takus! Di situlah apa yang ditulis oleh Sarjana F.M. Schniger Ph.D. dalam bukunya "The Forgotten Kingdom in Sumatera”.
Menurut susunan adat yang berjenjang naik, bertangga turun, jalan raya titian batu, yang sebaris tiada kan hilang, setitik tiadakan lupa, Muara Takus adalah termasuk dalam Luhak Limapuluh Koto, yang di zaman Belanda menjadi sebuah Onderafdeeling, ibukola negerinya Payakumbuh. Namun karena sekali air gedang, sekali tepian berubah, tergabunglah Lima Koto Bangkinang ke dalam Propinsi Riau yang sekarang dan lantaran itu terbawalah pula Muara Takus.
Maka dalam menggali sejarah Riau, dengan sendirinya Muara Takus menjadi obyek yang penting, menjadi buah selidik dan diskusi ahli-ahli sejarah di mana letak Sriwijaya lama itu, di Bukit Siguntang Maha Meru yang di Palembang kah, atau di Muara Takus inikah?
Teori Prof. Fatemi
Setelah saya turut pula membaca beberapa buku, dan khusus membaca tulisan analisa Prof. Fatemi dari Pakistan yang pernah menjadi profesor tetamu di University Malaya sekitar tahun 1960 yang dimuat dalam majalah ilmiah "Islamic Studian" yang terbit di Karachi pada bulan Maret 1962.
Menurut teori beliau, pusat Kerajaan Sriwijaya ialah Muara Takus. Beliau salin apa yang ditulis oleh pujangga Arab terkenal Al Jahizh dalam bukunya "Kitab al Hayawan" ketika membicarakan tentang Al-Fiil (gajah) dalam Fasal huruf Al-Faa.
Dikatakan bahwa Maharaja Hindi pernah berkirim surat kepada Khalif Mu'awiyah bin Abi Sufyan (Sahabat Rasulillah), pendiri Dinasti Bani Umayah dan berkirim surat pula kepada Umar bin Abdil 'Aziz dari Khalif Bani Umaiyah juga.
Dalam surat itu Maharaja menyebutkan alamat-alamat kebesaran atau urutan-urutan gelarnya, di antaranya bahwa baginda yang mempunyai kendaraan 1.000 ekor gajah, mempunyai dayang inang pengasuh di istana 1.000 puteri anak raja-raja yang bernaung di bawah payung panjinya. Baginda mengucap terima kasih atas jasa Khalifah Umar bin Abdil Aziz yang telah bersedia mengirimkan beberapa barang hadiah.
Menurut Fatemi, telah diselidikinya dengan seksama, maka di anak benua Hindi (India) sendiri tidaklah terdapat seorang Maharaja yang berkekayaan dan berkemegahan sebesar itu di waktu itu. Apatah lagi Baginda menyatakan bahwa negerinya kaya dengan emas.
Fatemi berpendapat bahwa Maharaja itu tentu tidak lain dari Maharaja Sriwijaya. Setelah diperbandingkannya dengan keterangan Schniger "The Forgotten Kingdom in Sumatera” itu dan hasil penyelidikan sarjana ini tentang Muara Takus, bagaimana berdekatannya dengan Gunung Suliki dan memang banyak gajah di sana di zaman dahulu, dan di Muara Takus itu sendiri pun terdapat pemandian gajah, condonglah beliau kepada kesimpulan tempat Sriwijaya ialah di Muara Takus. Di abad Hijriyah pertama sudah ada hubungan raja kerajaan tersebut dengan tanah Arab (Damaskus) dan ada keinginan hendak menyelidiki Islam, bahkan mungkin baginda sendiri telah Islam.
Kita tambahkan pula bahwa dalam rangka bekas candi sekarang, ditaksir memang ada dibuatkan patung gajah. Nampaknya gajah termasuk binatang sangat penting di masa itu. Lebih cenderung kita kepada pendapat Fatemi jika kita ingat dalam sejarah Islam sendiri, bahwa ketika Hajjaj bin Yusuf di zaman Khalif Abdul Malik bin Marwan, mengirim Pahlawan Muda Muhammad bin Qasim memasuki benua India yang disebut juga menurut nama sungainya.
Sungai Shindu, maka raja-raja di Hindustan yang negerinya dimasuki oleh pahlawan itu telah menyambut angkatan perang Islam itu dengan perang yang hangat, bukan dengan cara damai sebagaimana yang dilakukan oleh Maharaja Hindi yang disebutkan dalam karangan Al Jahizh ini.
Ini pun menambah berat pikiran bahwa Hindi di sini ialah Sriwijaya. Karena sejak zaman dahulu sampai sekarang ini, negeri kita ini masih disebut Hindi. Vietnam masih disebut Al Hindi Shiniyah, atau Indo China, dan di zaman dahulu dalam surat-surat orang Arab negeri kita disebut Aqshal Hind (Hindi yang jauh), bahkan kita sekarang pun masih menyebutnya Indo-Nesia, yang berarti Pulau-pulau Hindi. Bahkan orang Belanda pun menyebutkan "Mooie India" (Hindia yang Indah).
Sekarang tentang tahunnya. Tahun pengiriman surat itu disebut oleh Fatemi, menurut tahun Masehinya ialah 718, yang lama dengan tahun Hijriyah 75 Hijriyah. Artinya masih abad Hijriyah yang pertama. Kita ingat bahwa Nabi SAW hijrah ke Madinah tahun 622 dan Nabi wafat tahun 632 Masehi. Sebab itu memang tepat jika dikatakan bahwa di abad pertama Hijriyah, Islam telah datang ke negeri kita ini.
Sejarah Riau
Sekarang kita alihkan pembicaraan kepada pengkajian sejarah Riau. Pada hemat saya, di dalam mengkaji sejarah Riau seyogianyalah kita insafi bahwa bangsa Melayu Riau yang tulen, Melayu Riau yang sejati, atau yang disebut asli Melayu, payahlah mencari. Samalah dengan pepatah Melayu: "Mencari kutu dalam ijuk".
Mungkin yang asli Melayu hanya tinggal suku-suku terbelakang yang masih hidup di hutan, sebagai Talang Mamak dan orang Kubu. Adapun yang dinamai orang Melayu Riau, di zaman kebesaran imperium Melayu, sejak zaman Pasai, sampai zaman Malaka, sampai zaman Riau termasuk Johor, bernama Melayu bukanlah karena keaslian darah, melainkan karena telah lama tinggal di bawah naungan payung panji raja-raja Melayu.
Bahkan raja-raja itu sendiri pun banyak pula yang bukan asli Melayu, melainkan dirajakan oleh orang Melayu. Melayu Riau ialah berasal dari suku-suku Melayu seluruh kepulauan kita dan semenanjung kita yang kuat perkasa, yang suka mengembara mencari penghidupan.
Di mana yang manfaat, di sanalah mereka berdiam. Dengan dasar taat setia kepada raja-raja setempat. Mereka datang dari Malaka, dari Johor, dari seluruh semenanjung, dari Bugis, dari pulau Bawean, dari Minangkabau, dari Banjar, dari Kepulauan Sulu (Filipina sekarang).
Di dalam Tuhfat an-Nafis, Raja Ali Haji menulis bahwa di Tanjungbalai Pulau Karimun, pernah seorang Datuk yang datang dari Pulau Sulu jadi panglima laut. Juga dari orang Jawa! Juga orang Bajau!
Bertemu satu pantun; seorang perempuan dipermadukan oleh suaminya. Dia mengeluh karena suaminya itu sudah sangat lama tidak pulang ke rumahnya. Keluhannya diungkapkannya dalam satu pantun:
Terkembang layar perahu Bajau
Mudik di sungai Batang Hari
Bagai bintang kapur di kasau
Bilangan tuan tidak ke mari.
Arti yang terkandung di bagian kedua pantun itu ialah bahwa perempuan itu pemakan sirih. Tiap hari digoreskannya di kasau dengan kapur sirihnya (sadah) satu goresan. Lama-lama jadi banyak goresan itu, putih-putih sehingga laksana bintang layaknya. maka ketika suaminya yang telah lama pergi itu pulang kembali, diperlihatkannyalah goresan kapur sirih di kasau itu dan dipantunkannya pantun tersebut, menyesali suaminya.
Tetapi yang kita ambil ialah bait pertama pantun, yang membuktikan bahwa orang Bajau yang suka berlayar itu pernah juga mudik ke Hulu Jambi, memudiki sungai Batanghari, mungkin sampai ke Sungai Dareh. Dengan alasan pantun itu dapat kita buktikan bahwa orang Bajau pun salah satu unsur Melayu Riau. Karena tidaklah akan dikarang orang saja pantun berpangkal demikian, kalau tidak pernah kejadian.
Tentang orang Jawa pun demikian pula. Lama sebelum Majapahit mengembangkan sayapnya ke Malaka, di pulau Tumasik (Singapara) sendiri sudah terdapat banyak orang dari Jawa. Di zaman kebesaran Malaka tersebut bahwa orang Jawa banyak membuat kampung di Malaka.
Banyak juga Melayu peranakan Arab. Mereka telah banyak tersebut sejak berdirinya Kerajaan Pasai pertama, di zaman Al Malikush Shaleh. Mereka datang dari Mekkah dan Madinah, dan lebih banyak yang dari Hadramaut. Ke mari umumnya tidak membawa istri. Mereka kawin dengan penduduk yang ditempati.
Dengan segala hormat mereka diterima sebagai menantu. Lebih-lebih yang keturunan bangsa Sayid, yang disebut keturunan Rasulullah SAW. Raja-raja Melayu pula yang banyak menerima mereka jadi menantu. Kadang-kadang Raja tidak mempunyai keturunan laki-laki. Lalu dirajakan orang anak laki-laki dari anak perempuan raja. Anak itu berayah Arab tadi.
Si cucu itu naik takhta. Di Riau terkenal nama Sayid Muhammad Zain Al Qudsi, yang disebut juga Engku Kuning. Setelah habis keturunan Raja Kecil Sultan Abduljalil Rahmat Syah yang berhak jadi Raja, diangkat oranglah jadi Sultan Siak cucu beliau, bangsa Sayid dari keturunan Bin Syahab.
Bersamaan dengan itu dirajakan orang pula keturunan Alkadri di Pontianak. Jadi Raja pula di Pelalawan keturunan Bin Syahab. Di Perlis (Malaysia) dirajakan bangsa Sayid dari keturunan Jamalullail. Keturunan raja-raja Melayu bangsa Sayid itu kekal berkembang biak menjadi orang Melayu.
Itu sebabnya, maka dalam seminar kita ini kita dapati anggota seminar Melayu Riau, orang Indonesia sejati keturunan Arab. Seumpama Sayid Husin Al Qudsi, Sayid Mohammed Umar, Tengku Sayid Umar, Tengku Sayid Nasir, Tengku Sayid Arifin. Sebagai keturunan Raja-raja Melayu mereka memakai gelar Sayid.
Sahabat saya almarhum Engku Bot, yang di zaman sebelumnya perang menjadi Setia Usaha (Sekretaris) Sultan Siak, nama Malayunya Tengku Bot, nama Arabnya Sayid Muhsin bin Khalid bin Syahab.
Ada juga Melayu keturunan Keling. Yang disebut Keling di masa itu ialah yang berasal dari Negeri India, Pakistan dan Bangladesh dan Afghanistan sekarang ini. Dalam Sejarah Melayu, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ada juga menyebut bahwa orang-orang Kabul itupun banyak terdapat di Malaka. Melayu keturunan Keling itu sebelum Malaysia Merdeka terkenal disebut orang "Melayu Pekan".
Saya kemukakan ini semua supaya saudara-saudaraku di Riau jangan menyebut asli dan tidak asli. Dan berdasar kepada ini juga, saya minta ditinjau kembali keterangan bahwa penduduk kepulauan Riau sekarang ini ada disebut orang sutra Jawa, sutra Minangkabau, sutra Banjar dan sebagainya, yang tersebut dalam Draft Sejarah Riau hal. 45 terutama: tentang Minangkabau.
Oleh karena telah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Sejarah Riau ialah setelah Riau jadi Propinsi sekarang ini kurang enak dirasakan kalau pedagang yang datang dari daerah Sumatera Barat itu disebut dalam buku catatan ilmiah sebagai orang pedagang atau penduduk dari Minangkabau.
Lebih tepat kalau dikatakan penduduk yang berasal dari Sumatera Barat. Karena Kampar Kiri, Kampar Kanan, Rokan, bahkan Kuantan sampai ke batas Peranap, semua sampai sekarang masih mengakui beradat pusaka secara Minangkabau, baik Perpatih atau adat Temenggung (Koto Piliang atau Budi Caniago).
Kata-kata keempat sutra (yang berasal dari empat suku yang asal dari Pariangan Padang Panjang; Koto dan Piliang dan Budi dan Caniago, di nagari-nagari itu masih dipakai sampai sekarang), meskipun mereka sudah dalam Propinsi Riau.
Datuk-datuk yang menjadi pemimpin dari kemenakannya, masih tetap ada di Kuantan, di Kuok, Air Tiris, Bangkinang dan Siak ialah Minangkabau Timur ini, sejak Rokan, Kampar dan sekitar Sungai Siak. Jika kelihatan ahli-ahli Agama Islam itu, mereka dihormati dan disebut ”Orang Siak ", sampai sekarang.
Karena itu maka menurut Dr. Abdullah Ahmad, "Nenek moyang tuan-tuan dari Kampar”, daerah Rokan dan sekitar Sungai Siak sekarang inilah guru-guru nenek moyang kami. Yang meng-Islam-kan kami orang "Mudik", orang pedalaman Minangkabau.
Akhirnya saya sampaikan seruan kepada IAIN di Riau agar turut aktif memasak dan menggali sejarah di Riau ini. Karena melihat bahan-bahan dan bibliograf pembacaan Draft Sejarah Riau, masih banyaklah pengambilan dari buah tangan Belanda. Sumber Arab amat jarang, kecuali yang ditemui oleh sarjana Pakistan Prof. Fatemi tadi.
Dan kepada sarjana-sarjana angkatan muda di Riau, baik dari UNRI atau dari IAIN, saya serukan, janganlah diabaikan huruf pusaka kita, yaitu huruf Arab yang telah kita pakai, beratus tahun lamanya. Di Malaysia dia disebut huruf Jawi, sedang di Indonesia disebut huruf Melayu.
Kasihan huruf Pusaka Islam itu, Indonesia menolak ke Melayu, Malaysia menolak ke Jawa, akhirnya terbenam di Selat Malaka! Lalu karena Indonesia dan Malaysia telah merdeka dari penjajahan bangsa Barat, kita gantilah huruf pusaka penjajah. Dengan demikian jadi sukarlah kita menggali sumber kebudayaan nenek moyang kita yang tersimpan dalam huruf itu.
Sehingga ajaran Abdurrauf Singkel, Dr. Rinkes-lah yang menggalinya, Hamzah Fanasuri digali oleh Doorensbos, Syamsuddin Sumatri digali oleh Nuwenhuyze. Kita sendiri tidak sampai ke sumbernya, kalau tidak melalui apa yang disuguhkan oleh Sarjana-sarjana Barat itu.***
sumber: buku "Dari Perbendaharaan Lama" karya Hamka
Sumber=m.potretnews.com
UNIVERSITAS Riau pada bulan Mei 1975 pernah menggelar seminar tentang Sejarah Riau. Salah satu pemakalah dalam seminar itu adalah Prof Dr H Abdul Malik Karim Amarullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka. Hamka adalah ulama legendaris, sastrawan dan peminta sejarah.
Lantas apa pandangan Hamka tentang sejarah Riau yang dikemukakan dalam seminar tersebut. Berikut isi makalah Hamka dalam seminar itu, yang dimuat dalam bukunya "Dari Perbendaharaan Lama":
Motto:
Terkenang Riau di zaman Jaya
Mata berlinang, hati terharu.
Sekarang Merdeka Indonesia Raya,
Riau mendapat semangat baru.
Akan saya mulai pandangan ini dengan dua ucapan terima kasih. Pertama, terima kasih pribadi karena diberi kehormatan untuk turut hadir sebagai peserta dalam Seminar Sejarah Riau ini. Karena kalau orang belum sepakat menganggap saya sebagai ahli sejarah, namun orang tidaklah akan keberatan menerima sebagai seorang peminat sejarah tanah air Indonesia tercinta ini, termasuk Sejarah Riau yang harus diakui telah mengambil peranan penting dalam perkembangan kita di masa lampau dan akan terus buat masa-masa yang akan datang.
Yang kedua, ialah kepada para sarjana Sejarah dari Universitas Riau yang telah menyusun Draft Sejarah Riau dengan rapi sekali, dengan hati-hati, sebagai suatu buah penemuan yang penuh kesabaran dan cinta, terdiri dari empat jilid. Terima kasih karena dia telah memudahkan para peminat dan sejarawan yang lain mengikuti seminar ini.
Dia telah memudahkan para peminat dan sejarawan yang mengikuti seminar. Dia telah memudahkan bagi para pembanding buat membantu menyisip mana yang patut disisipi dan menyiang mana yang patut disiangi. Draft susunan empat jilid buku ini bukanlah "tanduk kerbau mati", melainkan "gading yang bertuah" sehingga kelak kalau akan ada beberapa bandingan dari para ahli, tidak lain adalah karena memang bertuah gading ini.
”Tidaklah dia gading, kalau tidak ada retaknya." Dapat dipastikan bahwa kalau buku ini bukan "gading bertuah" janganlah membanding isinya, menengok saja pun orang belum tentu mau. Berani saya mengatakan bahwa ucapan terima kasih atas susunan buku ini bukan saja datang dari saya, bahkan juga dari pada ahli yang hadir dalam seminar ini.
Dari segi pembangunan bangsa, dari segi pembinaan sebuah bahasa yang sedang menanjak naik menjadi salah satu bahasa dunia, yaitu bahasa Indonesia, yang oleh saudara-saudara sedarah kita di Malaysia dinamai bahasa Kebangsaan, yang di dalam Kongres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954, telah dijelaskan bahwa Bahasa Indonesia adalah berdasar dan berasal dari bahasa Melayu.
Dari segi itu seminar ini pun sangat penting. Karena dari Riau inilah dahulunya datang apa yang disebut "Bahasa Melayu Riau", yang dijadikan bahasa persuratan, bahasa ilmu pengetahuan. Kita telah berpisah dengan saudara kita sedarah Malaysia, sejak dipisahkan oleh Raffles pada tahun 1819, namun kita belum pernah merasa berpisah dalam budaya. Kita tidak merasa berpisah dalam bahasa. Kita tidak pernah berpisah dalam agama yang dipeluk oleh golongan terbesar, yaitu agama Islam.
Thomas Carlyle, pujangga Inggris, pernah mengatakan. ”Amerika telah berpisah dengan kita. Namun bahasa selalu mempertemukan kita dengan Amerika. Satu waktu India pun akan lepas dari kita, namun bahasa Inggris akan selalu mengikat di antara kita dengan India.”
Begitulah pula saya berkata sekarang, dalam majelis seminar ini, di hadapan saudara-saudara kita yang datang sebagai peninjau (pemerhati) dari Singapura dan dari Malaysia, yaitu dari Johor, Malaka dan Kedah dan dari University of Malaya.
Mari mudikki sejarah ke hulu
Di mana tersekat lekas elakkan
Pusaka nenek yang dulu-dulu
Sama dibuhul, sama diikatkan.
Sebaris tiada yang lupa
Setitik tiada yang hilang
Yang diarah, yang dicita
Pegangan teguh malam dan siang.
Yaitu sejarah, bahasa dan budaya. Tidak Melayu hilang di dunia. Melayu tetap berseri, berpalun dan berpilin dalam jiwa kita, kita pupuk dalam Indonesia yang merdeka, kita pupuk dalam Malaysia yang merdeka!
Penting sekali menyelidiki Sejarah Riau ini dalam rangka penyelidikan Sejarah Tanah Air Indonesia. Dengan mempelajari Sejarah Riau, kita mendapat tambahan kekayaan untuk membina kepribadian kita sebagai bangsa. Di sini sangat banyak terdapat sisa kebesaran yang mesih kita gali.
Di sini banyak bertemu nama-nama kerajaan zaman lama. Sejak Pra-Sriwijaya, Sriwijaya, Darmawangsa, Pagarruyung, Temasik, Riau, Lingga, Kandis dan Kuantan, Indragiri, Siak Sri Inderapura, dan beberapa kerajaan yang lain.
Di sini pun kaya dengan nama-nama pahlawan Lama, dan pahlawan baru, yang akan jadi kebanggaan, yang akan dipesankan oleh nenek ke bapak, dari bapak ke anak, dari anak ke cucu.
Sejak Paduka Raja, Sultan Manaur Syah Malaka, Sultan Ahmad Syah bin Sultan Mahmud Syah, Sultan Mahmud Syah Marhum Kampar, Laksamana Hang Tuah dan lain-lain.
Di sini pun terdapat nama yang gemilang dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau, Marhum Syahid Fi Sabililah Teluk Ketapang, yang mencapai syahidnya dengan badik Bugis di tangan kanan, dan surat Dalailul Khairat Kitab shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di tangan kiri.
Di sini pun terdapat Pahlawan Pengembara lima bersaudara dari Bugis Tanah Luwuk. Keturunan Lamdu Salat, Payung di Luwuk, Sombaya di Goa, Maka-u di Bone dan Adatuang di Sidenreng.
Di sini pun terdapat Raja Kecil, petualang gagah perkasa yang di masa hidupya pernah mengharung laut Selat Malaka, merebut dan menguasai Johor, Riau, Lingga, Siak dan beberapa negeri di Pesisir Timur Pulau Sumatera. Yang mengakui dirinya anak yang sah dari Sultan Johor dan yang berhak atas tahta Johor, yang kemudian tetap menjadi Raja atas negeri Siak Sri Indrapura.
Di sini terdapat seorang Sarjana Islam yang besar, ahli sejarah dan bahasa, tempat bertanya dalam soal-soal hukum Agama. Raja Ali Haji, yang memancarkan sinar ilmu pengetahuan dari Pulau Penyengat.
Di sini terdapat Pakih Shaleh, Haji Muhammad Shaleh, yang disebut juga Harimau Rokan, disebut juga beliau di Dalu-Dalu, itulah Tuanku Tambusai, Pahlawan Paderi terakhir. Dan di sini, di zaman baru terdapat seorang Raja Melayu yang mula-mula sekali menyatakan kerajaannya menggabungkan diri ke dalam Republik Indonesia, sebagai sambutan Baginda atas Proklamasi 17 Agustus 1945.
Itu terjadi masih dalam bulan Oktober 1945. Dan beliau serahkan beserta pengangkuan penggabungan diri itu 13.000.000 (tiga belas juta Golden) kekayaan Baginda kepada Republik Indonesia untuk sokongan bagi perjuangan kemerdekaan. Itulah Yang Dipertuan Besar Sri Sultan Assayid Assyarif Hasyim Abduljalil Saifuddin Al Ba'alwiy, Sultan Siak Sri Indrapura Rantau jajahan takluknya yang bersemayam di dalam istana Al Hasyimiyah Almustanjid Billahi. (Begitulah gelar resmi Baginda ditulis dengan lengkap).
Di sini timbul seorang pemuda yang hanya mendapat didikan surau saja, bukan keluaran sekolah tinggi di Eropa atau salah satu sekolah kolonial. Pemuda itulah yang memimpin penaikkan bendera Merah Putih yang mula sekali di daerah Kampar, disokong oleh murid-muridnya yang bersedia syahid dalam menegakkan cita merdeka.
Yaitu Almarhum Ustadz Mahmud Marzuki. Ditangkap oleh Jepang, diinjak-injak dadanya dan dikirik-kirik dengan kaki, namun Sang Merah Putih tetap naik, Ustadz Mahmud Marzuki dapat melihat dengan rasa bahagia, meskipun tidak beberapa bulan di belakang itu beliau mendapat panggilan Tuhan karena dada yang telah remuk karena diinjak-injak itu.
Semuanya itu di sini, saudara-saudara, di Propinsi Riau yang sekarang, dalam Republik Indonesia yang Merdeka.
Di sini pula, terdapat suatu tempat yang sekarang telah tergabung ke dalam Propinsi Riau. Yaitu Candi Muara Takus! Di situlah apa yang ditulis oleh Sarjana F.M. Schniger Ph.D. dalam bukunya "The Forgotten Kingdom in Sumatera”.
Menurut susunan adat yang berjenjang naik, bertangga turun, jalan raya titian batu, yang sebaris tiada kan hilang, setitik tiadakan lupa, Muara Takus adalah termasuk dalam Luhak Limapuluh Koto, yang di zaman Belanda menjadi sebuah Onderafdeeling, ibukola negerinya Payakumbuh. Namun karena sekali air gedang, sekali tepian berubah, tergabunglah Lima Koto Bangkinang ke dalam Propinsi Riau yang sekarang dan lantaran itu terbawalah pula Muara Takus.
Maka dalam menggali sejarah Riau, dengan sendirinya Muara Takus menjadi obyek yang penting, menjadi buah selidik dan diskusi ahli-ahli sejarah di mana letak Sriwijaya lama itu, di Bukit Siguntang Maha Meru yang di Palembang kah, atau di Muara Takus inikah?
Teori Prof. Fatemi
Setelah saya turut pula membaca beberapa buku, dan khusus membaca tulisan analisa Prof. Fatemi dari Pakistan yang pernah menjadi profesor tetamu di University Malaya sekitar tahun 1960 yang dimuat dalam majalah ilmiah "Islamic Studian" yang terbit di Karachi pada bulan Maret 1962.
Menurut teori beliau, pusat Kerajaan Sriwijaya ialah Muara Takus. Beliau salin apa yang ditulis oleh pujangga Arab terkenal Al Jahizh dalam bukunya "Kitab al Hayawan" ketika membicarakan tentang Al-Fiil (gajah) dalam Fasal huruf Al-Faa.
Dikatakan bahwa Maharaja Hindi pernah berkirim surat kepada Khalif Mu'awiyah bin Abi Sufyan (Sahabat Rasulillah), pendiri Dinasti Bani Umayah dan berkirim surat pula kepada Umar bin Abdil 'Aziz dari Khalif Bani Umaiyah juga.
Dalam surat itu Maharaja menyebutkan alamat-alamat kebesaran atau urutan-urutan gelarnya, di antaranya bahwa baginda yang mempunyai kendaraan 1.000 ekor gajah, mempunyai dayang inang pengasuh di istana 1.000 puteri anak raja-raja yang bernaung di bawah payung panjinya. Baginda mengucap terima kasih atas jasa Khalifah Umar bin Abdil Aziz yang telah bersedia mengirimkan beberapa barang hadiah.
Menurut Fatemi, telah diselidikinya dengan seksama, maka di anak benua Hindi (India) sendiri tidaklah terdapat seorang Maharaja yang berkekayaan dan berkemegahan sebesar itu di waktu itu. Apatah lagi Baginda menyatakan bahwa negerinya kaya dengan emas.
Fatemi berpendapat bahwa Maharaja itu tentu tidak lain dari Maharaja Sriwijaya. Setelah diperbandingkannya dengan keterangan Schniger "The Forgotten Kingdom in Sumatera” itu dan hasil penyelidikan sarjana ini tentang Muara Takus, bagaimana berdekatannya dengan Gunung Suliki dan memang banyak gajah di sana di zaman dahulu, dan di Muara Takus itu sendiri pun terdapat pemandian gajah, condonglah beliau kepada kesimpulan tempat Sriwijaya ialah di Muara Takus. Di abad Hijriyah pertama sudah ada hubungan raja kerajaan tersebut dengan tanah Arab (Damaskus) dan ada keinginan hendak menyelidiki Islam, bahkan mungkin baginda sendiri telah Islam.
Kita tambahkan pula bahwa dalam rangka bekas candi sekarang, ditaksir memang ada dibuatkan patung gajah. Nampaknya gajah termasuk binatang sangat penting di masa itu. Lebih cenderung kita kepada pendapat Fatemi jika kita ingat dalam sejarah Islam sendiri, bahwa ketika Hajjaj bin Yusuf di zaman Khalif Abdul Malik bin Marwan, mengirim Pahlawan Muda Muhammad bin Qasim memasuki benua India yang disebut juga menurut nama sungainya.
Sungai Shindu, maka raja-raja di Hindustan yang negerinya dimasuki oleh pahlawan itu telah menyambut angkatan perang Islam itu dengan perang yang hangat, bukan dengan cara damai sebagaimana yang dilakukan oleh Maharaja Hindi yang disebutkan dalam karangan Al Jahizh ini.
Ini pun menambah berat pikiran bahwa Hindi di sini ialah Sriwijaya. Karena sejak zaman dahulu sampai sekarang ini, negeri kita ini masih disebut Hindi. Vietnam masih disebut Al Hindi Shiniyah, atau Indo China, dan di zaman dahulu dalam surat-surat orang Arab negeri kita disebut Aqshal Hind (Hindi yang jauh), bahkan kita sekarang pun masih menyebutnya Indo-Nesia, yang berarti Pulau-pulau Hindi. Bahkan orang Belanda pun menyebutkan "Mooie India" (Hindia yang Indah).
Sekarang tentang tahunnya. Tahun pengiriman surat itu disebut oleh Fatemi, menurut tahun Masehinya ialah 718, yang lama dengan tahun Hijriyah 75 Hijriyah. Artinya masih abad Hijriyah yang pertama. Kita ingat bahwa Nabi SAW hijrah ke Madinah tahun 622 dan Nabi wafat tahun 632 Masehi. Sebab itu memang tepat jika dikatakan bahwa di abad pertama Hijriyah, Islam telah datang ke negeri kita ini.
Sejarah Riau
Sekarang kita alihkan pembicaraan kepada pengkajian sejarah Riau. Pada hemat saya, di dalam mengkaji sejarah Riau seyogianyalah kita insafi bahwa bangsa Melayu Riau yang tulen, Melayu Riau yang sejati, atau yang disebut asli Melayu, payahlah mencari. Samalah dengan pepatah Melayu: "Mencari kutu dalam ijuk".
Mungkin yang asli Melayu hanya tinggal suku-suku terbelakang yang masih hidup di hutan, sebagai Talang Mamak dan orang Kubu. Adapun yang dinamai orang Melayu Riau, di zaman kebesaran imperium Melayu, sejak zaman Pasai, sampai zaman Malaka, sampai zaman Riau termasuk Johor, bernama Melayu bukanlah karena keaslian darah, melainkan karena telah lama tinggal di bawah naungan payung panji raja-raja Melayu.
Bahkan raja-raja itu sendiri pun banyak pula yang bukan asli Melayu, melainkan dirajakan oleh orang Melayu. Melayu Riau ialah berasal dari suku-suku Melayu seluruh kepulauan kita dan semenanjung kita yang kuat perkasa, yang suka mengembara mencari penghidupan.
Di mana yang manfaat, di sanalah mereka berdiam. Dengan dasar taat setia kepada raja-raja setempat. Mereka datang dari Malaka, dari Johor, dari seluruh semenanjung, dari Bugis, dari pulau Bawean, dari Minangkabau, dari Banjar, dari Kepulauan Sulu (Filipina sekarang).
Di dalam Tuhfat an-Nafis, Raja Ali Haji menulis bahwa di Tanjungbalai Pulau Karimun, pernah seorang Datuk yang datang dari Pulau Sulu jadi panglima laut. Juga dari orang Jawa! Juga orang Bajau!
Bertemu satu pantun; seorang perempuan dipermadukan oleh suaminya. Dia mengeluh karena suaminya itu sudah sangat lama tidak pulang ke rumahnya. Keluhannya diungkapkannya dalam satu pantun:
Terkembang layar perahu Bajau
Mudik di sungai Batang Hari
Bagai bintang kapur di kasau
Bilangan tuan tidak ke mari.
Arti yang terkandung di bagian kedua pantun itu ialah bahwa perempuan itu pemakan sirih. Tiap hari digoreskannya di kasau dengan kapur sirihnya (sadah) satu goresan. Lama-lama jadi banyak goresan itu, putih-putih sehingga laksana bintang layaknya. maka ketika suaminya yang telah lama pergi itu pulang kembali, diperlihatkannyalah goresan kapur sirih di kasau itu dan dipantunkannya pantun tersebut, menyesali suaminya.
Tetapi yang kita ambil ialah bait pertama pantun, yang membuktikan bahwa orang Bajau yang suka berlayar itu pernah juga mudik ke Hulu Jambi, memudiki sungai Batanghari, mungkin sampai ke Sungai Dareh. Dengan alasan pantun itu dapat kita buktikan bahwa orang Bajau pun salah satu unsur Melayu Riau. Karena tidaklah akan dikarang orang saja pantun berpangkal demikian, kalau tidak pernah kejadian.
Tentang orang Jawa pun demikian pula. Lama sebelum Majapahit mengembangkan sayapnya ke Malaka, di pulau Tumasik (Singapara) sendiri sudah terdapat banyak orang dari Jawa. Di zaman kebesaran Malaka tersebut bahwa orang Jawa banyak membuat kampung di Malaka.
Banyak juga Melayu peranakan Arab. Mereka telah banyak tersebut sejak berdirinya Kerajaan Pasai pertama, di zaman Al Malikush Shaleh. Mereka datang dari Mekkah dan Madinah, dan lebih banyak yang dari Hadramaut. Ke mari umumnya tidak membawa istri. Mereka kawin dengan penduduk yang ditempati.
Dengan segala hormat mereka diterima sebagai menantu. Lebih-lebih yang keturunan bangsa Sayid, yang disebut keturunan Rasulullah SAW. Raja-raja Melayu pula yang banyak menerima mereka jadi menantu. Kadang-kadang Raja tidak mempunyai keturunan laki-laki. Lalu dirajakan orang anak laki-laki dari anak perempuan raja. Anak itu berayah Arab tadi.
Si cucu itu naik takhta. Di Riau terkenal nama Sayid Muhammad Zain Al Qudsi, yang disebut juga Engku Kuning. Setelah habis keturunan Raja Kecil Sultan Abduljalil Rahmat Syah yang berhak jadi Raja, diangkat oranglah jadi Sultan Siak cucu beliau, bangsa Sayid dari keturunan Bin Syahab.
Bersamaan dengan itu dirajakan orang pula keturunan Alkadri di Pontianak. Jadi Raja pula di Pelalawan keturunan Bin Syahab. Di Perlis (Malaysia) dirajakan bangsa Sayid dari keturunan Jamalullail. Keturunan raja-raja Melayu bangsa Sayid itu kekal berkembang biak menjadi orang Melayu.
Itu sebabnya, maka dalam seminar kita ini kita dapati anggota seminar Melayu Riau, orang Indonesia sejati keturunan Arab. Seumpama Sayid Husin Al Qudsi, Sayid Mohammed Umar, Tengku Sayid Umar, Tengku Sayid Nasir, Tengku Sayid Arifin. Sebagai keturunan Raja-raja Melayu mereka memakai gelar Sayid.
Sahabat saya almarhum Engku Bot, yang di zaman sebelumnya perang menjadi Setia Usaha (Sekretaris) Sultan Siak, nama Malayunya Tengku Bot, nama Arabnya Sayid Muhsin bin Khalid bin Syahab.
Ada juga Melayu keturunan Keling. Yang disebut Keling di masa itu ialah yang berasal dari Negeri India, Pakistan dan Bangladesh dan Afghanistan sekarang ini. Dalam Sejarah Melayu, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi ada juga menyebut bahwa orang-orang Kabul itupun banyak terdapat di Malaka. Melayu keturunan Keling itu sebelum Malaysia Merdeka terkenal disebut orang "Melayu Pekan".
Saya kemukakan ini semua supaya saudara-saudaraku di Riau jangan menyebut asli dan tidak asli. Dan berdasar kepada ini juga, saya minta ditinjau kembali keterangan bahwa penduduk kepulauan Riau sekarang ini ada disebut orang sutra Jawa, sutra Minangkabau, sutra Banjar dan sebagainya, yang tersebut dalam Draft Sejarah Riau hal. 45 terutama: tentang Minangkabau.
Oleh karena telah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Sejarah Riau ialah setelah Riau jadi Propinsi sekarang ini kurang enak dirasakan kalau pedagang yang datang dari daerah Sumatera Barat itu disebut dalam buku catatan ilmiah sebagai orang pedagang atau penduduk dari Minangkabau.
Lebih tepat kalau dikatakan penduduk yang berasal dari Sumatera Barat. Karena Kampar Kiri, Kampar Kanan, Rokan, bahkan Kuantan sampai ke batas Peranap, semua sampai sekarang masih mengakui beradat pusaka secara Minangkabau, baik Perpatih atau adat Temenggung (Koto Piliang atau Budi Caniago).
Kata-kata keempat sutra (yang berasal dari empat suku yang asal dari Pariangan Padang Panjang; Koto dan Piliang dan Budi dan Caniago, di nagari-nagari itu masih dipakai sampai sekarang), meskipun mereka sudah dalam Propinsi Riau.
Datuk-datuk yang menjadi pemimpin dari kemenakannya, masih tetap ada di Kuantan, di Kuok, Air Tiris, Bangkinang dan Siak ialah Minangkabau Timur ini, sejak Rokan, Kampar dan sekitar Sungai Siak. Jika kelihatan ahli-ahli Agama Islam itu, mereka dihormati dan disebut ”Orang Siak ", sampai sekarang.
Karena itu maka menurut Dr. Abdullah Ahmad, "Nenek moyang tuan-tuan dari Kampar”, daerah Rokan dan sekitar Sungai Siak sekarang inilah guru-guru nenek moyang kami. Yang meng-Islam-kan kami orang "Mudik", orang pedalaman Minangkabau.
Akhirnya saya sampaikan seruan kepada IAIN di Riau agar turut aktif memasak dan menggali sejarah di Riau ini. Karena melihat bahan-bahan dan bibliograf pembacaan Draft Sejarah Riau, masih banyaklah pengambilan dari buah tangan Belanda. Sumber Arab amat jarang, kecuali yang ditemui oleh sarjana Pakistan Prof. Fatemi tadi.
Dan kepada sarjana-sarjana angkatan muda di Riau, baik dari UNRI atau dari IAIN, saya serukan, janganlah diabaikan huruf pusaka kita, yaitu huruf Arab yang telah kita pakai, beratus tahun lamanya. Di Malaysia dia disebut huruf Jawi, sedang di Indonesia disebut huruf Melayu.
Kasihan huruf Pusaka Islam itu, Indonesia menolak ke Melayu, Malaysia menolak ke Jawa, akhirnya terbenam di Selat Malaka! Lalu karena Indonesia dan Malaysia telah merdeka dari penjajahan bangsa Barat, kita gantilah huruf pusaka penjajah. Dengan demikian jadi sukarlah kita menggali sumber kebudayaan nenek moyang kita yang tersimpan dalam huruf itu.
Sehingga ajaran Abdurrauf Singkel, Dr. Rinkes-lah yang menggalinya, Hamzah Fanasuri digali oleh Doorensbos, Syamsuddin Sumatri digali oleh Nuwenhuyze. Kita sendiri tidak sampai ke sumbernya, kalau tidak melalui apa yang disuguhkan oleh Sarjana-sarjana Barat itu.***
sumber: buku "Dari Perbendaharaan Lama" karya Hamka
Sumber=m.potretnews.com
Langganan:
Postingan (Atom)